KHUTBAH JUMAT
Dr. KH. Muhammad Kholid, M.Pd.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Sungai Duri
Da’i Go Global Lembaga Dakwah PBNU di Australia-New Zealand
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَعْلَى قَدْرَ الْعُلَمَاءِ وَجَعَلَهُمْ وَرَثَةَ الأَنْبِيَاءِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، يَعْلَمُ مَا فِيْ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، الَّذِيْ أَوْرَثَ لِأُمَّتِهِ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ.
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah s.w.t. di zaman yang penuh dengan hiruk pikuk informasi, umat Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan. Begitu banyak suara yang mengaku mewakili Islam, begitu banyak yang tampil dengan jubah keilmuan, sehingga kita bingung siapa yang hendak kita ikuti. Maka, hari ini kita perlu kembali kepada pertanyaan yang paling mendasar: Siapakah ulama yang sesungguhnya, dan bagaimana kita mengenali mereka?
Kedudukan ulama dalam Islam bukan hanya profesi atau gelar akademik. Ia merupakan warisan kenabian yang paling mulia. Rasulullah s.a.w. bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat besar. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Para nabi tidak meninggalkan harta, mereka hanya meninggalkan ilmu pengetahuan tentang Allah, tentang manusia, tentang tujuan hidup, dan tentang jalan menuju keselamatan. Maka, ulama yang mewarisi ilmu itu adalah manusia paling mulia setelah para nabi di muka bumi ini. Karena itu, Allah s.w.t. mengangkat derajat mereka secara khusus di dalam al-Qur’an:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11).
Derajat yang Allah angkat bukan hanya derajat sosial atau akademik. Ia adalah derajat di sisi Allah yang tidak bisa dibeli dengan harta dan tidak pula bisa diraih dengan kekuasaan. Derajat tersebut hanya datang dari ketulusan menuntut ilmu dan keikhlasan mengamalkannya. Allah s.w.t. sendiri telah memberikan definisi yang paling tegas mengenai siapakah ulama yang sesungguhnya. Bukan dari seberapa banyak kitab yang dihafal, bukan dari seberapa panjang gelar yang disandang.
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).
Hadirin yang dimuliakan Allah.
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat di atas bukan berarti hanya ulama yang takut kepada Allah. Maknanya adalah bahwa rasa takut kepada Allah yang sempurna dan hakiki hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar mengenal Allah melalui ilmu. Semakin dalam seseorang mengenal keagungan Allah, keluasan ilmu-Nya, dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, maka semakin besar pula rasa takutnya.
Senada dengan itu, Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebutkan bahwa tanda paling nyata ulama sejati adalah bahwa ilmu yang dimiliki menjadikan hatinya semakin lembut, bukan malah semakin keras.
الْعِلْمُ يَهْدِيْ إِلَى الْخَشْيَةِ، فَمَنْ لَمْ يَخْشَ اللهَ فَلَيْسَ بِعَالِمٍ
Ilmu itu menunjukkan kepada rasa takut kepada Allah. Maka barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, ia bukanlah seorang ulama.
Hal itu menjadi tolok ukur yang sangat adil dan sangat jelas. Kita tidak perlu menguji seseorang dengan debat ilmiah yang rumit untuk mengetahui apakah ia ulama sejati atau bukan. Cukup perhatikan satu hal, apakah ilmunya membuat ia semakin takut kepada Allah, semakin rendah hati, dan semakin jauh dari dunia? Jika iya, itulah ulama yang sesungguhnya.
Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah telah mewariskan kepada kita gambaran yang sangat lugas mengenai ulama sejati, bukan hanya melalui definisi, tapi melalui teladan nyata dalam kehidupan mereka. Sayyid Bakri Syatha al-Dimyathi dalam I’anatuth Thalibin mengutip perkataan ulama salaf:
كَانَ الرَّجُلُ مِنَ السَّلَفِ إِذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتَّى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَيَعْمَلَ بِهِنَّ
Dahulu orang-orang salaf apabila telah mempelajari sepuluh ayat, mereka tidak melampaui ayat-ayat itu sebelum memahami maknanya dan mengamalkannya.
Inilah tradisi keilmuan Islam yang agung. Ilmu berjalan bersama amal, dan amal melahirkan akhlak. Para ulama terdahulu tidak memisahkan antara pengetahuan dan pengamalan. Mereka memahami bahwa ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah, berdiri kokoh tapi tidak memberi manfaat.
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta’allim merumuskan bahwa ada tiga tingkatan hubungan seorang alim dengan ilmunya. Pertama, ilmu yang hanya ada di lisan, ini yang paling berbahaya karena bisa menyesatkan. Kedua, ilmu yang ada di hati namun tidak di amal, ini adalah hujjah yang memberatkan pemiliknya. Ketiga, ilmu yang ada di lisan, di hati, dan terwujud dalam amal, inilah ulama yang sesungguhnya, yang ilmunya menjadi cahaya bagi dirinya sebelum menjadi cahaya bagi orang lain.
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.
Setelah kita mengenal hakikat ulama, maka ada kewajiban yang harus kita tunaikan kepada mereka. Rasulullah s.a.w. bersabda:
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ فَلَيْسَ مِنَّا
Barangsiapa yang tidak menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak mengenal hak orang yang berilmu di antara kami, maka ia bukan dari golongan kami. (HR. Ahmad)
Menghormati ulama adalah bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan langsung oleh Nabi. Para ulama kita di pesantren mengajarkan bahwa ilmu tidak akan turun kepada seseorang yang tidak memuliakan gurunya. Bukan karena ulama butuh dihormati, tapi karena penghormatan itu adalah pintu yang membuka hati kita untuk menerima ilmu dengan sempurna.
Imam Syafi’i menggambarkan pengalamannya sendiri tentang betapa pentingnya memuliakan guru dalam menuntut ilmu. Beliau menceritakan bagaimana ia duduk di hadapan Imam Malik dengan penuh adab, membalik halaman kitab dengan sangat pelan agar suaranya tidak mengganggu sang guru yang sedang berbicara. Bukan karena Imam Malik mewajibkannya, tapi karena Imam Syafi’i memahami bahwa ilmu adalah amanah yang hanya bisa diterima oleh hati yang tunduk dan penuh penghormatan.
Di samping menghormati, kewajiban kita kepada ulama adalah mengikuti dan mengamalkan ilmu yang mereka ajarkan. Allah s.w.t. berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini adalah perintah yang sangat tegas. Di zaman ketika semua orang bisa berpendapat tentang agama, Allah justru memerintahkan kita untuk kembali kepada ahlinya. Jangan tinggalkan majelis ilmu, jangan jadikan kebodohan sebagai kebanggaan, an jangan meremehkan proses belajar yang panjang yang telah ditempuh oleh para ulama kita dengan segenap jiwa dan raga mereka.
Hadirin jamaah Jum’at yang kami cintai.
Ulama adalah cahaya umat, selama umat masih dekat dengan ulama yang sejati, ulama yang ilmunya membuat takut kepada Allah, yang hidupnya menjadi teladan, dan yang hatinya selalu berpihak kepada kebenaran, maka umat ini tidak akan tersesat. Rasulullah s.a.w. bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
Keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Bulan purnama tidak hanya indah untuk dilihat. Ia menerangi jalan bagi mereka yang berjalan di malam hari, memberi petunjuk arah bagi mereka yang tersesat dalam kegelapan. Demikianlah ulama sejati, ia tidak hanya memiliki ilmu untuk dirinya sendiri, tapi ilmu itu memancar dan menerangi seluruh orang di sekitarnya.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ulama-ulama yang lurus, yang ilmunya membawa cahaya bagi umat, yang hidupnya menjadi teladan nyata dari apa yang mereka ajarkan. Semoga Allah menjadikan kita umat yang mencintai ilmu, memuliakan para ulamanya, dan mengamalkan ajaran Islam dengan penuh keikhlasan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَفَعَ قَدْرَ الْعُلَمَاءِ وَجَعَلَهُمْ وَرَثَةَ الْأَنْبِيَاءِ وَمَصَابِيْحَ الْهُدَى فِيْ ظُلُمَاتِ الْجَهْلِ وَالضَّلَالِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِيْ قَالَ: إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِيْ أَوْرَثَ أُمَّتَهُ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَجَعَلَهُ أَشْرَفَ الْمَوَارِيْثِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْعُلَمَاءَ الرَّبَّانِيِّيْنَ هُمْ حُرَّاسُ هَذِهِ الأُمَّةِ وَمَصَابِيْحُ دِيْنِهَا. فَأَحِبُّوا الْعُلَمَاءَ وَعَظِّمُوْهُمْ وَاتَّبِعُوا مَنَاهِجَهُمْ، وَاحْرِصُوا عَلَى مُلَازَمَةِ حَلَقَاتِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِ الذِّكْرِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ عُلَمَاءَنَا وَأُمَرَاءَنَا، وَارْزُقْنَا تَعْظِيْمَ الْعُلَمَاءِ الرَّبَّانِيِّيْنَ وَمُلَازَمَةَ مَجَالِسِهِمْ. اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْ عُلَمَاءِ الأُمَّةِ، وَاجْعَلْ عِلْمَهُمْ نُوْرًا يَهْتَدِيْ بِهِ الْعِبَادُ وَسَبَبًا لِرِفْعَةِ الإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْتَفِعُ بِعِلْمِهِمْ وَيَسِيْرُ عَلَى نَهْجِهِمْ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.