Memilih Seorang Pemimpin

0

Bashara dan ratusan warga Yahudi mulai meninggalkan Palestina menuju Babel. Mereka pergi setelah hari Sabbat, terik panas pagi hari Ahad. Paceklik hebat yang berkepanjangan yang dialami Palestina membuat mereka pindah mencari tanah yang lebih baik. Sebagian ke Selatan, Mesir dengan sungai Nil dan sebagian ke Timur, Babel yang terkenal subur dengan sungai Dajlah (Tigris).

Daya tarik Babel adalah seorang raja yang masih keturunan Nabi Luth, yang juga seorang nabi bernama Ilyasa. Disebut juga Nabi Elisa atau Raja Eliseus dan hidup sekitar tahun 885-795 SM. Ia adalah seorang nabi yang tertera dalam kitab Al-Quran dan juga dianggap nabi umat Yahudi dan Kristen. Ia mendapat wahyu pada tahun 830 SM dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan orang-orang Amoria di daerah Panyas, Syam.

Raja Ilyasa adalah keturunan keempat Nabi Luth dan anak angkat Nabi Ilyas. Ketika pemuda Ilyasa sakit, Nabi Ilyas mendoakan serta mengobatinya hingga sembuh. Setelah sembuh ia menjadi pengikut setia dan dianggap anaknya sendiri.

Ilyasa kemudian menjadi raja di Babel. Ia dikenal sebagai raja yang adil pada sebuah negeri yang makmur dengan hasil bumi dan tambang yang melimpah. Negeri Babel menjadi negeri kaya dibawah pimpinan sorang nabi. Rakyatnya hidup sejahtera dan senantiasa taat beragama di bawah bimbingan sang nabi.

Kedatangan rombongan Yahudi Palestina itu disambut baik oleh Raja Ilyasa dan rakyatnya. Tenda –tenda disiapkan dan masyarakat Babel menyiapkan makanan untuk mereka. Sekitar 200 pendatang Yahudi itu disambut bak keluarga oleh warga Babel. Warga Babel yang makmur itu menyisihkan sebagian dananya untuk kedatangan mereka. Mereka juga sama beriman kepada Allah SWT.

Bashara (dalam catatan An-Nisaburi ia disebut sebagi anak Nabi Ayub) cepat menjadi terkenal di Babel. Dia bukan saja laki-laki yang tampan tapi suka membantu sesama. Ia banyak menjadi sebutan warga Babel sebagai orang yang berakhlak mulia. Banyak orang percaya kepadanya sehingga banyak yang memercayakan perdagangan kepada Bashara. Perlahan kemudian Bashara sudah menjadi pedagang yang menonjol di Babel dan sudah mempekerjakan beberapa orang.

Raja Ilyasa sebenarnya sudah berusia lanjut, di atas 86 tahun. Allah tidak mengaruniainya anak sebagai pengganti . Ia setiap malam berdoa untuk bisa mendapatkan pengganti dan penerus untuk memimpin rakyat Babel, terutama dalam keimanannya.

Ia memanggil para menteri dan jenderalnya untuk mencari penerus. Para menteri dan para jenderal mengusukan agar dibuat semacam lomba untuk mencari sang penerus. Ada yang mengusulkan lomba memanah, lomba berkuda, lomba ketahanan di ruangan terbuka dan lain sebagainya.

 

Mencari Pemimpin

Raja Ilyasa setuju. Tapi, dalam hati ia tak setuju dengan lomba-lomba itu. Ia memiliki cara sendiri yang dirahasiakan. Tinggal menentukan hari dan tempatnya.

Maka kemudian diumumkan agar semua penduduk Babel datang pada undangan raja, tak terkecuali warga Yahudi. Raja Ilyasa menghadap mereka. Ia dipapah dua orang pengawalnya. Ia didampingi permaisuri yang tak jauh beda usianya. Maka bekatalah ia:

”Rakyatku tercinta, aku sudah tua. Usiaku semakin lanjut. Tapi, Allah belum memberiku keturunan untuk meneruskan kerajaanku. Tapi, bukan berarti tidak ada jalan. Allah selalu memberi jalan terbaik buatku dan kita semua.”

Raja llyasa minum seteguk air dengan tangan kanannya. Napasnya mulai tesengal karena usia lanjut.

“Rakyatku tercinta. Siapa pun berhak menjadi penerusku. Tak peduli usia dan juga pendatang. Aku lihat kalian semua adalah orang-orang yang taat kepadaku baik sebagai nabi atapun raja kalian. Allah menyukai kalian semua karena itu.”

“Tapi, siapakah di antara kalian yang siang harinya selalu berpuasa, dan setiap malam harinya selalu dipenuhi ibadah kepada Allah, dan tidak kenal marah? Adakah di antara kalian yang memenuhi syarat itu?”

Hampir semua warga saling pandang. Mereka mengira ada lomba berkuda atau memanah. Siapa gerangan yang memenuhi syarat kesalehan semacam itu. Mereka tidak berani berbohong dan tak terbayangkan untuk berbuat bohong.

Mengapa harus puasa dan suka beribadah malam serta tidak pernah marah? tanya seseorang kepada seorang ulama. “Yah, seorang yang berpuasa dia akan peka dan perhatian dengan orang lain. Apalagi terhadap mereka yang miskin. Seorang yang selalu beribadah malam ia tidak akan sombong dan besar kepala. Karena semua keberhasilan digantungkan kepada Allah. Keberhasilan adalah anugerah Allah bukan karena otak dan kerja kerasnya. Sedangkan syarat tidak pernah marah akan menunjukan bahwa seorang berjiwa besar. Pemimpin yang mudah marah akan membawa negara selalu perang dan tidak suka damai. Banyak peperangan yang dilahirkan dari amarah,” kata seorang bijak bestari itu.

Tak diduga Bashara kemudian mengangkat tangannya. Sang raja belum menggubrisnya dan mengulang kembali pertanyaanya. “Aku ulangi, siapa di antara kalian yang selalu berpuasa siang hari, berbadah malam hari dan tidak pernah marah?”

Bashara kembali mengangkat tangan. Tapi, Raja Ilyasa seperti tak melihatnya. Hingga untuk ketiga kalinya pertanyaan itu dilontarkan. Ia seperti memberi kesempatan kepada warga Babel.

“Rakyatku sangat yang aku cintai. Siapakah di antara kalian yang selalu berpuasa di siang hari. Siapa di antara kalian yang selalu beribadah di malam hari? Siapa di antara kalian yang tidak pernah marah? Tidak pernah marah, tidak bisa marah dan tidak suka marah?”

BACA JUGA

Tak ada jawaban. Tapi, kemudian berdirilah Bashara. “Baginda yang kami patuhi, alhamdulillah saya melaksanakan itu semua.”

“Kau selau berpuasa siang hari?”

“Insya Allah.”

“Apakah engkau hari ini juga berpuasa?”

“Insya Allah.”

“Apakah engkau selalu beribadah malam hari?”

“Alhamdulillah baginda. Saya selalu melaksanakan salat malam di mana pun kondisinya.”

“Apakah engkau tak pernah marah?”

“Insya Allah baginda, kami bisa memberi jaminan bahwa kami tidak berbohong. Baginda bisa menanyakan hal ini kepada orang lain.”

Raja langsung berdiri dan dipapah berjalan menuju arah Bashara. “Kalau begitu engkaulah penggantiku. Berdirilah, kenakan jubah Daud ini.” ia kemudian menghadap rakyatnya. “Rakyatku tercinta, apakah kalian menerima Bashara sebagai raja kalian kelak jika aku tiada?”

“Kami ridla dan menerima apa pun keputusan baginda.”

Raja Ilyasa kemudian wafat dan digantikan Bashara. Ia memimpin negeri babel dengan adil dan menjadikan negara itu makmur. Bashara kemudian mendapat gelar Zulkifli yang dalam bahasa Ibrani adalah Yehezkiel.

 

Ledakan Penduduk

Suatu hari Allah SWT merintahkan Nabi Zulkifli untuk memerangi suatu kaum yang ingkar kepada Allah. Nabi Zulkifli mengumumkan kepada rakyatnya. Karena rakyat Babel hidup dalam kemakmuran, maka mereka menjadi enggan berperang. Mereka memilih damai dan berunding. Tapi, perintah Allah tidak bisa diubah.

Maka, kemudian para jenderal menghadap Nabi Zulkifli. “Baginda Nabiyullah, rakyat bukan menolak berperang. Mereka bersedia berperang asalkan dijamin bahwa mereka menang dan kembali tanpa kurang suatu apa pun, luka, apalagi kematian. Mereka tidak mau mati hingga mereka menghendaki sendiri.”

Nabi Zulkifli gundah dan kemudian berdoa di malam hari setelah menunaikan salat malam. Ia meminta kepada Allah. “Tuhanku, Engkau telah memerintahkanku untuk menyampaikan risalah-Mu dan telah aku sampaikan. Engkau perintahkan aku berperang, namun Engkau Mahatahu bahwa aku tak memilik kuasa selain untuk diriku. Kaumku memintaku jaminan yang Engkau Mahatahu atas apa kemauan mereka. Janganlah Engkau siksa kami karena perbuatan mereka dan kami berlindung dengan ridla-Mu dari siksaan-Mu.”

Kemudian Allah mewahyukan kepadanya. “Wahai Zulkifli, aku telah mendengar keinginan kaummu dan aku menjamin akan memberi apa yang mereka minta. Aku akan panjangkan umur mereka dan tak akan mematikan mereka sampai mereka mau. Dan jadilah engkau penanggung mereka.”

Maka berangkatlah mereka berperang dan menang. Tak satu pun terluka apalagi gugur di medan laga. Mereka gembira dan semakin kuat iman mereka. Apalagi, mereka diberi usia panjang sehingga hidup di atas usia 100 tahun. Mereka melahirkan banyak anak di luar kendali. Terjadi ledakan penduduk. Nabi Zulkifli dicatat wafat saat berusia 95 tahun.

Negeri Babel kemudian mencatat kepadatan penduduk. Negeri itu semakin sempit dan padat. Makanan sulit. Maka kemudian mereka menginginkan agar yang telah memiliki ajal sebelumnya diberi kematian. Maka, mulailah terjadi kematian. Berangsur negeri itu pulih jumlah penduduknya. Ekonominya makmur kembali. Subhanallah.

Dikembangkan bebas dari Araisul Majalis (Qishashul Anbiya) oleh Imam Abu Ishaq An-Nisaburi Ats-Tsa’labi halaman 218-219. (Musthafa Helmy)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.