Muhammad Riza Diponegoro
Malam di Koga, Prefektur Ibaraki datang bukan dengan gemuruh, melainkan dengan cara yang hampir meminta maaf, seperti tamu yang tak ingin merepotkan. Selepas Isya, ketika jamaah telah bersalaman dan suara sepeda tua memudar di tikungan, penulis sering berdiri sendiri di teras Masjid At-Taqwa.
Di hadapan penulis, aspal yang mengkilap oleh embun, deretan rumah dengan remang lampu-lampu indoor yang sayup redup menyala tapi entah untuk siapa. Keheningan yang tidak hanya menjadi absennya bunyi, namun sesuatu yang lebih pekat, yakni sebuah keheningan yang terasa seperti gejala.
Di saat itulah satu pertanyaan datang, ia tidak diundang, dan menetap. Bisakah sebuah peradaban mati bukan karena perang, bukan karena wabah, bukan pula karena bencana alam, melainkan karena ia telah mencapai titik yang pernah diinginkannya? Penulis datang ke Jepang dengan satu koper hitam dan dengan satu misi, memimpin shalat, mengajar, menjaga nyala Islam di antara diaspora Muslim di sudut Ibaraki yang bahkan oleh peta Jepang sendiri nyaris dilupakan. Setahun adalah waktu yang pendek untuk ukuran sebuah catatan biografi. Tapi, kadang-kadang satu tahun di tempat yang tepat mengajarkan lebih banyak hal daripada satu dekade di ruang yang nyaman. Jepang mengajar tanpa bicara. Ia hanya memperlihatkan, dan apa yang ia perlihatkan adalah sesuatu yang tak akan penulis temukan di kitab-kitab yang penulis pelajari sejak remaja di Temanggung, Jawa Tengah.
Jepang memperlihatkan deretan akiya, sebutan untuk rumah-rumah tua yang ditinggalkan bukan karena penghuninya pindah ke tempat yang lebih baik, melainkan karena tak ada lagi yang sudi menerima kunci. Setiap pagi, penulis berjalan di gang-gang sekitar masjid, melewati taman-taman kecil yang masih dirawat tapi pintu-pintunya seperti sudah menyerah menunggu ketukan. Di antara pemandangan itulah penulis bertemu wajah-wajah jamaah shalat Jumat. Mereka adalah para pekerja migran Indonesia yang datang ke Jepang membawa otot dan harapan, mengirim sebagian besar gaji mereka ke kampung dalam bentuk angka-angka elektronik. Meski demikian, ia menyimpan satu pertanyaan yang tak pernah mereka ucapkan keras-keras: Apakah yang kami kejar ini benar-benar lebih baik ataukah sama saja?
Sebelum ke Jepang, penulis nyaris ke Korea Selatan. Lembaga Dakwah PBNU menugaskan penulis ke sana, tapi permohonan visa tak pernah dikabulkan. Korea yang penulis tuturkan di sini adalah Korea yang penulis kenal dari jarak jauh. Ia menyimpan pesan-pesan panjang para calon jamaah yang mengetik pada dini hari karena tak bisa tidur. Ironisnya, jarak kadang membuat kita mendengar lebih jernih. Ketika seseorang menulis kepada imamnya dari negara asing, bukan dalam percakapan tatap muka yang bisa canggung, yang keluar adalah kejujuran yang tak tersensor. Dari sanalah penulis menyusun potret tentang salah satu negara paling dinamis di muka bumi yang secara statistik, melipat dirinya sendiri menuju ketiadaan.
Ada Taiwan, sebuah negeri yang dikenal dengan negeri Formosa. Kata yang berasal dari bahasa Portugis, “Ilha Formosa” yang berarti “Pulau yang Indah”. Taiwan, penulis mengenalnya langsung, selama sebulan penuh di bulan Ramadhan atas undangan PCINU Taiwan. Satu bulan yang singkat, namun padat seperti buah delima. Penulis melewatinya dengan beragam aktivitas seperti sahur bersama sebelum fajar di apartemen sempit yang kami sulap menjadi dapur kolektif. Lalu, shalat tarawih yang kadang hanya dihadiri belasan orang, namun terasa seperti lautan karena kehangatan yang memenuhi setiap senti ruangan. Serta buka puasa yang tak pernah selesai tepat waktu karena selalu ada cerita yang belum habis dituturkan. Di luar tembok kebersamaan itu, penulis menyaksikan Taiwan yang lain, sebuah pulau yang bercahaya di malam hari dengan neon dan kehidupan malam yang tak pernah tidur. Tetapi, secara demografis sedang memadamkan dirinya sendiri dengan sangat elegan dan dengan sangat senyap.
Penulis lahir di Temanggung, di antara tembakau dan kabut gunung Sindoro-Sumbing. Penulis tumbuh dalam ritme musim yang mengatur tanam dan panen, sebelum akhirnya merantau ke pesantren, ke kota demi kota, dan kini mengabdi di Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo. Perjalanan dari Temanggung ke Koga, Pefektur Ibaraki, Jepang adalah perjalanan yang tak pernah penulis bayangkan. Justru di sana, di negeri yang begitu jauh dari tanah kelahiran, di antara orang-orang yang bahasanya tak penulis kuasai sepenuhnya, penulis menemukan kembali pertanyaan paling dasar tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh? Pertanyaan itu yang menghubungkan semuanya. Garis yang menghubungkannya menyerupai grafik sebuah eksperimen tua yang dilakukan pada tikus di laboratorium seorang ilmuwan bernama John B. Calhoun.
Pada 1972, John B. Calhoun membangun surga. Bukan surga metaforis yang dijanjikan oleh kitab-kitab suci, melainkan sebuah kandang seluas 2,7 meter persegi yang di dalamnya ia letakkan segala yang bisa diimpikan oleh seekor tikus. Makanan tak terbatas, air mengalir sepanjang waktu, suhu yang tak pernah terlalu panas atau terlalu dingin, nihil predator, dan nihil penyakit. Ia menyebutnya sebagai eksperimen ke-25 dalam rangkaian panjang penelitiannya tentang kepadatan populasi dan perilaku sosial. Awalnya, seperti semua cerita tentang surga, semuanya baik. Populasi meledak. Koloni berkembang dalam harmoni yang hampir mengharukan.
Namun, pada hari yang ke-315, sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu statistik mulai merayap. Hierarki sosial runtuh bukan dari luar, melainkan dari dalam, seperti bangunan yang fondasinya digerogoti rayap yang tak terlihat. Tikus-tikus jantan berhenti mempertahankan wilayah. Betina berhenti mengasuh anak. Lalu muncullah generasi yang oleh Calhoun sendiri disebut “the beautiful ones”, yaitu tikus-tikus yang sempurna bulunya, bersih, terawat, tapi telah kehilangan seluruh dorongan elementer yang membuat seekor tikus menjadi tikus. Mereka tidak kawin, tidak bertarung, dan tidak menjelajah. Mereka hanya makan, tidur, dan merawat bulu mereka sendiri.
Pada hari ke-1.780, tikus terakhir mati bukan karena kelaparan, karena makanan masih menumpuk di sudut kandang. Bukan pula karena penyakit, karena tubuh mereka sehat. Mereka mati karena telah berhenti menjadi tikus. Calhoun menyebutnya dengan “the second death” atau kematian kedua. Kematian jiwa sosial sebelum kematian tubuh biologis. Kematian dorongan untuk hidup, hasrat untuk terhubung, untuk berjuang, dan untuk mencintai, sebelum jantung berhenti berdetak. Penulis tidak menceritakan ini untuk menyamakan manusia dengan hewan pengerat. Akal budi adalah pembeda fundamental yang tak bisa dikecilkan. Namun sebagai seseorang yang selama setahun memimpin shalat di antara para pekerja Indonesia di Ibaraki, manusia-manusia yang meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan tanah air demi kemakmuran yang mereka kirimkan setiap bulan lewat amplop digital.
Dalam pengamatan penulis, Jepang adalah laboratorium hidup yang nyaris sempurna yang pernah berdiri di atas permukaan planet ini. Dalam tiga dekade setelah Perang Dunia II, bangsa Jepang membangun peradabannya dari abu dan kekalahan menjadi negara yang mempunyai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Ini bukan tentang kisah kesuksesan, namun sebuah mukjizat ekonomi yang belum pernah dicatat dalam landscape sejarah modern. Orang Jepang kini hidup lebih lama dari populasi manapun di muka bumi. Sistem kereta mereka beroperasi dengan presisi yang bisa membuat jam Swiss merasa malu. Kota-kota mereka bersih seperti laboratorium yang kebetulan berpenghuni. Namun sayangnya, di balik kesuksesan itu, ada sesuatu yang tampak sangat riskan, yaitu dengan sangat pelan, mereka berhenti memiliki anak.
Angka kelahiran di Jepang pada tahun 2024 berkisar di 1,20%. Artinya, jauh di bawah angka 2,1% yang dibutuhkan sekedar untuk menjaga populasi tetap stabil. Lebih dari sepuluh persen unit tempat tinggal di Jepang kini berstatus akiya atau rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya bukan karena mereka pindah, melainkan karena tak ada penerus yang mewarisinya. Pada 2019, untuk pertama kalinya dalam sejarah, lebih banyak popok dewasa terjual di negeri ini daripada popok bayi. Sebuah catatan statistik yang tak bisa dijelaskan oleh angka-angka, namun hanya dipahami oleh perasaan.
Penulis mencoba membuktikan teori di atas, hasilnya fakta yang ditemukan tidak hanya berupa laporan atau grafik. Penulis menyaksikannya sendiri dari gang-gang yang ada di Koga yang penulis lewati setiap. Rumah-rumah tua dengan taman yang masih dirawat, bunga-bunga musiman yang masih berganti sesuai waktunya, tapi sayang jendela-jendela di dalamnya tidak pernah terbuka. Kota kecil yang infrastrukturnya modern seperti aspal mulus, kabel listrik tertata rapi, dan saluran air yang masih berfungsi. Tapi, jiwa sosialnya seperti sedang belajar cara berdiam diri secara permanen.
Suatu malam, penulis berbincang panjang dengan seorang jamaah. Ia mantan pekerja berketerampilan spesifik yang memilih menetap di Ibaraki setelah kontraknya habis, kemudian menikahi perempuan Jepang. Kami duduk di ruang tamu masjid, teh hijau yang mendingin di antara kami, dan ia bercerita tentang istrinya. Sosok perempuan pekerja keras, berpenghasilan baik, dan mandiri. Suatu malam, ia menangis, bukan karena sedih, bukan pula karena terluka. Ia menangis karena tiba-tiba menyadari, dalam keheningan kamar mereka, bahwa ia tak tahu lagi mengapa ia harus memiliki anak.
“Semua sudah ada, Ustadz,” kata jamaah itu, sambil mengulangi ucapan istrinya dengan nada yang bercampur antara kagum dan ngeri. “Tapi justru karena semua sudah ada, saya tidak tahu apa lagi yang harus dikejar”, ujarnya. Penulis mendengar kalimat itu dan merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tulang punggung. Seperti alunan musik klasik era 80-an yang berjudul “the beautiful ones” yang mewakili perasaan emosional yang membeku namun rapuh. Ia bukan jeritan, bukan pula ratapan, melainkan rasa bingung yang diutarakan lewat alunan lagu di ruang tamu yang bersih, di negeri yang telah menyediakan segalanya kecuali alasan untuk bangun di pagi hari.
Orang Jepang punya istilah sendiri untuk mereka yang telah menarik diri secara total dari kontrak sosial, yaitu “Hikikomori”. Diperkirakan lebih dari satu juta orang Jepang hidup dalam isolasi total, tidak keluar kamar selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Bukan karena sakit fisik, bukan pula karena tidak mampu untuk melakukan interaksi sosial. Tapi karena baginya dunia luar telah menjadi tempat yang terlalu bising, terlalu menuntut, terlalu kompetitif, dan terlalu hampa akan makna untuk sekedar dihadapi. Mereka adalah versi dewasa dari tikus-tikus yang oleh Calhoun diistilahkan dengan sempurna secara fisik, terawat, terpelihara, namun memutuskan menarik diri dari partisipasi dalam kehidupan sosial. (bersambung)