Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Setiap orang muslim diarahkan agar senantiasa bertaubat, memohon ampunan dan maghfirah dari Allah s.w.t.. Kita semua sering berbuat kesalahan dan kekhilafan, dalam berbagai bentuk dan jenisnya.
Manusia dalam Bahasa al-Qur’an dinamai al-Insan, karena ia sering bersalah dan lupa. Demikian juga hati disebut kalbu, karena sering dilanda kebimbangan dan keraguan.
Melihat kenyataan itu, manusia muslim diperintahkan agar senantiasa bertaubat kepada Allah s.w.t. dari segala dosa dan kesalahannya. Nabi s.a.w. yang bersifat makshum yang terpelihara dari perbuatan dosa, senantiasa bertaubat. Beliau memohon ampunan kepada Allah dalam setiap hari lebih dari 70 kali, apalagi kita sebagai manusia biasa.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah setiap hari lebih dari 70 kali”. (HR. Bukhari, 5832). Dalam hadits yang lain, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, betaubatlah kamu dan mohonlah ampunan kepada Allah, karena sesungguhnya aku betaubat dalam satu hari sebanyak 100 kali”. (HR. Muslim, 4871).
Bertaubat kepada Allah merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim, baik pria maupun Wanita. Apabila kesalahan dan dosa yang dilakukan seseorang hanya kepada Allah, maka taubatnya harus memenuhi tiga persyaratan, yaitu (1) menyesali segala perbuatan dosanya yang terlanjur dilakukan, (2) harus meninggalkan dosa dan kesalahan tersebut untuk selamanya, (3) bertekad secara sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
Apabila kesalahan dan dosa tersebut berkaitan dengan hak adami, atau hak sesama manusia, maka taubatnya akan diterima dengan tiga persyaratan di atas dan ditambah dengan syarat yang keempat, yaitu (4) menyelesaikan urusan dengan sesamanya, baik urusan hutang piutang, hak masing-masing, atau kesalahan yang pernah dilakukan dengan cara memohon maaf kepadanya.
Apabila syarat-syarat tersebut telah terpenuhi, maka taubatnya akan diterima oleh Allah s.w.t. karena Ia Maha Penerima taubat semua hamba-Nya. Mengenai keharusan bertaubat terhadap segala dosa yang dilakukan seseorang, Allah s.w.t. berfirman:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. Al-Nur, 24:31).
Bertaubat dan beristighfar merupakan dua hal yang tidak boleh terlepas dari kehiudpan manusia muslim. Keduanya merupakan indikator bahwa sesungguhnya ia memiliki akhlak yang terpuji dan sebagai wujud dari orang yang bertakwa.
Bertaubat hedaknya dilakukan dengan cara yang bersungguh-sungguh dan menghindari sikap yang tercela, seperti mengulangi kembali perbuatan dosa atau mempermainkan taubat kepada Allah. Al-Qur’an berpesan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ
Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sesungguhnya. (QS. Al-Tahrim, 66:8).
Allah s.w.t. senang menerima hamba-Nya yang bertaubat dari dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. Dalam hadits yang bersifat metaforis disebutkan: “Sesungguhnya Allah membentangkan kedua tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membuka kedua tangan-Nya di siang hari, untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari. (Keadaan seperti ini terus berlangsung) hingga matahari terbit dari ufuk barat”. (HR Muslim, 4954).
Sehingga matahari terbit dari ufuk barat maksudnya, keadaan itu terus berlangsung selama-lamanya sampai hari kiamat. Dalam hadits yang lain disebutkan: “Barang siapa yang bertaubat kepada Allah sebelum matahari terbit dari ufuk barat, maka Dia menerima taubatnya”. (HR. Muslim, 4872).