Menulusuri Sanad Istighosah Bi Hadrati Rabbil Bariyyah Mbah Yai Romly Tamim

Banyak ulama Nusantara yang meninggalkan pusaka-pusaka berupa amalan atau istighasah (Awrod) kepada umat sebagai bekal dunia dan aherat. Salah satunya KH. Muhammad Romly Tamim atau yang dikenal sebagai Mursyid Thariqah Rejoso Peterongan. Kiai Romli Tamim tahun 1932 Baiat Toriqoh kepada KH Cholil Juraimi Rejoso (Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah).

Muhammad Romly Tamim lahir pada 1888 di Bangkalan, Madura. Putra dari KH Tamim Irsyad ini sukses menciptakan amalan bernama Istighasah Bi Hadrati Rabbil Bariyyah yang di susun dan ditulis pada tahun 1951.

Muhammad Romly Tamim pernah nyantri kepada KH. Kholil di Bangkalan. Kemudian setelah dirasa cukup belajar ke Kiai Kholil Bangkalan, beliau mendapat tugas untuk membantu KH Hasyim Asy’ari mengajarkan ilmu agama di Pesantren Tebuireng. Sampai ahirnya Beliau dijadikan sebagai menantu oleh Kiai Hasyim Asy’ari dinikahkan dengan putrinya yang bernama Izzah binti Hasyim pada tahun 1923 M.

Dalam menjaga kehalalan dan keorsinilan sebuah amalan, penting bagi mengamal untuk menyambung (muttasil) sanad dari sang pencipta hingga Nabi Muhammad SAW. “Jadi, soal kehalalan dan keorsinilitasan karya niku penting,” tutur Pengurus JQH PBNU, KH. Sholeh Qosim Daleman kepada Krew Majalah Risalah NU saat silaturrahmi di kediamannya Sidoarjo, Jawa Timur, Senin 23 Oktober 2023.

Dikatakannya, mengapa kehalalan dan keorsinilan sebuah amalan penting untuk di jaga dan didapatkan. Sebab banyak faktor yang mempengaruhi akan kemakbulan amalan tersebut, terutama soal keridhoan dan kemantapan. “Lha niki kulo ijazahaken jenengan, kersane halan terus tambah mantap ngamalne,” pesan Kiai Sholeh Qosim seraya menyodorkan buku panduan istighasah bi hadrati rabbil bariyyah.

Soal sanad istighasah, Kiai Sholeh Qosim mengaku mendapatkan ijazah Istighasah bi hadrati rabbil bariyyah yang diciptakan KH. Muhammad Romly Tamim di ijazahkan kepada putranya KH. A. Tamim Romly kemudian di ijazahkan kepada Dr. KH. M. Sholeh Qosim Daleman atau Katib PCNU Sidoarjo, Jawa Timur. Kemudian di ijazahkan kepada jamaah yang mengikuti ijazahan.

Kiai Sholeh Qosim Daleman bercerita, bahwa untuk mendapatkan ijazah istighasah bi hadrati rabbil bariyyah tidak mudah dan membutuhkan masa yang panjang. Bahkan pihaknya harus berkali-kali meyaqinkan kepada Mu’jiz (orang yang memberi ijazah) yakni KH. A. Tamim Romly untuk siap menjaga amanat dan siap mengamalkan amalan tersebut. Terutama soal menggapai keridhoan dari sang guru sekaligus pencipta istighasah (KH Muhammad Romly Tamim).

Pasalnya, jauh-jauh hari sudah beredar luas khususnya dikalangan warga nadhliyyin bahwa sudah berjalan lama sebuah tradisi istighasah melalui selembaran istighasah karangan Hadrotuss Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Nyuwon sewu, sekali lagi saya tidak ada niatan untuk mbanding-mbandingne’ antara istighasah satu dengan lainnya, semuanya bagus (sae’), monggo di amalne,” tutur Kiai Sholeh Qosim Daleman

Wajar, jika ada kekhawatiran dari sang Mu’jiz disuatu saat nanti, istighasah bi hadrati rabbil bariyyah tidak di amalkan atau bahkan di tinggalkan.  “Temenan ta? Inggih Yai, kulo sebagai pribadi bertanggunjawab penuh, bukan karena pengurus NU,” jawab Kiai Sholeh Qosim Daleman meyaqinkan KH. A. Tamim Romly usai matur minta ijazahan saat sowan ndalem.

Sebuah keyaqinan butuh pembuktian dan atas dasar keridhaan dan kepercayaan itulah, ahirnya Mu’jiz yang merupakan putra dari KH Muhammad Romly Tamim meberikan ijazah istighasah bi hadrati rabbil bariyyah untuk di amalkan dan disebarluaskan kepada jamaah.

Alhamdulillah, kemudian saya di bai’at (ijazahan) untuk mengamalkan amalan istighasah tersebut,” ungkapnya.

Kiai Sholeh Qosim mengakui saat menerima ijazah, sempat khawatir dan tidak percaya diri untuk bisa istiqomah bisa mengamalkan istighasah tersebut, namun karena takut kuwalat, dan apalagi sudah janji serta sudah di baiat, ia pun harus bertanggunjawab dan menyebarkan secara luas amalan tersebut.

Dengan niat tulus ikhlas mencari keberkahan dan rasa tanggunjawab, Kiai Sholeh Qosim Daleman menyebarkan amalan istighasah bi hadrati rabbil bariyyah dari mulai jamaah di sekitar lingkungannya sampai jamaah di penjuru nusantara.

Alhamdulillah, jamaah pengajian di tempat Kiai Manan yang berada di Jakarta sudah rutin mengamalkan istighasah ini,” ungkap pengurus LTM PBNU priode 2010 ini.

Menurut Kiai Sholeh Qosim, istighasah bi hadrati rabbil bariyyah bukan sembarang amalan, karena proses pembuatan istighasah di tirakati Mbah Yai Romly Tamim dengan melaksanakan riyaddloh dan puasa selama 13 tahun. Dan banyak sirri (rahasia) yang tidak banyak diketahui oleh jamaah. Seperti, ada amalan didalam istighasah ini dari Mbah Hasyim Asy’ari, Syekh Abdul Kadir al Jaelani, Njeng Nabi Muhammad sampai Malaikat Jibril.

“Suatu hari kulo nate istighosah bareng jamaah buanyak, ada pedagang ikut istighasah bercerita usai istighasah, dia merasakan keanehan setelah mengikuti istighasah niki, dan masih banyak lagi keanehan-keanehan lainnya,” ceritanya. “Seng penting ikhlas, sumeleh, madep mantep, Insyaallah,” tambah Kiai Sholeh Qosim.

Urutan Istighasah

Nah, soal urutan amalan istighasah, lanjut cerita Kiai Soleh Qosim, istighasah ini idealnya di baca total, terutama hadiah fatihanya (tawasul). “Kalau di tambah monggo tapi kalau di rubah jangan,” ujarnya menirukan sang Mu’jiz sambil menunjukan buku panduan istighasah bi hadrati rabbil bariyyah.

Lha, soal jumlah bacaan seratus kali, bagusnya di baca sesuai dengan jumlahnya, tapi kalau waktunya tidak memungkinkan atau ada hajat lain, boleh di baca tiga kali.  “Terus sae ne’ di baca sendiri dulu, kemudian di amalkan bareng-bareng,” ungkapnya.

Kiai Soleh Qosim pun berpesan, di ahir amalan istighasah, jangan sampai lupa membaca yasin fadilah, karena intinya doa ada di Yasin fadilah.  “Ojo sampek nggak di baca doa-doanya niki, niku penting, ikhlas dan khusuk,” tuturnya.

Wal hasil, kemudian Kiai Sholeh Qosim Daleman mengijazahkan amalan istighasah bi hadrati rabbil bariyyah kepada seluruh krew Majalah Risalah NU untuk isitiqomah mengamalkan amalan tersebut. “Qobilltu,” jawab Redaktur Pelaksana Huda Sabily saat menerima ijazah istighasah tersebut dihadapan krew lainnya.

Rencananya, setelah menceritakan perihal amalan istighasah bi hadrati rabbil bariyyah kepada pimpinan redaksi. Sepakat, bahwa seluruh crew majalah Risalah NU akan rutin sebulan sekali melakukan istighasah dan doa’ bersama dan dimulai pada awal bulan November 2023. (Huda Sabily)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.