Ketenangan Mendatangkan Kebahagiaan 

0

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

 

Kecemasan dan keresahan yang terjadi pada manusia kebanyakan disebabkan oleh cara berpikir yang salah, yaitu mereka selalu ketakutan terhadap hal-hal yang buruk yang akan menimpa diri.

Padahal, keburukan atau bencana yang ditakuti itu belum tentu akan terjadi dan justru kebanyakan tidak terjadi. Keadaan seperti ini, sering dialami oleh orang-orang yang tidak bertawakkal kepada Allah dan tidak mau menghayati firman-Nya yang menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Padahal, dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa barang siapa yang bertakwa, berserah diri dan bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupi segala kebutuhannya, baik lahir maupun batin.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga semula. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi segala sesuatu. (QS. Al-Thalaq, 65:2-3).

Segala peristiwa yang terjadi yang menimpa umat manusia, termasuk yang terjadi pada alam semesta semua berdasarkan takdir dari Allah s.w.t. yang tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Karena itu, setiap orang muslim harus memiliki kemampuan untuk menerima ketentuan yang terjadi padanya dan mengembalikan semuanya kepada Allah s.w.t..

Seandainya umat manusia senantiasa berpegang teguh pada firman Allah dan berpegang teguh pada bimbingan rasul-Nya, niscaya ia akan memperoleh ketenangan dan ketentraman. Selanjutnya ia akan mendapatkan kebahagiaan yang tinggi, baik dalam kehidupan dunia, maupun dalam kehidupan akhirat. Agar seseorang memiliki kemampuan tawakkal yang tinggi, hendaklah dia berzikir mengingat Allah s.w.t. yang sebanyak-banyaknya dalam segala keadaan.

Dengan berzikir dan bertasbih pada Allah, maka seseorang akan memperoleh ketenangan yang sangat didambakannya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. Al-Ahzab, 33:41-42).

Beribadah dan mengagungkan Allah, hendaknya dilakukan oleh setiap orang muslim dengan bersungguh-sungguh dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan tunduk dan patuh. Hal itu terus dilakukan sampai ajal menjemputnya.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖࣖ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian). (QS. Al-Hijr, 15:99).

Manusia sering mengkhawatirkan terhadap rizki yang akan diperolehnya, baik lahir maupun batin, rizki berupa materi, atau jabatan dan kedudukan. Padahal Allah telah menjamin rizki semua makhluk-Nya, termasuk makhluk kecil yang hidup di dalam batu.

۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (QS. Hud, 11:06).

Kehiduapan dunia hanyalah suatu kesenangan dan permainan yang bersifat sementara. Kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang hakiki yang bersifat kekal dan abadi. Segala peristiwa yang terjadi pada alam semesta ini semuanya telah ditetapkan dalam lauhil mahfudz. Karena itu, tidak ada yang harus disesali, malah sebaliknya harus dihayati dan dipahami.

Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa orang-orang yang bertawakkal kepada Allah digambarkan seperti kehidupan yang dialami oleh bangsa burung. Burung itu di waktu pagi tempoloknya kosong, tidak ada makanan sedikitpun, kemudian ia berusaha ke sana kemari mencari rizki, maka pada sore harinya tempoloknya penuh dengan makanan.

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ؛ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ: تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا.

Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Tirmidzi, 2344).

Sekiranya umat manusia bertawakkal kepada Allah dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan kepasrahan yang total, maka ia akan terlepas dari segala macam ketakutan dan keresahan. Ia juga terlepas dari kegelisahan dan kekacauan pikiran. Sebaliknya, orang itu akan memperoleh ketenangan yang luhur dan memperoleh kebahagiaan yang hakiki, baik dalam kehidupan dunia, maupun dalam kehidupan akhirat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.