Muhammad Silahuddin adalah Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, sebelumnya ia menjabat sebagai Anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU. Pria kelahiran Gresik 10 Oktober 1977, kini tinggal di Puri Bintaro Residence, Cluster B, No. 22 Serua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
Tokoh muda NU yang akrab di sapa Silahuddin ini tidak saja aktif berdiskusi (kongkow) bareng dengan para aktivis NU dan lainnya. Ia juga aktif menulis dan berinteraksi dalam berbagai platform media sosial yang berkembang. Baginya, aktivitas itu dilakukan untuk bersosialisasi dan berdakwah dalam dunia digital.
Karenanya, sosok alumni Ponpes Maslakul Huda, Pati ini pun aktif dalam bidang dakwah terutama di lingkungan PBNU. Menurutnya, dakwah masa kini harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. “Berkembangnya era digital yang sangat cepat membuat strategi dakwah harus diperbarui agar tetap relevan dengan zaman,” ujarnya kepada Majalah Risalah NU saat di Jakarta, Rabu 1 Oktober 2025.
Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan telah diimplementasikan dalam langkah-langkah strategis di tubuh organisasi. Menurut Silahuddin, salah satu terobosan penting yang digagas adalah strategi pemetaan (mapping) da’i. Tidak semua masyarakat dapat disamaratakan. “Dakwah kepada masyarakat kota tentu perlu pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat di desa,” tegasnya.
Ia pun menyoroti pentingnya kehadiran dakwah di platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. “Dakwah melalui platform digital dan media sosial menjadi hal yang perlu dilakukan untuk mengimbangi banyaknya informasi yang diserap masyarakat setiap harinya,” jelasnya.
Silahuddin memaparkan dua agenda prioritas yang harus dilakukan dai NU ke depan. Pertama, melakukan diversifikasi materi keagamaan. Materi dakwah harus lebih variatif, tidak hanya terpaku pada fikih ibadah mahdhah, tetapi juga menyentuh isu-isu aktual seperti ekonomi syariah, psikologi Islam, hingga moderasi beragama. Kedua, penguatan jaringan melalui struktur NU yang sudah ada dari tingkat Wilayah, Cabang, hingga Ranting. “Jaringan yang kuat ini akan memastikan dakwah NU bisa menjangkau hingga ke akar rumput secara lebih terorganisir dan massif,” pungkasnya.
Pendidikan dan Karir
Pendidikan Formal:
- SLTA: MA Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Kajen Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, 1998
- Strata 1: Fakultas Islamic Studies (Dirasat Islamiyah wal Arabiyah) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004
- Strata 2: Konsentrasi Hukum Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008
Pendidikan Non Formal:
-Pesantren Maslakul Huda, Kajen Margoyoso Pati, Jawa Tengah, 1993 s/d 1998
– Short Course Bahasa Arab, Lajnah Tathwir al-Lughah al-‘Arabiyah Mathali’ul Falah, Kajen, Margoyoso Pati, 1996 s/d 1998
– Short Course Bahasa Inggris, EECC, Pare Kediri, 1999
– Pendidikan Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) angkatan ke-2, Kerjasama TICMI BEI dan DSN-MUI, 2017
– Pelatihan Dewan Pengawas Syariah Lembaga Keuangan Syariah, DSN-MUI, 2018
Pengalaman Kerja:
– Dosen Universitas Syekh Nawawi Banten, 2016 s/d sekarang.
– Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI, 2019 s/d 2024.
– Dewan Pengawas Syariah Bank Wakaf Syariah An-Nawawi Tanara Serang Banten, 2019 s/d sekarang.
– Dewan Pengawas Syariah BMT An-Nawawi Tanara Serang Banten, 2019 s/d sekarang.
– Dewan Pengawas Syariah Koperasi Simpan Pinjam Syariah Indosurya, 2018 s/d 2020.
– Staf Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Bidang Hubungan Antar Agama, 2007 s/d 2009.
– Staf Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Bidang Kehidupan Beragama (2009 s/d 2014).
– Konsultan Katalogisasi Naskah Koleksi Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy Aceh, PPIM-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta – C-DATS Tokyo University Of Foreign Studies (TUFS) dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), 2005
Pengalaman Organisasi:
– Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, 2022 s/d sekarang
– Anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU 2014 s/2021
– Wakil Ketua Lembaga Pentashih Buku dan Kontens ke-Islaman (LPBKI) Majelis Ulama Indonesia Pusat, 2015 s/d sekarang.
– Anggota Departemen Sarana Hukum dan Wakaf Pengurus Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia, 2012 s/d 2017.
(Ekalavya).