Janji Seorang santri 

0

Oleh: Muhammad Nasrul Ilmi, (Santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh)

Jum’at sore menjelang maghrib di Pesantren Maslakul Huda, para santri berbondong bondong memasuki area mushola. Seketika terdengar lantunan adzan magrib sudah tiba  sesampainya pada kalimat takbir yang terakhir. Ada pula santri yang baru sampai di mushola  ketika Adzan sudah selesai dikumandangkan. 

Setelah salat jama’ah, aku melihat ada suatu kejanggalan. “Loh, itu kenapa Kang kok  pada berdiri di depan?” tanyaku pada seorang santri senior yang duduk bersanding denganku. 

“Oh…. santri yang berdiri itu, itu tuh hukuman bagi santri yang tadi telat datang ke  mushola.” jawabnya dengan senang hati. 

aku baru tahu, ternyata, hanya sekedar telat datang ke mushola saja, seseorang bisa  dihukum atas perbuatannya. Cukup aneh bagi santri baru sepertiku, ketika pertama kali  mendengar ada pesantren yang memakai program seperti itu. 

* ** 

Lama-kelamaan aku mulai penasaran. Perihal apakah yang sebenarnya mereka lakukan  setiap sore. Tidak hanya sekali dua kali bahkan berkali-kali saya melihat santri yang dihukum  berdiri di depan. Yang pasti ketika ditanya, habis ngapain aja? Mereka akan menjawab  “Ngantri kamar mandi Kang, rame tadi…” Hanya itulah satu-satunya alasan yang bisa mereka  katakan. 

Keesokan harinya aku berniat bermain sebentar di jemuran bersama teman-teman.  Begitu asyiknya bermain, hingga aku lalai akan waktuku. Waktu sudah menunjukan pukul  17:25, dimana seharusnya aku sudah selesai mandi dan bersiap-siap untuk sholat jama’ah.  Tetapi yang aku lakukan malah masih asyik bermain hingga aku tersadar ketika mendengar  Adzan sudah berkumandang. 

“Astaghfirullah jam berapa sekarang? aku duluan ya….!”

“Nanggung mar, ini loh baru Adzan. Nanti aja sekalian mandi, toh kalau kamu sudah  selesai wudhu palingan adzannya sudah selesai.” 

Tanpa disadari, aku telah mengiyakan perkataannya, dan lanjut bermain. “Ini adalah  yang terakhir, saya tak akan mengulanginya lagi” janji ku dalam hati. 

* ** 

“Gimana, amankan ? apa salahnya coba? yang penting kan kita ikut Jama’ah ” kata  Andik. 

“Nggak akan terulang lagi!” tegasku. 

“Hahaha…. nggak percaya!” katanya sambil menepuk bahuku. 

Namun lama kelamaan aku mulai terbiasa akan kepribadian buruk itu. Awalnya aku cuma mencoba, tetapi kenyataannya mulai terbiasa dan merasa baik-baik saja melakukan itu  semua. 

Meskipun begitu, aku tidak akan pernah lupa dengan waktu belajarku. Paling tidak jika  ada waktu luang akan ku manfaatkan untuk membaca buku. Entah apapun itu kategorinya yang  penting adalah membaca. Bukan Karena apa, melainkan Itu adalah salah satu pesan Mbah  Sahal Mahfudh bagi para santri. 

“Seorang santri harus berprinsip; Jangan pernah berhenti belajar. Seorang santri harus  kritis; mampu membaca keadaan baik tekstual ataupun kontekstual harus berani tidak minder;  namun harus diimbangi dengan ilmu” Begitulah pesain beliau yang tertanam kuat dalam  benakku. 

Suatu hari, Ketika aku sedang asyik membaca, aku dipanggil oleh Andik, “Umar! Ayo  ikut aku pergi sebentar.” 

“Nanti aja deh dik. Nanggung ini sebentar lagi mau maghrib.” 

“Ya udah…. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa.” katanya sembari pergi  meninggalkanku.  

“Iya-iya, aku ikut tapi jangan lama-lama!” pintaku kemudian. 

Dengan cepat aku menututinya dari belakang. Entah aku mau dibawa kemana, yang  penting dia nggak marah.

“Janji nggak bolos jama’ah lagi!” ucapku memastikan. 

“Cie… takut ya? Hahaha …. lemah!” 

“Dasar kriminal!” celaku kemudian. 

“Kalau saya kriminal terus kamu apa?” 

“Ya nggak tau…., aku kan cuma ikut-ikutan.” 

“Itu sama aja mar! Apa bedanya coba?” bentaknya. 

“Hehe… Sama ya?” Tanyaku sambal senyum tipis. 

Seketika kami berdua sampai disebuah rumah. Yang tak lagi asing bagi kami. Sayup sayup terdengar suara anak-anak sedang bermain. Ini bukan pertama kalinya kami datang  kesini, melainkan sudah berkali-kali. Perlahan kakiku mulai melangkah, ada begitu banyak  pertimbangan yang harus ku tentukan. 

“Sudah berapa kali kita datang kesini?” Tanya Andik. 

“Lima kali!” aku mulai mengingat kembali, “Tidak…. Kita kesini sudah delapan kali.”  kataku. Dalam hati aku berkata, “yang dimaksud delapan sebenarnya. bukanlah kita,  melainkan aku sendiri.” 

Tidak ku sangka, hanya demi bermain playstation aku rela mengorbankan waktu belajar  dan istirahatku. aku termenung menatap keasingan diriku sendiri. Tidak hanya sekedar telat  jama’ah. Tidak tanggung-tanggung lagi, kini aku sudah berani melanggar tidak mengikuti  jama’ah di pesantren. Kesalahan demi kesalahan mulai terlupakan kembali. Aku mulai 

menyesal, aku yang sekarang bukan lagi Seorang yang rajin belajar dan suka membaca.  Melainkan aku adalah seorang yang tak lagi punya malu untuk berbuat kesalahan. 

Cahaya rembulan sudah bersinar sempurna. Desir angin dan keheningan malam mulai  ku rasakan. Aku berjalan penuh dengan rasa penyesalan. Rasanya tak layak lagi kata maaf  terucapkan untuk diriku. Begitu banyak kesalahan yang kulakukan. 

“Kok diam? Mikirin apa?” tanya Andik, yang seketika membuyarkan lamunanku. “Nggak kok, aku cuma ngantuk doang.” kataku berbohong. 

“Beneran nih nggak ada apa-apa?” tanya Andik memastikan.“Iya… beneran…. habis ini  aku mau langsung tidur aja.” bohongku kemudian.

Selepas subuh, aku dipanggil oleh Ketua Keamanan Pondok. Akupun langsung pergi  untuk menemuinya di Kamar Pengurus. Betapa tertegunnya aku ketika mendapati semua  Pengurus sie. Keamanan sudah menunggu sedari tadi. 

“Kalau boleh tahu, ada keperluan apa yah Kang, kok tumben aku dipanggil…?” tanyaku  seraya hatiku berdebar. 

“Habis dari mana aja kamu semalam?” tanya Kang Samsul. “Semalam?” Perasaanku  tiba-tiba nggak enak. “Semalam aku nggak kemana-mana kok, aku semalam habis nyuci baju.”  ucapku kemudian. 

“aku sebenarnya sudah tahu, aku hanya ingin kamu jujur.” katanya. 

“Iya Kang, maafin aku, aku jujur, semalam habis keluar tanpa izin.”  

“Begitu caramu membalas jerih payah orang tuamu ? Ha… ?!” bentaknya. “iya, Kang, maaf.” 

“Orang tuamu capek-capek cari nafkah buat biayain kamu, eh…. kamu di sini malah  enak-enakan pergi main playstation tiap hari.” 

“Mana rasa tanggung Jawabmu sebagai santri? Beginikah caramu menyikapi pesantren  ini?” 

“Kamu di sini dibimbing agar bisa menjadi orang yang bertanggung Jawab. Orang  disiplin. Bagaimana kecewanya mbah Sahal jika mengetahui santrinya yang tidak disiplin  seperti kamu!” kata-kata itu menusuk hatiku. nyeri. Perih. Sakit tak terkira. Sampai aku tidak  bisa berkata kata selain menyesali perbuatanku sendiri. 

“Aku ingin berbagi sedikit cerita denganmu. Dulu, ketika hendak jama’ah, Mbah Sahal  mendapati mushola hanya berisi beberapa orang saja. Mbah Sahal langsung pergi  meninggalkan mushola begitu saja, dan nggak jadi mengimami sholat berjama’ah sampai  akhhir hayat beliau tidak mengimami. Beliau adalah sosok kiai yang sangat disiplin dan sangat  menghargai waktu. Setidaknya kalau kamu merasa sebagai santri Maslakul Huda, tunjukkanlah  pada semua orang, bahwa inilah santri Maslakul Huda. Pesantren yang menjunjung tinggi nilai  kedisiplinan. Bukan kok malah pergi ke tempat warnet seperti itu. Selain melanggar peraturan,  kamu juga menghambur-hamburkan uangmu sendiri, kamu juga menyia-nyiakan waktu, yang  seharusnya Kamu gunakan untuk belajar dan istirahat, malah kamu gunakan untuk begituan.”

“Iya Kang, Sekali lagi aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” 

“Iya….. nggak apa-apa, yang sudah biarkanlah berlalu. Yang penting, jangan diulang  lagi.” 

“aku terusin lagi ya….. Cerita yang tadi, agar kamu lebih tau mendalam tentang sejarah sejarah pesantren kita. Jadi… awal mula kecimpung (Hukuman berdiri Selepas Jama’ah) itu  juga ada sangkut pautnya dengan cerita tadi. Dulu Setelah kejadian itu, para santri sepakat.  Siapapun yang telat datang ke musala akan dihukum berdiri sampai selesai pembacaan  sholawat.” sambungnya kemudian. 

Jadi …… Ternyata kecimpung itu awal mulanya karena itu yah….. Sekian lama aku mondok di sini, baru ini aku tahu sejarahnya.” Gumamku dalam hati. “aku sangat berterima  kasih karena njenengan sudah mengingatkan. Terima kasih juga karena njenengan sudah repot repot mau bercerita itu semua dengan aku,” 

“Iya mar, sama-sama.” 

“Demi menebus apa yang telah aku perbuat, aku siap untuk dihukum apapun.” ucapku  kemudian. 

“Yaudah., Sesuai dengan kebijakan, Kamu dihukum selama satu minggu penuh, kamu  dikenai hukuman adzan selama satu minggu ini tanpa absen sama sekali. Jika kamu berani  absen satu kali saja, aku tambahin hukumannya menjadi dua minggu. Dan selama itu juga,  ketika jama’ah kamu harus berada di shaf paling depan. Sudah, Itu saja yang perlu aku  sampaikan. Kamu boleh kembali lagi ke kamar.” 

aku mencium takzim punggung tangan Kang Samsul (Ketua Keamanan) dan pengurus  yang lainnya. 

*** 

Satu minggu berlalu, aku sudah tidak lagi sama seperti yang kemarin. Keadaan ini kian  membaik seperti semula, sebelum aku mengenal orang itu (Andik). Semenjak kejadian itu  banyak hal yang aku ambil pelajari, banyak pula pengalaman-pengalaman indah semasa satu  pekan terakhir ini. 

“Habis dari mana Mar?” Tanya Kang Samsul. 

“Habis beli jajan, Kang.”

“Terus mana jajannya, kok aku nggak dikasih?” 

Aku tersentak ketika mendengar apa yang barusan ia katakan. 

“Hahaha..” ia terbahak. “Nggak kok, bercanda doang… Serius amat.” sambungnya. “Kang, terima kasih ya..!” 

“Terimakasih buat?” 

“Iya, terima kasih karena njenengan sudah menyadarkan aku,” aku beranjak  mendekatinya. “Semenjak aku dihukum, aku mulai menyadari bahwa disiplin itu adalah  pokok keberhasilan. Dan aku sangat bersyukur berada di pesantren ini. Meskipun belum terlalu  lama disini. Tetapi Alhamdulillah. Lama kelamaan aku bisa lebih mengenal Mbah Sahal 

Mahfudh. Beliau adalah tokoh yang sangat hebat. Selain menjadi guru di madrasah dan di  Pesantren, beliau juga berperan penting dalam Lembaga Pendidikan. Teladan beliau sangat aku kagumi dan aku banggakan.” 

“Syukurlah jika kamu sudah berubah, yang terpenting ialah jangan pernah lupakan  siapa gurumu. Mau sehebat apapun dirimu, semua itu tidak ada apa-apanya tanpa adanya  seorang guru. Ada satu pesan Mbah Sahal Mahfudh yang perlu kamu ingat.” 

“Apa itu, Kang?” tanyaku penasaran. 

“Seorang santri jangan sampai lupa dengan guru-gurunya, setelah selesai sholat  hendaknya mendoakan gurunya. Minimal membacakan Al-Fatihah untuk beliau-beliau.” 

aku menunjukan wajah kegembiraanku. aku tidak sanggup lagi untuk tidak  memeluknya. Sekalipun aku tidak ingin meluapkan perasaan ini. Pada akhirnya aku  memeluknya juga, sambil meneteskan air mata yang tak terbendungkan  

“Perjuangan beliau memanglah sudah berakhir. Namun, teladan dan petuah-petuah  beliau akan selalu terukir di dalam hati para santri. Semangat juang kami (para santri) akan  terus berkobar untuk meneruskan perjuangan beliau.” ucapku seketika. semenjak kejadian itu  aku mencoba belajar untuk disiplin seperti yang dilakukan oleh Mbah Sahal Mahfudh.

Leave A Reply

Your email address will not be published.