Jejak Panjang Jurnalistik dan Kepengarangan Maskut Candranegara

0

Perjalanan Maskut Candranegara di dunia jurnalistik dan kepenulisan bukanlah proses yang hadir secara tiba-tiba. Jejak itu telah dimulai sejak ia masih menjadi santri, jauh sebelum dunia digital, media sosial, dan platform berita online berkembang seperti sekarang. 

Dari lingkungan pesantren, ketertarikannya pada dunia tulis-menulis mulai tumbuh dan kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang yang melintasi berbagai media, daerah, serta tema tulisan.

Pada 1985–1987, ketika masih menjadi santri di Pesantren Tri Bhakti At Taqwa, Lampung Timur, Maskut mulai menekuni dunia kepenulisan sebagai penulis lepas. Masa-masa sebagai santri menjadi ruang awal baginya untuk belajar menuangkan gagasan, mengamati lingkungan sekitar, serta mengenal dunia jurnalistik dari dekat. Dari tulisan-tulisan sederhana itulah, minat terhadap dunia pers dan kepenulisan semakin menemukan bentuknya.

Langkah berikutnya terjadi pada 1987, ketika Maskut memasuki awal masa kuliah. Pada semester pertama, ia mendapat kesempatan menjadi wartawan Lampung Post. Meski hanya berlangsung sekitar tiga bulan, pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan jurnalistiknya. Berhadapan langsung dengan dunia pemberitaan membuatnya semakin memahami bagaimana sebuah peristiwa dikumpulkan, diverifikasi, ditulis, dan disajikan kepada pembaca.

Perjalanan itu kemudian berlanjut pada 1992 ketika Maskut menjadi wartawan Majalah Forum Santri di Lampung. Dunia majalah memberikan pengalaman yang berbeda dari surat kabar. Tidak hanya dituntut mampu menulis berita, tetapi juga mengembangkan tulisan dengan pendekatan yang lebih mendalam, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan masyarakat serta dunia santri.

Tiga tahun kemudian, pengalaman jurnalistiknya membawanya ke Surabaya. Pada 1995–1998, Maskut menjadi wartawan Majalah Santri di kota tersebut. Berada di lingkungan jurnalistik yang lebih luas memberikan kesempatan untuk memperkaya wawasan, memperluas jaringan, sekaligus mengasah kemampuan dalam menggali berbagai isu dan menuliskannya dari sudut pandang yang lebih beragam.

Profesi Wartawan Lepas

Setelah itu, pada 1998–2000, Maskut menjalani profesi sebagai wartawan lepas atau freelance. Fase ini menuntut kemandirian yang lebih besar. Seorang jurnalis lepas harus mampu mencari isu, membangun jaringan, menentukan angle pemberitaan, sekaligus menawarkan tulisan kepada media. Pengalaman tersebut turut membentuk karakter jurnalistik Maskut yang lebih fleksibel dan mandiri.

Perjalanan profesionalnya kembali berlanjut pada 2019–2021 ketika Maskut dipercaya menjadi biro perwakilan Majalah Risalah Jakarta di Lampung. Posisi tersebut mempertemukannya kembali dengan dinamika dunia media secara lebih luas.

Ia tidak hanya menjalankan fungsi jurnalistik, tetapi juga menjadi bagian dari jejaring media yang menghubungkan berbagai informasi dan peristiwa dari Lampung dengan pembaca di tingkat yang lebih luas.

Di luar pengalaman sebagai wartawan, aktivitas Maskut sebagai penulis artikel dan opini juga terus berjalan. Sejak 1994 hingga sekarang, ia aktif menulis untuk berbagai media cetak dan online.

Rentang waktu yang panjang tersebut menunjukkan bahwa dunia kepenulisan bukan sekadar profesi sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya. Tema yang ditulis pun berkembang mengikuti dinamika sosial, budaya, politik, keagamaan, serta berbagai persoalan yang hidup di tengah masyarakat.

Pengalaman jurnalistik kemudian menjadi bekal penting bagi Maskut untuk memasuki dunia penulisan buku. Pada 2007, ia terlibat dalam penulisan buku Taufik Kiemas Dimata Tokoh Islam, kemudian pada 2009 melalui buku Mereka Bicara Mega.

Tahun 2010, ia kembali terlibat dalam Jejak Langkah Cak Agus – Wakil Bupati Tulangbawang, yang diterbitkan oleh AJI Bandar Lampung. Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman jurnalistik dapat dikembangkan menjadi dokumentasi yang lebih panjang dan mendalam.

Produktivitas kepenulisannya terus berlanjut. Pada 2012, Maskut terlibat dalam buku Kiat Sukses Memperoleh Adhipura. Kemudian pada 2016 hadir NU Mengawal Perubahan Zaman dan Jalan Panjang Lahirnya Kabupaten Tubaba – Kado Ulang Tahun ke-7. Dua karya tersebut menunjukkan perhatian Maskut terhadap isu organisasi kemasyarakatan sekaligus perjalanan sejarah dan perkembangan daerah.

Memasuki periode berikutnya, karya kepenulisannya semakin memiliki nuansa personal dan reflektif. Pada 2023, lahir buku Terkenang Kampung Halaman (Ingatan-ingatan pada Tanah Kelahiran). Buku ini menjadi bagian dari perjalanan kepenulisan yang tidak hanya berbicara tentang peristiwa dan tokoh, tetapi juga tentang ingatan, kampung halaman, pengalaman hidup, serta hubungan seseorang dengan ruang tempat ia tumbuh dan mengenal dunia.

 

Perjalanan Berlanjut Buku Muktamar Ke-35 

Jika ditarik dari awal perjalanan sejak menjadi penulis lepas ketika masih santri pada 1985 hingga karya-karya yang lahir puluhan tahun kemudian, terlihat satu benang merah yang kuat: jurnalistik bagi Maskut Candranegara bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan panjang dalam merekam zaman.

Dari catatan berita, artikel, opini, hingga buku, ia terus menulis untuk mendokumentasikan gagasan, peristiwa, tokoh, sejarah, dan pengalaman manusia. Jejak itu sekaligus menjadi catatan perjalanan seorang jurnalis dan penulis yang tumbuh dari dunia pesantren, melewati berbagai ruang media, dan terus menjaga tradisi menulis hingga hari ini.

 

Pendidikan dan Karier 

Awal Perjalanan Organisasi: Berangkat dari Bangku Kuliah

Perjalanan saya dalam dunia organisasi dimulai sejak masih menjadi mahasiswa semester pertama di Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung. Pada Agustus 1987, saya mengikuti Latihan Kader Dasar (LKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa ekstra kampus yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU).

Keikutsertaan dalam pengaderan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang saya dalam dunia pergerakan, pengabdian, dan kepemimpinan. Dari PMII, saya belajar tentang nilai-nilai keislaman, kebangsaan, kepemimpinan, serta pentingnya berorganisasi sebagai sarana membangun masyarakat.

 

Membangun Karang Taruna di Kampung Halaman

Pada tahun yang sama, 1987, semangat berorganisasi tidak hanya saya salurkan di lingkungan kampus. Di kampung halaman, saya turut mendirikan Karang Taruna untuk menggerakkan para pemuda desa agar lebih aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan mendukung program pemerintahan desa.

Organisasi tersebut saya beri nama Karang Taruna Bhakti Karya Persada, tempat saya mengemban peran sebagai pembina. Bagi saya, pemuda merupakan kekuatan penting dalam pembangunan desa. Mereka perlu diberikan ruang untuk berkreasi, berpartisipasi, dan mengambil tanggung jawab bagi kemajuan lingkungan tempat tinggalnya.

 

Dipercaya Memimpin Rayon PMII Fakultas Syariah

Memasuki semester kedua, kepercayaan kepada saya kembali tumbuh. Saya dipercaya menjadi Ketua Rayon PMII Syariah, yang memimpin dan mengoordinasikan anggota PMII di tingkat fakultas. Amanah tersebut menjadi pengalaman penting dalam membangun kepemimpinan sejak usia muda.

Saya belajar mengelola organisasi, menyatukan gagasan, membangun komunikasi, serta menggerakkan kader untuk mencapai tujuan bersama. Belum genap satu tahun memimpin rayon, pada 1988 saya mencoba melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dengan mengikuti kontestasi kepemimpinan Komisariat PMII IAIN Raden Intan.

Namun, saat itu saya belum berhasil terpilih sebagai Ketua Komisariat. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa dalam organisasi, keberanian untuk berkompetisi harus berjalan beriringan dengan kesiapan menerima hasil dan terus belajar.

 

Mengabdi di GP Ansor Lampung

Perjalanan organisasi berlanjut ke Gerakan Pemuda Ansor, badan otonom Nahdlatul Ulama yang menjadi wadah kaderisasi dan pengabdian generasi muda NU. Pada 1992, saya dipercaya menjadi Koordinator Departemen Organisasi dan Pengaderan Pengurus Wilayah GP Ansor Lampung.

Tanggung jawab ini memperluas pengalaman saya dalam membangun struktur organisasi, memperkuat kaderisasi, serta mengembangkan kapasitas kader di tingkat wilayah. Pada Desember 1996, saya kembali memperoleh kepercayaan dengan diamanahi jabatan Sekretaris PW GP Ansor Lampung.

Amanah tersebut menjadi fase penting dalam perjalanan saya, karena tidak hanya menuntut kemampuan mengelola administrasi organisasi, tetapi juga membangun komunikasi, menjaga soliditas kepengurusan, dan memastikan program berjalan sesuai tujuan.

 

Konferwil 1999: Ketika Persahabatan Lebih Utama daripada Jabatan

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi pada Konferensi Wilayah GP Ansor Lampung, Oktober 1999. Sejumlah sahabat dari pengurus cabang mendorong saya maju sebagai calon Ketua PW GP Ansor Lampung.

Dalam proses pencalonan, saya memperoleh tiga suara dukungan dan dinyatakan sah menjadi kandidat. Rival saya juga mendapatkan tiga suara dukungan. Pemilihan berlangsung ketat, tetapi hasilnya tetap imbang. Pimpinan sidang kemudian memutuskan pemilihan diulang, namun hasilnya kembali sama kuat.

Akhirnya, pimpinan sidang meminta kedua calon berunding untuk mencari jalan keluar. Dalam perundingan tersebut, saya memilih mundur karena rival saya merupakan dosen saya semasa kuliah. Saya menghormati beliau dan memandang bahwa persahabatan serta keutuhan organisasi lebih penting daripada ambisi menduduki jabatan.

Saya kemudian diminta kembali mengemban amanah sebagai Sekretaris PW GP Ansor Lampung untuk periode berikutnya. Bagi saya, peristiwa ini merupakan pelajaran berharga bahwa kepemimpinan sejati bukan semata-mata tentang bagaimana meraih jabatan, melainkan juga tentang kapan harus mengalah demi kepentingan yang lebih besar.

 

Menapaki Kepemimpinan Nasional di GP Ansor

Pada Juli 2000, saya menghadiri Kongres GP Ansor yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Kongres tersebut memilih Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor. Dalam kepengurusan nasional yang terbentuk, saya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal.

Kepercayaan itu menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi saya, dari aktivis kampus dan pengurus wilayah hingga menjadi bagian dari kepengurusan GP Ansor tingkat nasional. Pada Kongres GP Ansor 2005 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Gus Ipul kembali terpilih sebagai Ketua Umum, dan saya kembali dipercaya menjabat Wakil Sekretaris Jenderal.

Dua periode tersebut memberikan pengalaman berharga dalam memahami dinamika organisasi kepemudaan NU pada skala nasional, memperluas jaringan, serta memperkuat komitmen terhadap kaderisasi dan pengabdian.

 

Mencoba Peruntungan dalam Kontestasi Ketua Umum GP Ansor

Pada Kongres GP Ansor Januari 2011 di Sukolilo, Surabaya, saya mengambil langkah besar dengan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor. Pengalaman panjang di tingkat rayon, wilayah, hingga kepengurusan nasional menjadi bekal untuk mengikuti kontestasi tersebut.

Pada masa itu, saya berupaya membangun opini dan memperkenalkan gagasan melalui media televisi maupun media daring. Dinamika kongres berlangsung dengan penuh persaingan, dan pada akhirnya Nusron Wahid terpilih sebagai Ketua Umum.

Saya memang belum berhasil meraih posisi yang saya perjuangkan, tetapi pengalaman tersebut memperkaya pemahaman saya tentang demokrasi organisasi, komunikasi publik, serta pentingnya menyampaikan gagasan dan visi kepemimpinan. Saya meyakini bahwa tidak semua perjuangan harus berakhir dengan kemenangan untuk memberikan pelajaran yang bermakna.

 

Melanjutkan Pengabdian melalui LPPNU PWNU DKI Jakarta

Pada 2011, saya memperoleh amanah sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta. Peran ini memperluas ruang pengabdian saya dari organisasi kepemudaan ke bidang pemberdayaan masyarakat, khususnya sektor pertanian.

Saya memandang bahwa NU tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam pengembangan keagamaan dan pendidikan, tetapi juga perlu hadir dalam menjawab persoalan ekonomi dan kesejahteraan umat. Melalui LPPNU, semangat pengabdian diarahkan pada penguatan peran masyarakat, pengembangan potensi pertanian, dan upaya mendorong kemandirian. Pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa organisasi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

 

Mengembangkan Pengabdian di Bidang Informasi dan Komunikasi MUI

Pada 2016, saya dipercaya menjadi Sekretaris Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung. Amanah ini menjadi bagian dari perjalanan saya dalam memperkuat komunikasi kelembagaan, penyampaian informasi, dan peran strategis ulama di tengah masyarakat. Pada 2018, saya kembali mendapat kepercayaan sebagai Wakil Sekretaris PWNU Lampung. Selanjutnya, pada 2020, saya menjadi anggota Komisi Infokom MUI Pusat.

Perjalanan tersebut mempertemukan pengalaman organisasi keagamaan di tingkat daerah dengan tanggung jawab komunikasi pada tingkat nasional. Saya menyadari bahwa di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi informasi, lembaga keagamaan dituntut untuk menyampaikan pesan yang mencerahkan, menjaga kepercayaan publik, serta menghadirkan informasi yang benar, sejuk, dan bertanggung jawab.

 

Amanah Kemanusiaan melalui LPBI NU PBNU

Pada 2022, saya dipercaya menjadi Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Amanah ini membawa saya semakin dekat dengan kerja-kerja kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat.

Bagi saya, pengabdian kepada umat tidak cukup dilakukan melalui pemikiran dan kebijakan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Pengalaman dalam organisasi kemanusiaan memperkuat pandangan saya bahwa solidaritas, kepedulian, dan gotong royong merupakan nilai penting yang harus terus dirawat.

Bencana tidak mengenal batas sosial maupun wilayah, sehingga penanganannya membutuhkan kerja sama, kesiapan, dan komitmen dari berbagai pihak.

 

Memperluas Peran di Komisi Pesantren MUI Pusat

Pada 2025, saya kembali memperoleh amanah dengan menjadi anggota Komisi Pesantren MUI Pusat. Penugasan ini melengkapi perjalanan pengabdian saya dalam berbagai bidang, mulai dari kaderisasi mahasiswa, kepemudaan, pengembangan pertanian, komunikasi kelembagaan, penanggulangan bencana, hingga perhatian terhadap dunia pesantren.

Bagi saya, pesantren merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, membentuk akhlak, serta menyiapkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu dan kepedulian terhadap bangsa. Keterlibatan dalam Komisi Pesantren menjadi ruang untuk terus belajar, berdiskusi, dan berkontribusi bagi penguatan peran pesantren dalam kehidupan keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan.

 

Organisasi sebagai Jalan Panjang Pengabdian

Jika menengok kembali perjalanan sejak Agustus 1987, saya menyadari bahwa organisasi telah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, cara berpikir, dan perjalanan hidup saya. Dari mengikuti LKD PMII ketika masih mahasiswa, membina Karang Taruna Bhakti Karya Persada di kampung halaman, memimpin Rayon PMII Syariah, mengabdi di PW GP Ansor Lampung, dipercaya di PP GP Ansor, hingga menjalankan berbagai amanah di NU dan MUI, semuanya merupakan rangkaian pengalaman yang saling melengkapi. Ada masa ketika saya dipercaya memimpin, ada kesempatan ketika saya mencoba maju tetapi belum berhasil, dan ada saat ketika saya memilih mengalah demi menjaga persahabatan serta keutuhan organisasi.

Semua itu mengajarkan bahwa jabatan merupakan amanah yang sementara, sedangkan nilai pengabdian harus terus dijaga. Saya percaya, ukuran keberhasilan seorang aktivis bukan semata-mata seberapa tinggi jabatan yang pernah diduduki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada umat, masyarakat, dan bangsa. Sebab, bagi saya, berorganisasi bukan sekadar perjalanan mengejar posisi, melainkan jalan panjang untuk belajar, berkhidmat, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi berikutnya. (*).

Leave A Reply

Your email address will not be published.