Ketika Al-Fatihah Selesai Dihafal

Sayidina Husein bin Ali RA (lahir tahun4 Hijriyah) menatap wajah anaknya yang mulai besar. Ali yang bergelar Zainal Abidin itu mulai besar dan merangkak usianya menjadi empat tahun.

Anak itu dianugerahi Allah wajah yang tampan, cerdas dan sangat beradab. Ia menghormati siapa pun yang menyapanya. Ia seolah tak merasa bahwa dirinya adalah cucu orang paling mulia di muka bumi ini, Rasulullah Sayyidina Muhammad SAW.

Sayidina Husein memanggilnya. “Anakku, aku bisa saja mengajarimu sendiri. Tapi, aku lebih percaya jika yang mengajarimu adalah muridku yang sangat mahir dalam Al-Quran,” katanya Sayidina Husein kepada Ali yang tengah memegangi pelepah kurma untuk dibuat mainan perang-perangan dengan anak-anak sebayanya.

Sang ibu, Shahbanu, puteri Kaisar Persia yang terkenal cantik itu menatapnya tajam anaknya yang cerdas yang mewarisi keagungan kakeknya yang utusan Allah serta kegagahan dan keperkasaan Kaisar Koshru dari Persia dari darah ibunya.

“Baik wahai ayah,” jawabnya sopan.

Hero Banner 1080 X 400

Sayudidan Husein lahir tahun ke 4 Hijriyah (dan wafat tahun 61 H dalam usia 58 tahun). Sementara Sayidina Ali Zainal Abidin lahir tahun 38 H.

Sedangkan Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Husaid Assulami  tak bayak diketahui kapan dilahirkan. Namun ulama besar itu wafat di Kufah tahun 74 H, 13 tahun setelah wafatnya Sayidina Husein. (Nama yang mirip, Abu Abdurrahman Muhammad bin Al-Husin Assulami yang wafat tahun 412 H dan dikenal sebagai sufi dan pengarang Thabaqatus Shufiyah).

Imam Assulami adalah tabiin (generasi kedua) yang cukup menonjol terutama dalam hal Al-Quran. Ia murid Sayidina Usman, Sayidina Ali, Sayidina Zaid bin Tsabit dan Sayidina Ubay bin Kaab. Semua ulama Al-Quran generasi berikutnya selalu bermuara pada Imam Assulami. Mushaf yang kita baca ini juga bermuara kepadanya.

Baca Juga :   Menguatkan Karakter dan Menyiapkan Khidmah Terbaik

Ia memanggil Suaid, murid yang juga hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Sayidin Husein.

“Suaid, antarkan anakku Ali menghadap Assulami. Biarkan ia mengaji kepada ulama yang menjadi tokoh Tabiin itu,” kata Sayidina Husein.

“Baik Tuanku,” kata Suaid.

Ia segera memberi dan mengenakan pakaian terbaik kepada Ali Zainal Abidin dan menyuruhnya bersuci dengan mengambil ait wudlu.

Dari rumah Sayidina Husien menuju rumah Assulami tak begitu jauh, tapi, harus melalui masjid Nabawi. Ali bersalam dahulu kepada kakeknya yang terbaing bersama Sahabat Abu Bakar dan Umar di pojok sisi kiri Masjid Nabawi.

Dengan lari-lari kecil Ali melewati selatan masjid menuju rumah Assulami yang ia ketahui letaknya.

Rumah Assulami sangat sederhana.  Rumah itu tak memiliki bilik, selain penyekat antara ruang keluarga dan ruang tamu. Pagi itu banyak orang yang  mengaji di rumahnya. Antara lain beberapa orang dewasa yang baru memeluk agama Islam. Ada juga beberapa anak sebayanya.

Melihat kedatangan Suaid dan seorang anak yang tampan memesona, Assulami menghentikan pngajarannya. Ia menatap lama tanpa kedip ke arah Ali.

“Assalamu alaikum,” kata Suaid.

“Wa alaikum salam,” jawab Assulami tak pernah mengalihkan pandangan. Begiu nikmat rasanya menatap anak kecil cucu Rasulullah.

“Adakah dia putera Saydina Husien bin Ali?” tanyanya.

“Benar,” jawab Suaid.

“Apa yang membawamu kemari?” tanya Imam Assulami.

“Kami menyampaikan salam Sayidina Husein bin Ali. Ia menitipkan puteranya untuk Tuan didik membaca Al-Quran,” kata Suaid.

“Subhanallah. Suatu kehormatan bagiku dipercaya mengagjar orang termulia di muka bumi,” kata Assulami sambil memegang tangan Ali Zainal Abidin.

Tangan itu diciuminya sayang. Ali mencoba menarik tangannya tapi tangan Assulami lebih kuat, yang kemudian ia berusaha mencium tangan ahli Al-Quran yang sangat terkenal itu. Tangan Asasulami diciumnya berkali-kali sebagai rasa setia.

Baca Juga :   Dari Air Wudlu Pencoleng

Assulami kemudian mengumumkan kepada para muridnya pagi itu.

“Aku mendapat kehormatan mengajar putera Sayyidina Husin, cucu Rasululah SAW. Suatu kehormatan namun juga berat bagi saya karena yang kuajar bukan orang sembarangan, karena tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak yang sangat mulia di muka bumi ini.”

Ali kemuian duduk bersimpuh bersama dengan murid-murid lainnya.

“Tuanku di depan,” kata Assulami. Ali Zainal Abidin kemudian beringsut ke depan dan ia tak berani menatap wajah sang guru yang hampir sebaya usianya dengan ayahnya itu.

Assulami kemudian duduk berhadapan dengan Ali. Assulami memegangi pundaknya. “Wahai cucu Rasulullah, aku bacakan untukmu dan tirukan apa yang kuucapkan,” kata Assulami.

Ia mengajari anak berusia 4 tahun itu surah Al-Fatihah. “Ini surah yang yang sangat penting. Salat tak sah jika tak dibacakan surah Al-Fatihah,” kata Assulami.

Kemuiliaan Al-Fatihah dikemukakan juga oleh Assulami yang menjadi perhatian semua muridnya, termasuk Suaid. “Kita harus bisa membaca surah Al-Fatihah secara benar,” kata sang imam.

Menjelang lohor pengajian selesai. Sayidina Ali Zainal Abidin berhasil menghafal Al-Fatihah dan mampu membacanya dengan sangat baik. Bahkan, Assulami dibuat tercengang dengan bacaan dan suaranya. Ali juga belajar tidak langsung dari ayah dan ibunya.

Sayidina Husein menyambut kedatangan Ali dengan sukacita. Berpisah tiga dua jam itu membangkitkan kerinduan juga.

“Apa yang kau peroleh”

“Aku sudah bisa membaca surah Al-Fatihah.”

“Cobalah.” Ali kemudian membaca surah Al-Fatihah dengan sangat baik membuat Sayidina Husein terpana. Menitik air matanya.

Ia kemudian mengambil 1.000 dirham (uang perak) dalam sepuluh kantong, sepuluh lembar karpet Persia dan sepuluh setel pakaian buatan Yaman. Semua ini diikatkan di atas untanya.

Baca Juga :   Tangis Keras Sang Raja

“Wahai Tuanku, untuk apa ini semua?” tanya seorang sahabatnya.

“ini aku berikan kepada seorang yang telah mengajar anakku surah Al-Fatihah. Surah itu tak pernah diturunkan sejak Nabi Adam hingga kepada Nabi Muhamad. Dan tidak diturunkan kepada kakekku satu surah yang lebih agun dan mulia dari ini.”

 

Dikutip bebas dari kitab Khazinatul Asrar oleh Sayid Haqqi An-Nazili halaman 46 bab keutmaaan surah Al-Fatihah. (Musthafa Helmy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.