Ziarah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kalimantan

Saat perhelatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional Kesembilan dan tingkat Internasional ketiga yang digelar Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) di Kota Peleihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, pada Selasa 5-7 September 2023.

Sebagian awak media peliput MTQ berkesempatan untuk melakukan tabarurrukan dan ziarah ke berbagai makam para ulama dan waliyullah yang berada di tanah Banjar, Martapura, Kalimantan Selatan.

Setelah janjian, sekitar pukul 11. 00 WIT malam, dari Hotel Sehari, Kota Peleihari rombongan awak media di jemput oleh Duta wisata Kalimantan Selatan, Nanang Khaled bersama tim menuju Banjar untuk berziarah. Kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mobil Ayla berwarna putih berkecepatan tinggi melewati ruas jalanan malam yang gelap, dan tibalah di kota Banjar.

Tempat ziarah yang kali pertama di kunjugi adalah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, kemudian Guru Sekumpul dan terahir ziarah makam KH. Abdul Qadir Hasan atau “Guru Tuha” yang wafat pada 11 Rajab 1398 Hijriah atau 17 Juni 1978 Masehi pada umur 87 tahun, dan di makamkan di Pasayangan Utara, dekat Masjid Agung Al-Karomah, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan.

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Syekh Muhammad Arysad adalah ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Ia lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun. Ia hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah.

Banner dalam Post 300 x 416

Semasa hidup, ia mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian dan menulis Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. Ketika kecil Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari telah menunjukan kepandaianya, begitu juga akhlak dan budi pekertinya yang baik dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah pada seni melukis dan seni tulis.

Pada suatu waktu, saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang ketika itu berumur 7 tahun. Terkesan lukisan dan kepandaian yang dimilikinya, maka Sultan meminta pada orang tua agar Muhammad Arsyad sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Di istana, ia tumbuh menjadi anak yang baik, berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang, termasuk Sultan. Sang Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena Sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Karomah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Sebagai waliyullah, tentu banyak karomah yang diberikan Allah Swt kepada hambanya. Salah satunya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampaian) sebagai seorang ulama besar dan Mufti Kesultanan Banjar di masa Sultan Tahmidullah II sekitar tahun 1772 silam.

Datu Kalampayan itu menuntut ilmu atau mengaji di Mekah selama 30 tahun dan keilmuannya telah diakui oleh para ulama Mesir juga banyak memiliki banyak karomah.

Menurut kisah cerita dari Duta wisata Kalimantan Selatan, Nanang Khaled, sewaktu Datu Kalampayan mengikuti pengajian di Mekah, pada sela istirahat menceritakan kepada orang-orang tentang buah-buahan yang ada di Banjar. “Diantaranya buah durian yang sangat disukai orang Banjar,” ujar Khaled menirukan cerita ustadznya.

Mendengar cerita dari Datu Kalampayan, muncul rasa ingin mencicipinya akan buah tersebut oleh orang orang yang mendengarnya. “Padahal saat itu belum musimnya, tiba tiba Datu Kalampayan mengulurkan tangannya ke belakang dan muncul 1 buah durian masak di tangannya yang baunya sangat harum. Kemudian, buah tersebut disantap bersama oleh guru dan sahabat-sahabatnya,” tuturnya.

Ada lagi cerita yang mashur di kalangan masyarakat, lanjut cerita Nanang Khaled, saat Datu Kalampayan pulang ke Kalimantan dari Mekah, sempat mampir dahulu ke Jakarta (Betawi) lebih tepatnya kampung halaman sahabatnya ketika menuntut ilmu di Mekah yang bernama Syekh Abdul Rahman Al Misri.

“Datu Kelampayan sempat membetulkan arah kiblat beberapa masjid di Jakarta diantaranya Masjid Jami Kampung Sawah, Masjid Luar Batang yang letaknya Pasar Ikan di Jakarta Utara dan Masjid Pekojan, Jakarta. Pelurusan arah kiblat itu dengan cara mengacungkan tangan ke arah orang di depannya yang kemudian terlihat ka’bah dari celah lengan baju jubah Datu Kelampayan. Masyarakat pun mempercayai apa yang ditunjuk Datu Kalampayan,” ceritanya.

Cerita lainya, pada zaman Belanda, Datu Kalampayan menggoreskan tongkatnya di sebuah irigasi yang kemudian dari goresan itu menjadi sungai-sungai kecil. “Dinamakan sungai itu Sungai Tuan, sebutan itu dikarenakan orang belanda memberi gelar Datu Kelampayan dengan gelar Tuan Haji Besar,” pungkasnya. (huda sabily)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.