BAZNAS Dorong Fundraising Zakat Berbasis Nilai dan Transformasi Donasi Menjadi Pemberdayaan Umat

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus memperkuat transformasi pengelolaan zakat dengan mengedepankan pendekatan fundraising berbasis nilai (value) yang tidak hanya menghimpun dana, tetapi juga mendorong perubahan pada donatur dan mustahik. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjawab tantangan kemiskinan sekaligus memperkuat peran zakat sebagai instrumen pembangunan sosial dan ekonomi nasional.

Pimpinan Bidang Pengumpulan BAZNAS RI, Rizaludin Kurniawan menegaskan bahwa pengumpulan zakat tidak bisa disamakan dengan aktivitas penjualan produk. Menurutnya, fundraising zakat merupakan proses pertukaran nilai antara donatur dan kemanfaatan sosial yang dihadirkan.

“Dalam pengumpulan zakat, kita tidak bicara produk, tetapi bicara value. Donatur memberikan dana, tenaga, hingga pengaruhnya, dan BAZNAS bertugas mengantarkan mereka pada kemanfaatan yang lebih besar,” ujar Rizal dalam talkshow di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Senin, (02/02/26).

Pembenahan juga dilakukan terhadap sistem pengumpulan, mulai dari penguatan komunikasi dan literasi zakat, perluasan kanal pembayaran melalui lebih dari 120 platform digital dan puluhan perbankan, hingga perbaikan layanan dan pengelolaan basis data donatur. Upaya ini berdampak pada meningkatnya kepercayaan publik. Rizal mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir BAZNAS berhasil mengembalikan donatur yang sebelumnya kapok berdonasi, dengan tingkat retensi mencapai sekitar 60 persen.

Sementara itu, Pimpinan Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan BAZNAS RI, Saidah Sakwan menekankan bahwa transformasi pengumpulan harus berjalan seiring dengan penyaluran yang tepat sasaran. Ia mengingatkan, Indonesia masih menghadapi tantangan kemiskinan yang besar, dengan jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 25,4 juta jiwa, termasuk kelompok miskin ekstrem di desil 1 dan 2.

“Makanya yang dilakukan oleh BAZNAS adalah mengurangi beban pengeluaran dan pemenuhan akses dasar. Kalau anak-anak dari miskin ekstrim tidak punya akses sekolah, maka kita harus kasih beasiswa,” ujar Saidah.

Selain pemenuhan kebutuhan dasar, BAZNAS juga menjalankan program pemberdayaan ekonomi bagi mustahik pada desil menengah melalui berbagai program produktif, seperti Z-Coffee, Z-Chicken, Z-Food, dan Z-Auto. Program ini ditujukan untuk mendorong mustahik naik kelas sosial hingga mencapai target moving out of mustahik, yakni bertransformasi dari penerima zakat menjadi pemberi zakat.

Dalam kesempatan yang sama, kalangan media menilai narasi pengelolaan zakat sebagai bagian dari sistem ekonomi modern harus diperkuat. Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin menyebut zakat sebagai arsitektur ekonomi modern yang mampu menjembatani aspek spiritual dan kesejahteraan sosial. Sementara itu, Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin menegaskan pentingnya penggunaan storytelling dalam menyampaikan pesan “charity menuju empowerment”.

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.