NU yang lahir tahun 1926 itu didirikan kalangan muda dari para ulama kita yang rata-rata murid Syekhona Cholil Bangkalan. Mereka terpanggil untuk menyatukan gerak membangun bangsa ini dan menyatukan umat dalam ajaran Ahlussnnah wal jamaah (Aswaja).
Karena saat itu mulai muncul gesekan ukhuwah dengan munculnya ajaran Wahabi. Mereka ingin mempertahankan warisan Wali Songo dalam bentuk ajaran Aswaja.
NU yang bermakna Kebangkitan Ulama itu diprakarsai kalangan ulama muda di masanya. Tengok, KH. M. Hasyim Asy’ari masih berusiai 53 tahun. Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang itu diangap penerus trah Syekhona Cholil. Ia diangkat sebagai Rais Akbar pertama dan yang terakhir. Jabatan itu tak pernah ada karena penggantinya tak sanggup mengemban jabatan yang ditinggalkan Mbah Hasyim.
KH. Abdul Wahab Hasbullah sang inspirator NU saat itu masih berusia 38 tahun. Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang itu dikenal orator, juru debat, ahli strategi dan politik. Ia katib Am pertama dan dianggap otaknya NU karena kelincahan dan kemahirannya melobi. Penyelenggara berdirinya NU 31 Januari 1926 di kediamannya, Kertopaten Surabaya.
KH. Bisri Syansuri, 40 tahun. Pendiri Pesantren Denanyar Jombang. Ahli fiqih, disiplin, teguh orinsip dan organisatoris. Ipar Kiai Wahab ini penggagas inti dan penjaga manhaj Aswaja. Ia dianggap penghubung kiai sepuh dan kiai muda.
KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, sekitar 33 tahun saat NU berdiri. Murid kesayangan Syaikhona Cholil itu dianggap pembawa amanah tongkat dan ayat dari Bangkalan ke KH. Hasyim di Jombang tahun 1925. Dikenal sebagai “Singa Pondok”.
KH. Ridwan Abdullah, Surabaya, 35 tahun, bendahara NU pertama. Ahli ekonomi umat. Penggerak Komite Hijaz di Surabaya. KH. Ma’shum, Lasem, Rembang, 56 tahun. Ayah KH Ali Ma’shum itu terkenal gigih memperjuangkan NU di Jawa Tengah. Keturunan Raja Minangkabau ini terkenal ahli tafsir dan fikih. KH. Nawawi, Pasuruan, 36 tahun dikenal penggerak Lajnah Diniyah dan Pendidikan NU.
Rata-rata usia mereka 28-53 tahun pada 1926. Masih muda, tapi sudah memimpin ribuan santri. Makanya Muktamar I disebut “Kebangkitan Ulama Muda”.
Syaikhona KH. Muhammad Cholil Bangkalan menjelang wafat berpesan kepada KH. As’ad: “Sampaikan tongkat dan ayat ini kepada Hasyim. Katakan, saatnya mendirikan jam’iyyah untuk menjaga Aswaja.”
Sejak itu, di Pesantren Tebuireng, KH. Hasyim mengumpulkan KH. Wahab, KH. Bisri, KH. As’ad dan beberapa kyai untuk musyawarah awal. Membahas ancaman Wahabi di Hijaz dan kondisi umat di Hindia Belanda.
Di rumah KH. Wahab, Kertopaten Surabaya, 42 kiai se-Nusantara berkumpul. Hasilnya, memenatapkan nama “Nahdlatul Ulama” sebagai wadah perkumpulan mereka. Qanun Asasi yang dianggap anggaran darat pertama ditandatangani.
Maha guru ulama Indonsia setelah terbukanya dunia cetak mencetak pada abad 18 adalah Syekh Arsyad Banjar, Syekh Abdushamad Palembang dan Syekh Abdurrahman Al-Misri Al-Batawi. Dengan semakin terbuka dunia pengetahuan Islam, maka muncullah guru-guru ulama Nusantara; KH Nawi Banten, KH Saleh Darat dan Syekhona Cholil Bangkalan, yang secara usia hampir sebaya.
Kiai Sholeh Darat adalah guru pertama yang mengajar di Indonesia pada pertengahan abad 19. Ia memiliki jaringan guru yang luas, baik di Nusantara maupun di Mekkah. Gurunya di tanah Jawa meliputi ayahnya sendiri, Kiai Umar, KH Muhammad Syahid (Kajen, Pati), KH Raden Haji Muhammad Salih (Kudus), dan Kiai Ishak (Damaran, Semarang). Selama menimba ilmu di Mekkah, ia berguru kepada ulama-ulama besar Haramain, di antaranya: Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Muhammad al-Muqri, Syekh Ahmad Nahrawi, dan lainnya.
Mbah Sholeh Darat kemudian menjadi mahaguru bagi para tokoh besar bangsa, seperti pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, serta pelopor emansipasi RA Kartini. Juga Syekh Mahfudz Termas, Syekh Dimyati dan Syekh Dahlan (trio ulama Termas) menjadi murid kesayangan Kiai Sholeh. Bahkan, Syekh Dahlan kemudian menjadi menantunya.
Beberapa ulama Indonesia yang sempat belajar di Mekah dan Madinah ia akan berjumpa dan mengaji kepada Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Termas. Kiai Sholeh darat sudah kembali ke Semarang pertengahan abad 19. Karena itu bagi mereka yang bersanad ilmu kepada Syekh Nawawi dan Syekh Mahfudz setidaknya pernah di Mekah atau belajar pada murid Syekh Nawawi danj Syekh Mahfud yang telah kembali ke Indonesia.
Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), berguru kepada Syekh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafi’i (w. 1310 H/1892 M) pengarang I’anatuth Thalibin. Syekh Mahfud juga berguru kepada Syekh As-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), yang berguru kepada Syekh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dan dari Syekh Muhammad bin Ali Asy-Syanwani Asy-Syafi’i (w. 1233 H/1818 M) yang berguru kepada Syekh Isa bin Ahmad Al-Barawi Az-Zubairi Asy-Syafi’i (w. 1182 H/1768 M).
Syekh Isa adalah murid dari Syekh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Ad-Dafari Asy-Syafi’i (wafat setelah 1161 H), dari gurunya Syekh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafi’i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya Syekh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya Syekh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili asy-Syafi’i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya Syekh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya Syekh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya Syekh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Imam Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M).
Imam Zakaria adalah murid Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafi’i al-‘Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), yang berguru kepada Syekh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya Syekh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M) pengarang tafsir Al-Kabir (Mafatihul Ghayb).
Ia berguru kepada Imam Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya Syekh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M) yang dikenal guru Imam Ghazali.
Al-Juwaini berguru kepada imam Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (wafat 452 H/1034 M), dari gurunya Ruknuddin Imam Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya Syekh al-Mutakallimin Imam Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya Syekh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270), dari gurunya Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’ (w. 204), dari gurunya Imam Malik bin Anas, dari gurunya, Imam Nafi’, dari gurunya Sahabat Sayyidina Abdullah bin Umar, dari Rasulillah Sayyidina Muhammad SAW.
Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asy’ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabi’ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafi’i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asy’ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah.
Dalam hal pengajaran Al-Maturidi, hampir memiliki jalur sama yang terpisah pada guru Imam Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafi’i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asy’ari asy-Syafi’i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya Burhanuddin Abu al-‘Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M).
Dari sini menyatu kembali pada Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya imam Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya Syekh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya Syekh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
Tentu belum lagi dari sisi sanad KH Nawawi Banten dan Syekhona Cholil Bangkalan, yang hampir memiliki kemiripan karena guru-gurunya selama di Mekah adalah guru-guru yang terpandang luas di kota kelahiran Islam itu. Para ulama itu berguru tidak hanya satu mazhab. Bahkan banyak juga yang beguru kepada Syekh Ali bin Husein Al-Maliki, mufti mazhab Maliki pengarang Inaratud Duja, fikih Syafi’i. (*)