RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengungkapkan bahwa dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama terdapat wacana untuk memperluas batasan larangan rangkap jabatan bagi pengurus harian di seluruh tingkatan organisasi.
Menurut Gus Ulil, prinsip larangan rangkap jabatan dalam tubuh NU merupakan hal yang sudah qat’i (pasti dan tidak bisa ditawar). Aturan ini dirancang sebagai firewall untuk menjaga independensi organisasi dari tarik-menarik kepentingan politik praktis.
“Tapi perangkap jabatan itu tidak bisa ditawar. Karena memang tujuan kita itu adalah mempertahankan semangat khittah 26 yang dulu diputuskan pada saat Muktamar Situbondo tahun 84, yaitu menjaga independensi NU dari partai politik,” ujar Gus Ulil di Gedung PBNU, Jakarta, pada Rabu (12/08/26).
Beliau menyebut aturan yang berlaku saat ini melarang perangkapan jabatan pada posisi-posisi kunci tertentu, seperti Rais Aam, Wakil Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum, Wakil Ketua Umum. Namun, menjelang Muktamar Ke-35, muncul usulan agar batasan tersebut diperketat.
“Nah apakah nanti ada usulan baru misalnya, ini ada wacana juga, seluruh pengurus NU baik di tingkat pusat maupun daerah tidak boleh melakukan perangkapan. Pengurus harian ya, pengurus harian itu ketua, kemudian sekretaris, bendahara. Itu tidak boleh melakukan, itu salah satu wacana,” kata Gus Ulil.
Kendati demikian, Gus Ulil menyebutkan bahwa batasan teknis mengenai posisi mana saja yang dilarang dirangkap masih akan diperdebatkan secara dinamis di Komisi Organisasi.
Usulan perubahan tersebut nantinya masuk dalam agenda revisi Anggaran Rumah Tangga (ART) NU. Keputusan akhir baru akan ditetapkan setelah disepakati di tingkat komisi dan diketuk dalam Sidang Pleno Muktamar.
Selain membahas isu-isu penting Muktamar Ke-35 NU, Gus Ulil juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini sudah muncul sekitar enam hingga tujuh nama kandidat yang berpotensi maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum.
“Ini muktamar yang termasuk seru karena banyak kandidatnya. Jadi dibanding dengan Muktamar ke-34 di Lampung, Muktamar ke-35 di Tambak Beras ini rame kandidat,” ujar Gus Ulil.
Menurutnya, tingginya dinamika pencalonan ini merupakan sinyal positif bagi masa depan organisasi. Banyaknya figur yang muncul menunjukkan tingginya kepedulian dan gairah para tokoh NU untuk membesarkan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, sekaligus memberikan banyak pilihan alternatif bagi warga Nahdliyin.
Banyaknya calon yang muncul diprediksi akan menghadirkan berbagai dinamika menarik, baik pada masa persiapan maupun saat forum tertinggi NU tersebut berlangsung.
“Bagi saya itu menandakan kegairahan tokoh-tokoh NU untuk membesarkan organisasi,” katanya.
(Anisa)