Menjalankan Transformasi Organisasi

Hadirin yang saya hormati, saat ini kita telah menjalankan paket ketiga dari keseluruhan agenda transformasi organisasi jamiah Nahdlatul Ulama. Transformasi organisasi ini memiliki tiga paket agenda besar.

Pertama, adalah agenda mengenai tata laksana organisasi. Maka begitu start langsung kita mulai setelah pengukuhan yang pertama kali kita kerjakan adalah paket tentang tata laksana organisasi kita lakukan dengan membuat desain organisasi yang baru, sehingga setelah dikukuhkan pada bulan Januari bulan Mei 2022 kita langsung selenggarakan Konferensi Besar untuk menetapkan sejumlah peraturan perkumpulan, ada 19 peraturan perkumpulan yang baru yang kita tetapkan sebagai desain organisasi untuk tata laksana penyelenggaraan organisasi kita kedepan.

Kedua, adalah paket sistem kaderisasi. Alhamdulillah, kita sudah jalan secara simultan dengan paket tata laksana tadi dan kita sudah berhasil jalankan pelatihan kader tingkat paling dasar (PD-PKPNU) sudah sampai sekitar 300-an angkatan dengan lulusan sekitar 34.000 orang kader PD-PKPNU. PMKNU sudah ada lulusan sekitar 300 dan sekarang ini pengembangan kurikulum untuk AKN-NU ini sudah sampai tahap menengah.

 

Paket yang Ketiga, adalah paket terkait dengan pola aktivisme atau pola kegiatan NU. Ini adalah paket agenda yang memang sejak awal harus dikerjakan secara massif, karena kita ingin membangun pola aktivisme pola kegiatan yang berorientasi pada pelayanan basis. Jadi, ndak bisa NU ini hanya berpikir untuk mendirikan lembaga ini, lembaga itu nggak bisa hanya begitu, kita harus membawa orientasi aktivisme NU ini kepada pelayanan yang langsung, buat atau bagi basis NU yaitu warga.

 

Dan kita sebut sebagai khidmah inklusif, yaitu pelayanan kepada seluruh masyarakat. Jadi, kita ndak pilih-pilih, kalau kita mau melayani atau memberikan manfaat kepada orang kita nggak usah nanya ini orang NU apa bukan. Pokoknya siapa saja boleh ikut menikmati manfaat dari khidmah Nahdlatul Ulama ini.

 

Hero Banner 1080 X 400

NU tahun 1930-an itu adalah NU yang isinya masih kiai-kiai, wali-wali semua. Potongan kayak Kiai Abun Bunyamin nggak laku zaman itu, nggak ada. Yang ada itu ya kelasnya Kiai Hasyim, Kiai Wahab. Dan waktu itu kalau ndak kiai beneran nggak bisa jadi anggota. Saya daftar jadi anggota ndak akan diterima waktu itu karena ndak masuk kategori ulama beneran. itu tahun 30-an tapi tahun 55 jadi isinya sudah macam-macam, ada mister Sunaryo, ada Osmar Ismail yang seniman film, ada Jamaluddin Malik yang anaknya jadi rocker ada yang jadi dangdut dan sebagainya.

Baca Juga :   ASEAN IIDC: Epicentrum Of Peace, Tolerance and Harmony

Tahun 70-an hingga 80-an itu, kalau sarjana ya paling-paling S.Ag, S.Pdi. Kalau pegawai, ya Kemenag saja, waktu itu masih takut mau ngaku NU. Tiba-tiba sekarang kita lihat ada orang NU macam-macam, tiba-tiba ada loh ahli nuklir bilang saya ini NU.

Nah, yang baru ketahuan bahwa misalnya Mensesneg, Pak Pratikno itu ternyata NU. Dia sudah jadi pengurus PWNU DIY sejak tahun 2010. Sekarang belakangan baru belakangan orang sadar, ternyata Presiden Joko Widoto itu orang NU. Sampean lihat sekarang ini, saya bisa lihat sendiri, bahwa Pak Jokowi dia berpikir seperti orang NU dan memikirkan NU.

Maka kita nggak bisa hanya berpikir sempit lagi soal NU ini, NU ini bukan cuma pesantren dan santri-santrinya saja, ada begitu banyak orang di luar sana. Jadi nggak usah susah, misalnya orang saya NU tapi belum hafal qunut misalnya, nggak usah susah ya itu orang NU. Kenapa mereka merasa NU, Allah a’lambisshowab itu barokahnya Nahdlatul Ulama.

Bagaimana kita menyikapi ini sebagai jamiyah, karena kita ini pengurus PW, PC, PB, banom-banom kader semua, yang kita pikir adalah bagaimana tanggung jawab kita kepada mereka yang sudah merasa NU ini. Mereka ini kita ndak kampanye, ndak ngajak, tidak membujuk-bujuk, tidak kita tidak melakukan apa-apa, dan mereka tiba-tiba merasa NU, terpanggil hatinya untuk ikut NU.

Sekarang gimana tanggung jawab kita? kita sebagai orang yang menikmati jabatan-jabatan di dalam organisasi ini tanggung jawab kita bagaimana?. Nah, inilah bapak ibu sekalian dan ibu-ibu saudara-saudara kita harus berpikir tentang bagaimana kita bisa memanjangkan jangkauan layanan kita sehingga mencapai mereka. Sehingga mereka merasakan secara langsung, ya 56,9% dari seluruh penduduk Indonesia yang 280 juta, sekitar 150 juta.

Baca Juga :   TA’ATILAH KEPUTUSAN PARA PEMIMPIN KALIAN

Itulah sebabnya kemudian kita melansir apa yang kita sebut sebagai Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama. Karena hajat hidup semua orang itu tertampung di dalam kehidupan keluarga, ya, karena maslahatnya orang perorang ini sangat terkait dengan maslahatnya keluarga. Anak yang baik itu kalau keluarganya baik-baik, bapak yang bahagia itu kalau keluarganya harmonis, ibu-ibu itu tidak stres kalau keluarganya juga keluarga yang harmonis. Nah, semuanya bermuara pada keluarga.

Maka kalau kita berbicara tentang program NU, kita harus mengorientasikan sasaran program ini kepada keluarga-keluarga. Bagaimana keluarga ini bisa menikmati program yang dikerjakan oleh NU. Kalau kita bisa berpikir tentang dakwah misalnya, bagaimana supaya keluarga-keluarga ini bisa menerima program dakwahnya NU. Tentang ekonomi, bagaimana supaya ekonomi ini mencapai kemaslahatan keluarga. Kita bikin perusahaan-perusahaan atas nama NU untuk membiayai ke pengurus, misalnya ya bisa saja tapi biayanya dipakai apa?, dipakai untuk program kemaslahatan keluarga.

Sekarang ini saya lihat beberapa cabang, misalnya ada yang kreatif sekali mengembangkan macam-macam bisnis. Ada yang sampai punya bank sendiri. Ada yang punya Armada bis pariwisata sendiri yang cukup besar, ada yang punya macam-macam. Nah, pertanyaan saya itu kalau dapat duit, duitnya ngumpul dipakai apa? Apa cuma mau dibagi-bagi di antara pengurus atau dibagi-bagi sebagai saweran kepada warga atau apa?, makanya dipakai untuk program, programnya apa? ini yang harus kita pikirkan ya. Nah, kedepan program itu orientasinya harus pada layanan warga.

Karena khidmahnya NU kepada masyarakat seluruhnya, sudah nggak usah pilih-pilih. Karena kita harus mengembangkan Khidmah yang terbuka untuk semua orang. Karena nanti kan dimensinya banyak ini punya dimensi dakwah dan lain sebagainya.

Di masa depan kita harus mampu mendesain sendiri kebijakannya, harus mampu mendesain sendiri bentuk-bentuk program, sasaran target, dan lain sebagainya. Tapi saat ini kita memang belum sampai pada kapasitas itu. Oleh karena itu sementara ini, menjadi awalan, yang penting sekali karena ini akan membentuk pola hubungan kita dengan warga ke depan. Tapi sementara ini kita melaksanakan program ini dalam kerangka kerja sama dengan pemerintah. Kenapa dengan pemerintah, karena pemerintah yang paling siap, pemerintahnya sendiri sudah punya agenda, ada anggarannya, ada macam-macamnya, kita tinggal minta kerja sama.

Baca Juga :   Forum R20 ISORA Satukan Kesepakatan untuk Bertindak Bersama

Alhamdulillah, kita ikuti prosedur, kita bikin MoU dulu, dengan Kementerian, kemudian kita kembangkan perjanjian kerjasama yang lebih detail sampai kepada pelaksanaan sejumlah program pemerintah ini melalui GKMNU. Nah, nanti kita juga punya kerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian UKM, dengan Kementerian Pendidikan dengan Kementerian Sosial itu sudah ada semua.

Nah, Bapak ibu sekalian, terima kasih atas kegigihan kerja, selama ini teman-teman di Satgas dan teman-teman di jajaran PBNU yang mengelola proses GKMNU ini, bisa bayangkan mulai Juli, Agustus, September, Oktober, 4 bulan kita selesaikan Satgas di 17.000 desa. Saya diskusi dengan Pak Said dan dan Yaqut sebagai Ketua Satgas, Insyaallah Jawa Barat kita selesaikan 1 bulan November ini.

Dan sekarang minggu ini, kegiatan di desa-desa sudah mulai jalan di tiga provinsi tadi, ada beberapa ribu desa sekaligus, bisa bayangkan, jadi kita minggu ini punya kegiatan di sekian ribu desa di tiga provinsi. Nanti pada saatnya setiap minggu akan ada kegiatan di desa di sekian ribu Desa ini, kalau untuk seluruh Jawa ini mungkin ada sekitar 25.000 sampai 30.000 desa. Dan terus setiap minggu akan terus ada kegiatan terus.

Mudah-mudahan ini semua bisa terlaksana dengan baik, bisa kita mapankan sebagai model keorganisasian kita ya, dan mari kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan ini semua nanti bisa meringankan hisab kita di hadapan Allah Subhanahu Wa Taala amin ya rabbal alamin.

(Pidato Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf pada sosialisasi GKMNU di Jawa Barat pada Jumat 3 November 2023).

Leave A Reply

Your email address will not be published.