Dr. (C). Acep Sutisna, M.Pd.
Dai Go Global – Korea Selatan 2026
Founder of Al – Karima Foundation Kota Sukabumi
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَرْضَ مِهَادًا وَّالْجِبَالَ أَوْتَادًا، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لِّعِبَادِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بُعِثَ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah yang telah menghamparkan bumi sebagai tempat berpijak, memancangkan gunung-gunung sebagai pasak, dan menurunkan air hujan dari langit hingga tumbuh dari bumi itu segala macam buah-buahan sebagai rezeki bagi hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w., sang rahmat bagi seluruh alam.
Dari atas mimbar ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan di antara wujud takwa yang paling sering kita lupakan adalah takwa dalam memperlakukan bumi, tanah yang kita injak, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup setiap hari secara cuma-cuma.
Saat ini kita memasuki bulan Rabiul Awwal, bulan kelahiran manusia agung, Sayyidina Muhammad s.a.w.. Di bulan ini, di seluruh penjuru negeri kita, akan bergema pembacaan shalawat, kisah maulid, dan tabuhan rebana. Masjid, mushala, hingga rumah-rumah warga akan dihiasi cahaya kegembiraan menyambut kelahiran sang kekasih. Ini adalah tradisi mulia yang telah dijaga para ulama Nusantara turun-temurun, dan Allah berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا
“Katakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS Yunus: 58)
Namun, izinkan khatib mengajukan satu pertanyaan yang menusuk hati kita bersama: sudahkah kegembiraan maulid itu kita terjemahkan bukan sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan menjadi sikap hidup yang meneladani akhlak Rasulullah kepada seluruh ciptaan? Sebab mencintai Nabi bukan hanya soal bibir yang basah berselawat, tetapi juga tangan yang meniru perbuatannya, dan hati yang menaruh kasih kepada apa yang beliau kasihi.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hari ini dunia sedang sakit. Ini bukan bahasa berlebihan seorang khatib. Ini adalah kenyataan yang kita rasakan sendiri. Musim tak lagi bisa ditebak. Petani di kampung kita bingung menentukan waktu tanam karena hujan datang di musim yang seharusnya kemarau, dan kemarau memanjang di saat yang seharusnya penghujan. Banjir bandang menerjang desa-desa yang dulu aman. Kota-kota besar seperti Jakarta perlahan tenggelam dan diselimuti udara kotor yang membuat anak-anak kita batuk. Di belahan bumi lain, kebakaran hutan melahap jutaan hektar, es di kutub mencair, dan permukaan laut naik mengancam pulau-pulau kecil, termasuk ribuan pulau di negeri kita sendiri.
Para ilmuwan menyebutnya krisis iklim (climate crisis). Tetapi jauh sebelum istilah itu lahir, Al-Qur’an telah menyebutnya dengan satu kata yang lebih dalam maknanya: al-fasâd, kerusakan. Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)
Renungkanlah, hadirin. Ayat ini turun lebih dari empat belas abad yang lalu, namun seolah baru diturunkan pagi ini untuk membaca berita di layar ponsel kita. Al-Qur’an dengan tegas menyebut sumber kerusakan itu: bimâ kasabat aidin-nâs “disebabkan perbuatan tangan manusia”. Bukan takdir buta, bukan nasib alam semata, melainkan buah dari keserakahan tangan kita sendiri: hutan yang digunduli demi keuntungan sesaat, sungai yang dijadikan tempat sampah, laut yang dicemari, dan bumi yang dikuras tanpa rasa syukur.
Hadirin yang berbahagia,
Di sinilah kita perlu menghidupkan kembali apa yang bisa kita sebut ekoteologi Rasulullah yakni cara pandang dan sikap hidup Nabi Muhammad ﷺ terhadap alam yang berakar pada keimanan kepada Allah. Bagi Rasulullah, alam bukanlah benda mati yang boleh diperlakukan semena-mena. Alam adalah tanda-tanda kebesaran Allah, sesama makhluk yang bertasbih, dan amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia diciptakan di bumi ini dengan dua tugas sekaligus. Yang pertama sebagai khalifah, pemimpin dan penjaga:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS Al-Baqarah: 30)
Dan yang kedua sebagai pemakmur bumi, sebagaimana firman Allah dalam surah Hud:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS Hud: 61)
Perhatikanlah, kata ista’marakum “menjadikan kalian pemakmur” bukan istahlakakum “menjadikan kalian penghancur”. Tugas kita adalah memakmurkan, bukan menghabiskan. Namun manusia modern justru membalik amanah ini: menjadi khalifah yang zalim dan pemakmur yang merusak.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita lihat bagaimana teladan Rasulullah ﷺ dalam hal ini betapa jauh beliau dari sikap serakah yang menjadi penyakit zaman kita. Pertama, Rasulullah adalah teladan dalam menanam dan menghijaukan. Beliau bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau menabur benih, lalu (buahnya) dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Lihatlah betapa luasnya kasih sayang dalam ajaran ini. Menanam pohon bernilai sedekah, bahkan sekalipun yang menikmati buahnya adalah seekor burung yang lewat atau hewan yang tak kita kenal. Islam menjadikan penghijauan sebagai ibadah, bukan sekadar proyek. Maka betapa terbaliknya keadaan kita hari ini, ketika menebang dianggap kemajuan dan menghijaukan dianggap menghambat pembangunan.
Bahkan dalam kondisi paling genting sekalipun, Rasulullah tetap memerintahkan menanam:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika kiamat tiba, sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah bibit tanaman, maka jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai menanamnya, tanamlah!” (HR Ahmad)
Subhanallah. Hadits ini seakan mengajarkan bahwa optimisme dan kerja merawat bumi tidak boleh padam bahkan hingga detik terakhir kehidupan. Bandingkanlah dengan sikap kita yang sering pesimis: “Untuk apa menanam, toh dunia sudah rusak?”
Kedua, Rasulullah mengharamkan pemborosan, termasuk pemborosan air. Suatu ketika beliau melewati Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang berwudhu, lalu bersabda: “Mengapa engkau boros?” Sa’ad bertanya: “Apakah dalam berwudhu ada pemborosan?” Rasulullah menjawab:
نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ
“Ya, sekalipun engkau berada di tepi sungai yang mengalir.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Renungkan, hadirin. Rasulullah melarang berlebihan memakai air bahkan di tepi sungai yang airnya melimpah! Ini adalah pelajaran ekologi yang luar biasa: hemat bukanlah karena air langka, melainkan karena boros itu sendiri adalah akhlak yang tercela dan pengkhianatan terhadap nikmat. Betapa jauhnya kita hari ini, yang membiarkan keran menetes, menyia-nyiakan listrik, dan membuang makanan seolah tanpa dosa.
Ketiga, Rasulullah menegakkan konsep hima, kawasan lindung. Beliau menetapkan wilayah tertentu di sekitar Madinah sebagai kawasan yang dilindungi, tempat pepohonan tidak boleh ditebang dan hewan buruan tidak boleh diganggu. Inilah cikal bakal cagar alam dan hutan lindung yang baru dikenal dunia modern belakangan ini. Islam telah mengenalnya empat belas abad silam.
Bahkan beliau menegaskan bahwa sumber daya alam yang vital adalah milik bersama:
الْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَأِ وَالنَّارِ
“Kaum muslimin berserikat (bersama-sama memiliki) dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api (energi).” (HR Abu Dawud)
Betapa relevannya sabda ini. Air, lahan, dan energi adalah hak bersama seluruh umat manusia, bukan milik segelintir orang yang berkuasa untuk dikuras demi keuntungan pribadi sementara jutaan orang lain kehausan dan kesulitan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengapa Rasulullah begitu lembut kepada alam? Karena beliau melihat alam bukan sebagai benda mati, tetapi sebagai sesama makhluk yang hidup dan bertasbih. Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ
“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka itu umat-umat (juga) seperti kalian.” (QS Al-An’am: 38)
Al-Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengingatkan bahwa alam semesta ini adalah “cermin” yang memantulkan keindahan dan kebesaran Sang Pencipta. Merusak alam, dengan demikian, bukan sekadar merusak benda, melainkan menodai ayat-ayat Allah yang terhampar (ayat kauniyah). Ibnul Qayyim al-Jauziyyah pun, dalam Miftah Dar as-Sa’adah, menulis panjang lebar tentang bagaimana setiap detail alam, dari sayap serangga hingga peredaran Bintang, adalah bukti hikmah dan rahmat Allah yang wajib direnungi, bukan dieksploitasi.
Inilah yang khatib maksud dengan ekoteologi Rasulullah: sebuah kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, dan merusaknya adalah bagian dari kufur nikmat. Allah dengan tegas melarang:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS Al-A’raf: 56)
Maka, di bulan Maulid ini, marilah kita perbarui makna kecintaan kita kepada Rasulullah s.a.w.. Sebab beliau diutus, sebagaimana firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)
Perhatikan, Allah tidak berfirman rahmatan lil-mu’minîn (rahmat bagi orang beriman saja), tidak pula lin-nâs (rahmat bagi manusia saja), melainkan lil-‘âlamîn, rahmat bagi seluruh alam: manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air, dan udara. Maka mengaku cinta Nabi tetapi merusak alam yang beliau kasihi adalah cinta yang pincang dan tidak utuh.
Kecintaan sejati kepada Rasulullah di bulan Maulid ini dapat kita wujudkan dengan hal-hal yang sederhana namun nyata: menanam satu pohon di halaman rumah, menghemat air dan listrik, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, tidak menyia-nyiakan makanan, serta menjaga sungai dan lingkungan sekitar kita. Sungguh, satu pohon yang kita tanam karena mencintai Sunnah Nabi jauh lebih bernilai daripada seribu status pujian di media sosial yang tak berbekas.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai Rasulullah dengan sepenuh hati dan sepenuh perbuatan, yang memakmurkan bumi dan tidak merusaknya, sehingga kita layak mendapat syafaat beliau kelak di hari kiamat.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، وَكَانَ رَحِيْمًا بِالْإِنْسَانِ وَالْحَيَوَانِ وَالنَّبَاتِ وَالْجَمَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاحْفَظُوا الْأَرْضَ الَّتِيْ جَعَلَهَا اللّٰهُ لَكُمْ أَمَانَةً. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَرْضَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَاصْرِفْ عَنَّا الْفَسَادَ وَالْبَلَاءَ وَسُوْءَ الْأَحْوَالِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.