Aplikasi ‘KangSantri AI’ Diluncurkan, Integrasikan 7.000 Kitab Kuning untuk Jawab Persoalan Hukum Islam
RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Di tengah masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sebuah inovasi berbasis keislaman resmi diluncurkan dengan nama “KangSantri AI”. Selain dapat digunakan melalui aplikasi, AI tersebut juga dapat diakses melalui website santriai.com.
Aplikasi yang kini telah mencapai versi keempat tersebut hadir dengan keunggulan integrasi data yang mencakup 7.000 kitab kuning guna menjawab berbagai persoalan hukum Islam.
Founder atau CEO KangSantri AI, Arif Balya menegaskan bahwa kehadiran teknologi ini merupakan keniscayaan yang harus dimanfaatkan oleh dunia dakwah Islam. Melalui peluncuran ini, terdapat visi besar untuk mencetak generasi santri yang menguasai teknologi masa depan.
“Ketika kita tidak bisa menghentikan perkembangan zaman, maka dakwah kita lah yang harus menyesuaikan zaman,” ujar Arif dalam forum yang diinisiasi oleh Lakpesdam PBNU, di Jakarta, Rabu, (17/6/26).
Inisiasi pembuatan KangSantri AI ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap dominasi mesin pencari dan model kecerdasan buatan global yang dikembangkan oleh pihak non-muslim, yang dinilai kurang akurat dalam merepresentasikan narasi hukum Islam yang moderat.
“Bagaimana bisa kita memasrahkan agama kita ke AI yang mohon maaf buatan orang non-muslim. Itu paradok loh, itu lucu loh. Kamu tanya agama Islam ke AI buatan non-muslim. Logika saya enggak ketemu,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar konten keislaman di internet saat ini belum sepenuhnya dikuasai oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga keberadaan KangSantri AI menjadi filter penting agar pemahaman keagamaan masyarakat tidak tergiring ke arah yang keliru.
Kendati mengusung nama ‘Santri’, aplikasi ini ditegaskan bukan ditujukan bagi para santri yang saat ini masih aktif menempuh pendidikan di dalam pondok pesantren (mondok). Pembatasan ini bertujuan untuk menjaga logika dan daya pikir kognitif santri agar tidak ketergantungan pada alat instan dalam membaca kitab. Sebaliknya, target utama aplikasi ini adalah masyarakat umum yang memiliki keterbatasan waktu untuk belajar agama secara khusus, serta para alumni pesantren yang kini sudah mengabdi dan mengajar di tengah masyarakat.
Untuk pengembangan ke depan, Arif berharap adanya dukungan publikasi yang luas serta inisiasi pembuatan database kitab turats terpusat yang dapat menjadi rujukan warga NU. Ia juga menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga independensi institusi demi mengawal visi dan misi awal program ini secara murni.
Menanggapi peluncuran tersebut, Praktisi Digital, Hasanuddin Ali menilai kehadiran inovasi ini akan memperkaya khazanah digital Islam sekaligus memperkuat literasi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di ruang siber. Keberadaan teknologi ini diharapkan mampu mempercepat penyebaran pemahaman keagamaan yang ramah dan moderat kepada warga NU dan umat muslim secara umum.
(Anisa)