KHUTBAH JUMAT: RAHMAT ALLAH BAGI UMAT ISLAM

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Mustasyar PBNU)

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۚ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۚ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ

Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (QS. al-Taubah, 09:116).

Ayat menjelaskan mengenai kekuasaan Allah yang Maha Mutlak, baik di langit maupun di bumi dan menjelaskan rahmat Allah yang diperuntukkan bagi Nabi dan umatnya yang setia. Hanya Allah yang memiliki kekuasaan di langit dan di bumi, Dialah yang menguasai alam semesta dengan segala isinya. Dia menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, apabila ajalnya telah sampai, ketetapan-Nya berlaku pada alam semesta. Tidak ada yang bisa memenuhi kepentingan orang-orang yang beriman dan tidak ada yang menolong mereka, kecuali Allah s.w.t..

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (QS. al-Taubah, 09:117).

Ditegaskan dalam ayat ini bahwa Allah s.w.t. telah menerima taubat dari Nabi dan para sahabatnya yang setia, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka terus menerus bersama Nabi dalam suasana yang sulit sekalipun, termasuk mentaati Nabi dalam perang Tabuk yang sangat berat. Perang Tabuk dirasakan sangat berat karena terjadi pada musim panas yang sangat terik, persediaan makanan yang sangat terbatas, dan persediaan air yang sangat menipis.

Penerimaan taubat tersebut terjadi setelah hampir berpalingnya segolongan dari kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga mereka berperang dengan perasaan yang sangat berat. Sebagian dari mereka ada yang sengaja tidak mengikuti peperangan, kemudian Allah menerima taubat mereka setelah menyadari kesalahan-kesalahannya. Allah s.w.t. Maha menganugerahkan rahmat-Nya kepada Nabi dan para pengikutnya yang setia. Karena itu, Dia selalu menerima taubat hamba-Nya, betapapun besarnya dosa yang dilakukan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ لِيَتُوبُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Taubah, 09:118).

Tiga orang tersebut adalah Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’. Mereka ini dengan sengaja tidak ikut berperang bersama Rasulullah s.a.w., tapi kemudian mereka merasa sangat bersalah, sehingga mengalami kegoncangan jiwa. Bumi yang sangat luas terasa sempit dalam pandangan mereka dan kegoncangan-kegoncangan lain yang menimpa jiwa mereka. Orang-orang yang beriman memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak setia terhadap Nabi. Menghadapi kenyataan seperti ini, mereka bertiga merasa yakin bahwa sesungguhnya tidak ada perlindungan lain selain berlindung kepada Allah s.w.t..

Setelah mereka sadar dan merasakan penyesalan yang luar biasa, maka bertaubatlah mereka kepada Allah s.w.t.. Allah s.w.t. menerima taubat mereka agar mereka sadar dan isyaf serta kembali kepada agama Allah dan bimbingan Rasul-Nya. Allah s.w.t. Maha menerima taubat hamba-Nya, taubat yang sungguh-sungguh yang disebut taubatan nashuha. Seorang manusia betapapun besarnya berbuat dosa, kemudian ia menyesali dosa itu, lalu bertaubat kepada Allah, melaksanakan ibadah dan amal shaleh, maka taubatnya aka diterima.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. al-Taubah, 09:119).

Kaum Muslimin yang kami muliakan

Bertakwa kepada Allah pengertian singkatnya adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selanjutnya diarahkan kepada umat Islam agar tidak bergaul dan bergabung bersama orang-orang munafik dan orang-orang kafir, karena mereka itu berkhianat dan berlaku tidak jujur. Mereka tidak segan-segan menggunakan sumpah palsunya untuk menutupi kecurangannya dan wajah aslinya yang sangat buruk. Umat Islam diarahkan agar berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan seseorang pada kebajikan dan kebaktian dan selanjutnya mengantarkan mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Sebaliknya orang-orang yang berdusta atau berlaku tidak jujur, akan mengarahkan perbuatan yang tercela yang kemudian menggiring mereka terjerembab dalam kehinaan duniawi dan ukhrawi. Nabi bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kamu bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan menunjuki seseorang kepada kebajikan dan kebajikan itu akan mengantarkan seseorang ke dalam syurga. Tidak henti-hentinya seseorang bersikap jujur sehingga tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu sikap dusta, karena sesungguhnya dusta itu dapat mengarahkan seseorang menuju keburukan, dan sesunguhnya keburukan itu menggiring seseorang menuju neraka. Tidak henti-hentinya seseorang melakukan perbuatan bohong sehingga tertulis di sisi Allah sebagai pembohong. (HR. Bukhari, 6094, Muslim, 2607).

Kejujuran harus senantiasa ditegakkan dalam segala kehidupan, baik dalam masalah keuangan, perdagangan, perusahaan, pergaulan dan sebagainya. Sungguhpun begitu, ada enam macam dusta yang diperbolehkan, yaitu (1) dusta untuk melindungi diri dari marabahaya. (2) dusta seorang suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya dalam rangka untuk menguatkan tali pernikahan. (3) dusta dalam peperangan sebagai siasat, (4) dusta dalam mendamaikan dua orang atau kelompok yang berselisih. (5) dusta dalam rangka akhlak, dan (6) dusta terhadap perampok yang akan menjarah harta orang yang diramppok.

Uraian enam macam dusta yang diperbolehkan di atas merupakan pengembangan pemahaman dari beberapa hadits Nabi antara lain:

لاَ يَحِلُّ الكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ: يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالكَذِبُ فِي الحَرْبِ وَالكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak diperbolehkan berdusta kecuali dalam tiga hal, yaitu: (1) seseorang yang bercerita dusta kepada istrinya agar merasa senang, (2) dusta dalam peperangan (sebagai siasat), (3) dusta dalam rangka mendamaikan dua orang atau dua kelompok yang berselisih. (HR. Tirmidzi, 1939).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dari khutbah singkat ini dapat disimpulkan bahwa Allah s.w.t. berkuasa mutlak terhadap semua makhluknya, termasuk langit dan bumi serta segala isinya. Dialah yang menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Allah s.w.t. yang memelihara dan melindungi semua makhluk-Nya yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena itu betapapun besarnya dosa yang dilakukan seseorang, apabila bertaubat dengan sungguh-sungguh dilanjutkan dengan meningkatkan iman dan amal shalehnya, maka taubatnya akan diterima. Allah s.w.t. selain menerima taubat dari Nabi dan para sahabatnya dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshar dan semua orang-orang mukmin, juga menerima taubat dari tiga orang sahabat Nabi yang tidak ikut berjuang dalam perang Tabuk. Umat Islam harus senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwanya kepada Allah s.w.t. dan bergaul dengan mereka yang bersikap jujur, baik dalam ucapan, maupun perbuatan.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ, أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.