Puisi Gus Mus untuk Palestina: ‘Apakah Kau Terlalu Bebal atau Aku Terlalu Peka’

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – KH Mustofa Bisri Mustasyar PBNU membawakan puisi Apakah Kau Terlalu Bebal atau Aku Terlalu Peka pada acara bertajuk Untaian Doa dan Puisi untuk Palestina yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) RI di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Selasa (2/1/2024).

 

Puisi panjang tersebut memuat kompilasi penggambaran atas situasi yang terjadi saat ini, di mana nilai kemanusiaan meluntur dan menggambarkan ironi realitas politik.  Diiringi musik latar menggugah hati yang dibawakan Sastro Adi, Gus Mus membacakan puisi  karya pribadi Apakah Kau Terlalu Bebal atau Aku yang Terlalu Peka setelah membacakan puisi milik Nizar Qabbani yang berjudul Satu Jalan.

“Sekarang saya akan membacakan puisi saya sendiri,” ucap Gus Mus.

Berikut adalah teks lengkap puisi Apakah Kau Terlalu Bebal atau Aku Terlalu Peka:  

Apakah kau terlalu bebal atau aku yang terlalu peka? Ketika mobilmu melanda seekor anjing di jalan Dan kurasakan derak tengkoraknya yang remuk digilas ban radialmu Aku ingin muntah dan kau ngakak sambil mengumpat “mampus kau, najis!”

Hero Banner 1080 X 400

Apakah kau terlalu bebal atau aku yang terlalu peka? Di depan layar datar televisi produk mutakhir Di ruang keluarga yang lapang dan terang benderang Kau dan keluargamu menyaksikan gelombang gelap melanda beberapa kawasan di dunia

Bahkan di negerimu sendiri sambil melahap pizza dan ayam goreng Amerika

 

Di layar kaca dalam warna sesuai aslinya Kalian lihat asap mengepul Orang-orang berlarian tanpa arah Bocah-bocah kurus pucat di pelukan ibunya yang meraung-raung di samping mayat lelaki yang terkapar berbantalkan sepotong paha kawannya

Terdengar dari speaker stereomu dentuman demi dentuman Gelegar meriam berbaur dengan lengking tangis dan jeritan putus asa anak-anak manusia Layar kaca terus menayangkan gambar hidup orang-orang mati dan orang-orang yang berangkat mati Di Somalia, kerangka-kerangka hidup rakyat tanpa daya Dikeroyok anjing-anjing dan dikerubuti lalat-lalat yang juga lapar Anak-anakmu berebut fried chicken yang hangat Seperti politisi-politisi musiman berebut kursi Seperti pakar-pakar kambuhan berebut benar

 

Baca Juga :   75 Tahun Menderita, Kami akan Terus Berjuang

Puing-puing di Irak, di Libia, di Syiria, di Yaman meluapkan bau bangkai dan mesiu

Di Gaza, potongan-potongan mayat bergelimpangan di antara reruntuhan bangunan

Seperti kena kutuk, kematian dan pembantaian terus berlangsung di berbagai belahan dunia

Istrimu menyodorkan piring pizza ke mukamu Kau menghirup sedap aromanya sebentar, lalu menjejalkan sepotong ke mulutmu Seperti para pengamat yang menjejalkan potongan-potongan pernyataan ke telinga media yang terbuka Seperti kelompok Muslim kota yang baru menghirup sedap aroma Islam, lalu menjejalkan sepotong pemahaman mereka ke mana-mana  

Kekuatan dengan dingin terus menggerus yang lemah Keganasan dengan bangga melalap segala Kekerasan mencabik-cabik persaudaraan Dendam membakar sisa-sisa kemanusiaan Kengerian mencekam di seantero kota dan desa

 

Ibu pertiwi pun bersimbah darah Air mata tak putus-putus pula mengalir di tanah air Dan kau sekeluarga bersendawa Setelah mengeroyok makanan Amerika Dan meneguk kaleng-kaleng Coca-Cola Seperti para elit politik yang merasa lega Manuver mereka berhasil meramaikan pers merdeka Seperti para mualaf metropolitan yang merasa nyaman meneriakan takbir jihad dan retorika takwa dan iman

 

Pemandangan memilukan pun tak mampu mengusik seleramu Apalagi tak lama kemudian sinetron yang seronok dengan cepat membawamu kembali ke duniamu Seperti para koruptor tak terusik oleh berita-berita pengusutan korupsi Apalagi tak lama kemudian Berita pengusutan itu menguap tak berkelanjutan lagi

 

Apakah kau terlalu bebal atau aku yang terlalu peka? Kau dan kawan-kawanmu menyaksikan ibu dan saudara-saudaramu diperkosa dan dilecehkan Dan zakar kalian tegang seperti menonton film biru picisan Seperti para cerdik pandai dan jurkam partai yang orgasme mendengar suara mereka sendiri   Oh, virus apa gerangan yang telah menyerang nurani kalian? Pemandangan yang mengerikan pun tak mampu mengganggu nafsumu Apalagi segera datang tayangan gosip selebritis yang penuh gelak tawa

 

Baca Juga :   Prof. Nyayu Khodijah: Sukses Pemilu Tanggungjawab semua warga Indonesia 

Mengasyikkan dan menghiburmu seperti para pemimpin yang tak terganggu oleh keluh kesah keresahan rakyat mereka Apalagi segera datang dukungan dari kawan untuk mempertahankan kedudukan

 

Bila kau dan kawan-kawanmu sesekali membicarakan bencana kemanusiaan ini di kafe-kafe Sambil mendengarkan para artis bernyanyi Atau di hotel-hotel berbintang sambil mendengarkan para pakar berteori Kau pun telah merasa ikut berjasa dalam mencari solusi  

 

Dan setelah itu kehidupan pun kalian jalani seperti biasa Dengan gaya yang sama dan irama yang sama Seolah-olah kalian berada di luar masalah manusia 

Leave A Reply

Your email address will not be published.