MENELADANI SANG PAHLAWAN NASIONAL

0

Hadirin yang saya hormati, Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk melakukan tadarus pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama, sekaligus pahlawan nasional yang telah mewariskan pemikiran, keteladanan, perjuangan, dan nilai-nilai kebangsaan yang sangat besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah mengingatkan bahwa sejak sekitar tahun 1330 Hijriah telah muncul berbagai aliran dan pemikiran baru yang masuk ke Indonesia.

Beliau melihat bahwa sebagian pemikiran tersebut membawa pandangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan pemahaman keagamaan yang telah berkembang di tengah masyarakat. Kondisi itu dikhawatirkan dapat membingungkan umat Islam dan pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Di sinilah kita dapat melihat salah satu perhatian besar Hadratussyaikh: bagaimana menjaga persatuan umat di tengah perbedaan.

Pada awal abad ke-20, sekitar awal tahun 1912 berbagai organisasi dan gerakan Islam mulai tumbuh di Indonesia. André Feillard, dalam kajiannya tentang NU dan pemerintahan, antara lain menggambarkan adanya kecenderungan pembagian antara kelompok Islam modernis dan tradisionalis. Namun, Hadratussyaikh tidak berhenti pada perbedaan tersebut. Beliau justru mencari titik temu dan berusaha membangun kekuatan umat secara bersama-sama.

Kalau kita melihat perjalanan sejarah dunia Islam pada masa itu, kita menemukan situasi yang sangat berat. Kekuasaan Turki Utsmani mengalami kemunduran. Sultan Abdul Hamid II digulingkan pada tahun 1909. Perubahan politik di Timur Tengah kemudian berlangsung dengan cepat hingga kekuasaan di Hijaz berpindah tangan. Dalam situasi dunia Islam yang sedang mengalami perubahan besar itulah, Hadratussyaikh pulang dari Makkah ke Indonesia.

Menurut saya, sejak awal kepulangannya, beliau sudah memiliki kesadaran yang sangat kuat untuk berjuang membangun masyarakat dan mempersiapkan umat menghadapi masa depan. Beliau tidak memilih jalan perjuangan yang tergesa-gesa. Beliau membangun masyarakat secara perlahan, perencanaan yang matang, dan menyeluruh.

 

Membangun Tebuireng

Pada tanggal 3 Agustus tahun 1899, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pada waktu itu, kondisi sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, sistem kerja yang berat, serta berbagai persoalan sosial dan kemaksiatan yang berkembang di sekitar kawasan tersebut. Dalam situasi seperti itu, Hadratussyaikh justru hadir di tengah masyarakat.

Beliau tidak hanya mendirikan pesantren dan mengajar santri. Beliau juga turun langsung ke sawah, berinteraksi dengan masyarakat, membantu memperbaiki sistem pengairan, mengajarkan cara bercocok tanam yang lebih baik, serta berusaha meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat.

Nah, pada saat Kiai Hasyim mendirikan pondok, kemaksiatannya sudah sangat luar biasa. Yang pertama kali saya sudah membayangkan, bagaimana mental beliau ini dan dari mana punya keberanian seperti itu? Kemudian saya telusuri lagi, rupanya saat beliau di Makkah berguru kepada para ulama nusantara, salah satunya adalah Syaekh Nawawi al-Bantani.

Nah, ada cerita unik, di Tebuireng itu setiap hari Selasa tidak ngaji sampai sekarang. Apa sebabnya? rupanya dulu, setiap hari Selasa, Hadrotussyaikh selalu mendampingi masyarakat untuk membangun ekonomi dan lainya dan itu dilakukan sampai beliau wafat.

Ada juga tradisi khataman kitab, seperti Aqidatul Awam. Ketika saya bertanya mengapa kitab-kitab tersebut tetap digunakan, jawabannya sederhana: Dahulu pengajian ini dimulai oleh Hadratussyaikh. Karena itu sampai sekarang tetap dilanjutkan. Jadi, setiap orang tidak berani untuk merubah sampai sekarang terus dilanjutkan.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana Hadratussyaikh membangun masyarakat secara menyeluruh. Beliau meningkatkan pendidikan. Beliau memperkuat ekonomi. Beliau membangun kehidupan keagamaan. Dan beliau memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Pada masa pandemi COVID-19, ketika aktivitas pesantren mengalami banyak pembatasan, saya memiliki kesempatan untuk membaca kembali berbagai kitab karya Hadratussyaikh. Saya bertanya-tanya, dengan keilmuan beliau yang begitu tinggi, saya menemukan sesuatu yang luar biasa di dalam kitab-kitab beliau. Bahkan salah satu kitab beliau seperti, Dhaw’ul Misbah, yang membahas hukum-hukum perkawinan.

Padahal Hadratussyaekh itukan bergelar dari Makkah hafal Kutubussittah. Hafal Al-Qur’an, hafal Kutubussittah, tetapi hasil tulisannya itu tipis, sederhana. Ternyata alasan beliau sangat sederhana. Beliau melihat masyarakat kesulitan memahami hukum perkawinan karena pembahasannya terdapat dalam kitab-kitab besar yang sulit diakses oleh masyarakat awam. Maka beliau menuliskannya dalam bentuk yang lebih sederhana agar mudah dipelajari.

Di sinilah saya melihat kebesaran beliau. Beliau tidak menulis untuk menunjukkan keluasan ilmunya. Beliau menulis agar ilmu itu sampai kepada masyarakat. Inilah salah satu keteladanan yang sangat penting bagi kita. Ilmu harus diturunkan menjadi manfaat. Ilmu harus dapat dipahami. Dan ilmu harus menjadi kekuatan bagi masyarakat.

 

Menyatukan Umat Islam

Ketika banyak organisasi Islam mulai berkembang dengan pemikiran yang berbeda-beda, Hadratussyaikh tidak memilih untuk memutus hubungan. Sebaliknya, beliau tetap membangun komunikasi dengan berbagai kelompok. Pada tahun 1930, beliau mengundang berbagai organisasi Islam untuk membicarakan persoalan bersama, terutama menghadapi kebijakan kolonial Belanda.

Dari sinilah kita melihat bagaimana Hadratussyaikh berusaha mencari titik temu. Beliau tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Beliau justru mencari persoalan bersama yang dapat mempertemukan seluruh kekuatan umat Islam. Semangat persatuan itu kemudian berkembang dalam pembentukan Majelis Islam A’la Indonesia atau MIAI.

Pada tahun 1937, MIAI terbentuk sebagai federasi berbagai organisasi Islam. Beberapa organisasi bergabung dan kemudian jumlahnya semakin berkembang. Ini merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah persatuan umat Islam Indonesia. Dan NU kemudian bergabung pada tahun 1938.

Persatuan umat yang semakin kuat tentu menjadi perhatian pemerintah kolonial. Belanda kemudian mengirim utusan untuk menawarkan kepada Hadratussyaikh agar beliau diangkat menjadi Mufti Indonesia di bawah pemerintahan Belanda. Namun tawaran itu ditolak.

Penolakan tersebut menunjukkan sikap beliau yang sangat tegas. Beliau tidak ingin ilmu dan kedudukannya digunakan untuk memperkuat kekuasaan kolonial. Sikap tersebut kemudian tercermin dalam berbagai tindakan beliau yang tidak bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial dalam hal-hal yang dapat memperkuat kepentingan penjajahan.

Ini merupakan keteladanan penting tentang independensi ulama. Ulama harus memiliki kebebasan moral untuk menyampaikan kebenaran dan membela kepentingan masyarakat.

 

Ulama Perjuang Kemerdekaan

Salah satu hal yang perlu terus kita baca kembali adalah sejarah perjuangan para ulama dan pesantren dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran para ulama, kiai, santri, dan pesantren.

Kita mengenal Fatwa Jihad pada 11 September 1945. Kita mengenal Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Kita juga mengenal Fatwa Jihad pada 9 November 1945 yang turut mendorong mobilisasi umat Islam menuju Surabaya. Pada masa itu terdapat kekuatan-kekuatan yang terorganisasi, termasuk Hizbullah dan Sabilillah.

Para ulama dan pesantren tidak hanya memberikan semangat. Mereka juga memberikan bimbingan, koordinasi, dan kepemimpinan kepada masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai perjuangan militer semata. Di dalamnya terdapat perjuangan ulama, santri, pesantren, dan seluruh rakyat Indonesia.

Ada satu hal yang menurut saya sangat luar biasa dari perjalanan bangsa Indonesia. Ketika kemerdekaan diraih, tradisi keagamaan dan budaya masyarakat tetap hidup. Yang tahlilan tetap tahlilan. Yang bershalawat tetap bershalawat. Yang berziarah tetap berziarah.

Tradisi keagamaan dan kebudayaan tidak hilang karena perubahan politik. Ini menunjukkan bahwa perjuangan para ulama bukan sekadar perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka juga berjuang menjaga agama, tradisi, budaya, dan peradaban masyarakat. Inilah salah satu warisan besar yang harus kita jaga sampai hari ini.

Maka, ketika kita berbicara tentang Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sebuah model perjuangan. Perjuangan melalui ilmu. Perjuangan melalui pesantren. Perjuangan melalui pemberdayaan masyarakat. Perjuangan melalui organisasi. Perjuangan melalui persatuan.

Dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan serta menjaga keutuhan bangsa. Itulah sebabnya saya melihat bahwa meneladani Hadratussyaikh bukan sekadar mengagumi sejarah masa lalu. Meneladani Hadratussyaikh berarti meneruskan nilai-nilai perjuangannya untuk menjawab persoalan zaman kita hari ini.

Kita harus memperkuat pendidikan. Kita harus memperkuat ekonomi masyarakat. Kita harus memperkuat pesantren. Kita harus memperkuat persatuan umat. Kita harus menjaga tradisi dan peradaban. Dan kita harus terus memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga amanah para ulama, menjaga persatuan umat, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta meneruskan perjuangan para pendahulu kita.

Indonesia bangsa yang besar, bangsa yang hebat, kedepan kita bersama-sama membangun Indonesia, membangun NU. Saya sampaikan bahwa kita akan mendigdayakan kembali Nahdlatul Ulama.

 

(Transkip pidato Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz saat acara di PCNU, Sumenep)

Leave A Reply

Your email address will not be published.