KHUTBAH JUMAT: Bulan Rajab Dan Pembelajaran Dari Waliyullah

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Mustasyar PBNU)

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Posisi bulan Rajab yang menempati urutan ke tujuh dalam kalender hijriah serta menjadi bagian dari bulan-bulan haram, menjadikannya terasa istimewa dalam pandangan umat Islam. Secara etimologis, Rajab berasal dari kata Bahasa Arab “Rajabun” artinya pengagungan, dikatakan demikian, karena Allah mengagungkan bulan ini sebagai bulan-bulan yang diharamkan di dalamnya segala bentuk aktivitas yang mengerucut pada peperangan. Sedangkan menurut terminologinya, bulan Rajab adalah bulan ke tujuh dari bulan-bulan tahun hijriah, berada di antara bulan Jumadil Tsani dan Sya’ban. Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Hero Banner 1080 X 400

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Taubah, 09:36).

Nabi s.a.w. bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

 

Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya’ban. (HR. Bukhari, 4294).

Baca Juga :   KHUTBAH JUMAT: PETUNJUK ALLAH KEPADA MAKHLUKNYA

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bulan Rajab memiliki keistimewaan dan keberkahan yang membuatnya menjadi waktu yang sangat berharga dalam Islam. Para wali Allah menjalankan berbagai kebiasaan dan amalan tertentu selama bulan ini untuk meningkatkan spiritualitas mereka dan mendekatkan diri kepada-Nya. Di antara amalan tersebut adalah melakukan ekstra ibadah seperti shalat sunnah, membaca al-Qur’an, dan berzikir. Karena itulah, kehidupan para wali Allah senantiasa bahagia tanpa merasa khawatir dan bersedih hati. Allah s.w.t. berfirman:

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus, 10:62).

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya para wali Allah akan memperoleh kebahagiaan pada masa kini dan masa yang akan datang. Mereka tidak akan merasakan kesedihan dan kekhawatiran. Wali-wali Allah maksudnya adalah orang-orang yang memiliki ketakwaan yang sempurna, mereka yang senantiasa menegakkan kebenaran agama, dan mewujudkan syariat-Nya di tengah masyarakat. Dinyatakan tidak ada kekhawatiran bagi mereka, karena mereka telah meyakini bahwa semua janji Allah akan terwujud. Pertolongan-Nya akan dirasakan oleh setiap orang mukmin, dan petunjuk-Nya membimbing umat manusia menuju jalan yang lurus. Pada saat mereka tertimpa bencana atau ujian, mereka menabalkan diri dengan ketabahan dan kesabaran, serta bertawakkal kepada Allah s.w.t..

Orang-orang yang bertakwa atau para wali itu tidak akan ditimpa oleh kesedihan yang dalam. Mereka telah membekali diri dengan kerelaan terhadap segala sesuatu yang telah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah s.w.t.. Hati dan perasaan mereka dipenuhi dengan ketundukan dan ketaatan terhadap syariat-Nya. Mereka juga tidak bersedih hati ketika berpisah dengan kehidupan dunia, karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat lebih agung dan lebih kekal. Allah s.w.t.

Kaum Muslimin yang kami muliakan

Mereka yang tergolong sebagai wali-wali Allah, adalah mereka yang beriman dan bertakwa.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus, 10:63).

Maksud dari istilah beriman dalam pengertian ini, yaitu orang-orang yang meyakini kepada Allah s.w.t., dan segala apa yang difirmankan-Nya. Keimanan harus mewujud dalam tiga komponen, yaitu: (1) meyakini dalam hati, (2) mengikrarkan dalam lisan, dan (3) merealisasi dalam amal perbuatan. Setelah beriman kepada Allah berdasarkan firman-Nya, dilanjutkan dengan percaya kepada para malaikat, beriman kepada kitab-kitab suci, beriman kepada para nabi dan rasul, beriman kepada hari akhirat, dan beriman kepada qadha dan qadhar Allah yang baik ataupun yang buruk.

Baca Juga :   KHUTBAH JUMAT: TABIAT MANUSIA DALAM AL-QUR’AN

Pengertian takwa secara bahasa adalah takut terhadap murka Allah dan memelihara diri dari aktivitas yang tercela, serta bersikap hati-hati. Pengertiannya secara terminologis adalah melaksanakan segala perintah Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya dengan keikhlasan yang mendalam dan ketulusan yang tidak ada batasnya. Allah s.w.t. berfirman:

لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus, 10:64).

Informasi yang membahagiakan yang dijelaskan ayat ini adalah merupakan berita gembira yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. melalui para nabi dan rasul-Nya. Berita gembira yang mereka peroleh di dunia berupa kemenangan dalam berbagai perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah. Mereka meraih kesuksesan dalam kehidupan, karena mengikuti jalan yang benar dan terpuji. Para wali itu merupakan khalifah Allah di bumi, karena mereka senantiasa berpegang teguh pada syariat-Nya dan menegakkan kebenaran agama yang membimbingnya pada kehidupan yang husnul khatimah. Berita kebahagiaan yang mereka terima dalam kehidupan akhirat, yaitu jaminan dari Allah s.w.t. bahwa mereka akan terlepas dari segala macam azab. Mereka akan memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan naungan rahmat Allah dan keridhaan-Nya.

Selanjutnya ditegaskan bahwa tidak ada sedikitpun perubahan dari janji-janji Allah. Maksudnya adalah bahwa mereka akan mendapatkan secara meyakinkan bahwa kebahagiaan dan keamanan itu akan dirasakan dalam segala kehidupannya. Pada akhir ayat ditegaskan bahwa segala apa yang diperoleh para wali itu merupakan karunia yang sangat agung dan kemenangan yang tidak ada tandingannya. Karunia dan kemenangan itu berupa kebahagiaan yang abadi dan terlepas dari berbagai kesulitan dan kekhawatiran.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada hakikatnya, kemenangan, kekuatan, dan perlindungan dari Allah s.w.t. tidaklah dimiliki oleh mereka. Akan tetapi Allah yang berkuasa untuk menganugerahkan semua nikmat-Nya kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Setiap diri manusia muslim digembleng agar tidak takut sama sekali terhadap orang-orang musyrik, meskipun jumlah mereka lebih besar. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah s.w.t. maha mendengar terhadap segala caci maki orang-orang musyrik terhadap mereka yang beriman, dan mereka mendustakan kitab-kitab suci. Allah s.w.t. maha mengetahui segala perilaku mereka yang dilakukan terhadap nabi dan para sahabatnya. Sesungguhnya keagungan dan kemenangan tetap berada pada orang-orang yang bertakwa yang dianugerahi gelar sebagai wali-wali Allah.

Baca Juga :   KHUTBAH JUMAT: TIGA GOLONGAN MANUSIA DI ZAMAN RASULULLAH S.A.W.

وَلَا يَحۡزُنكَ قَوۡلُهُمۡۘ إِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًاۚ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Yunus, 10:65).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dari khutbah singkat ini dapat diambil kesimpulan bahwa Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) dalam kalender Islam, bersama dengan Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Orang-orang yang bertakwa disebut sebagai para wali Allah, karena mereka selalu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh ketundukan dan kepatuhan. Mereka terus berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan kalimat Allah, sehingga menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Bulan Rajab adalah waktu yang tepat bagi para wali Allah untuk merenung dan melakukan introspeksi diri. Mereka mengevaluasi kondisi spiritual mereka, menetapkan tujuan baru, dan memperbaiki hubungan mereka dengan Allah. Dengan menjalankan kebiasaan-kebiasaan ini, maka para wali Allah berusaha memaksimalkan potensi spiritual mereka dan mendekatkan diri pada-Nya, sehingga menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk mengambil pelajaran dan mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ, أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.