Setelah dinyatakan lolos seleksi pada program Worldwide Dakwah NU 2026, hari itu menjadi salah satu titik balik paling emosional dalam perjalanan hidup saya.
Beragam rasa menyatu dalam dada, antara haru yang menyesakkan dan bahagia yang meluap. Ada kebanggaan karena dipercaya mengemban amanah dakwah lintas negara, namun juga ada getir yang tak terelakkan, karena harus berpisah dengan keluarga. Terlebih ketika panitia menetapkan saya untuk menjalankan misi dakwah di sebuah negeri yang secara peradaban dan ekonomi tergolong maju.mJepang, nama yang hampir semua orang kenal. Sebuah negara di Asia Timur yang selalu disebut sebagai mercusuar teknologi dunia, disiplin sosial, serta perkembangan sepak bola yang melesat signifikan dalam dua dekade terakhir.
Kesedihan terasa kian nyata karena keberangkatan dilakukan pada bulan suci yang penuh berkah. Meninggalkan keluarga dalam suasana batin yang biasanya diisi dengan kebersamaan tentu bukan perkara ringan. Namun di sisi lain, ada rasa syukur dan kebahagiaan karena misi dakwah tersebut akan berlangsung di negara dengan tingkat sumber daya manusia yang sangat tinggi. Saya memaknai perjalanan ini bukan hanya perpindahan geografis, melainkan perjumpaan dua peradaban, yakni nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘âlamîn dengan kultur masyarakat Jepang yang tertib, bersih, dan penuh etos kerja. Orang sering melihat Jepang sebagai miniatur dari nilai-nilai Islam, sebagaimana masyhur dikatakan: “Raitul Islâma walam Aral Muslimîn”, aku melihat Islam tapi tidak melihat orang muslim.
Perjalanan menuju Jepang akan dimulai pada hari Minggu, 22 Februari 2026. Saya berangkat bersama salah satu dai senior sekaligus Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Tengah, Dr. KH. Saiful Amar, M.Si. Dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB, kami meninggalkan rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Suasana malam yang sunyi akan menjadi saksi langkah awal misi ini. Sekitar pukul 01.30 WIB kami tiba di bandara. Meski berangkat bersama, jadwal penerbangan kami menuju Kuala Lumpur untuk transit berbeda. Kyai Saiful Amar dijadwalkan lepas landas pada pukul 05.10 WIB, sedangkan saya baru akan menyusul pada pukul 08.30 pagi.
Perpisahan sementara di terminal keberangkatan itu terasa unik, karena kami menuju tujuan yang sama, tetapi dengan rute waktu yang berbeda. Saya memanfaatkan jeda sebelum keberangkatan untuk merenung, menata niat, sekaligus membayangkan bagaimana dakwah akan diterima di negeri minoritas Muslim tersebut. Penerbangan menuju Kuala Lumpur berlangsung relatif singkat, namun pikiran saya terus berkelana jauh, melampaui awan yang kami lintasi.
Kami kembali bertemu di Bandara Internasional Kuala Lumpur sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Pertemuan itu terasa seperti reuni singkat dua musafir yang sama-sama memikul amanah. Tanpa berlama-lama, kami bersama-sama menuju pesawat AirAsia yang akan membawa kami terbang ke Haneda International Airport di Tokyo, Jepang. Penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Tokyo ditempuh kurang lebih enam jam. Di dalam kabin, saya mencoba beristirahat, meski sulit memejamkan mata sepenuhnya karena rasa antusias yang terus menggelora.

Akhirnya, sekitar pukul 22.45 waktu Jepang, pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Haneda. Lampu-lampu kota Tokyo yang tertata rapi terlihat dari balik jendela pesawat, menghadirkan kesan pertama yang begitu mengagumkan. Setelah mengurus administrasi imigrasi yang tertib, kami melangkah keluar dari area kedatangan internasional. Di sana, kami disambut hangat oleh Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jepang, KH. Ahmad Ghazali, Ph.D., bersama para pengurus Masjid Nusantara Akihabara, Tokyo. Sambutan itu menjadi pengobat lelah setelah perjalanan panjang.
Dari bandara, kami menuju kediaman Gus Hasan al-Rasyid, salah satu pengurus Masjid Nusantara Akihabara. Tanpa banyak jeda, malam itu juga kami beranjak ke Masjid Nusantara Akihabara untuk bersilaturahmi dan berbagi cerita dengan para ekspatriat Indonesia di Jepang. Obrolan yang mengalir hangat di ruang masjid menghadirkan rasa kekeluargaan yang tak terduga. Di tengah negeri dengan budaya yang sangat berbeda, kami menemukan rumah kedua.
Dalam perbincangan tersebut, Ketua PCINU Jepang, Kyai Ghazali, menjelaskan bahwa jumlah masyarakat Muslim di Jepang cukup signifikan. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya berbagai masjid di kota-kota besar seperti Tokyo, Toyohashi, Niigata, dan beberapa kota lainnya. Fakta tersebut juga membuka mata saya bahwa geliat Islam di Jepang bukanlah sesuatu yang kecil. Ia tumbuh perlahan, berdampingan dengan budaya lokal yang kuat.
Salah satu hal yang menurut saya terasa unik adalah pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Nusantara Akihabara. Karena banyaknya jamaah, shalat Jumat di sana dilaksanakan dalam dua kloter. Kloter pertama akan dimulai pukul 12.05 waktu Jepang, sedangkan kloter kedua pada pukul 13.05. Saya menerima amanah untuk menjadi imam dan khatib pada pelaksanaan shalat Jumat tanggal 27 Februari di kloter kedua. Sementara pada kloter pertama, yang bertindak sebagai imam dan khatib adalah Syaikh Ahmad Maeno Sensei.
Pelaksanaan dua kloter tersebut bukan tanpa alasan. Selain mempertimbangkan keterbatasan kapasitas tempat, kebijakan itu juga diambil demi menjaga ketertiban dan meminimalisir kegaduhan. Jepang adalah negara yang masyarakatnya sangat menjunjung tinggi ketenangan dan ketertiban. Sebagai kaum minoritas, menjaga harmoni sosial menjadi prinsip yang harus diutamakan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna pepatah: “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Dalam khazanah fikih Islam, kita mengenal kaidah:
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
“Adat kebiasaan dapat dijadikan landasan hukum”.
Demikian pula kaidah lain yang menyatakan:
لاَ يُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْحُكْمِ بِتَغَيُّرِ الأَمْكِنَةِ وَالأَزْمَانِ
“Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum berkaitan dengan perubahan tempat dan masa”.
Kedua kaidah tersebut akan terasa sangat relevan dalam konteks dakwah di Jepang. Pelaksanaan shalat Jumat dalam dua gelombang bukanlah suatu yang perlu dipersoalkan, melainkan sebagai bentuk ijtihad sosial demi kemaslahatan umat. Hukum dapat beradaptasi sesuai tempat dan waktu, selama tujuan syariat, menjaga kemaslahatan tetap terpelihara.
Terakhir, saya menyadari bahwa Jepang tidak hanya soal destinasi. Ia merupakan ruang belajar tentang toleransi, adaptasi, dan kebijaksanaan dalam berdakwah. Di negeri yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam, saya justru menemukan pelajaran tentang bagaimana menjadi Muslim yang santun, bijak, dan kontekstual. Perjalanan ini bukan hanya tentang jarak ribuan kilometer, tetapi tentang memperluas cakrawala dakwah dalam bingkai kemanusiaan yang bersifat universal. (Khoeron)