Dinamika Jelang Muktamar dan Berkaca Kepemimpinan Ketum PBNU Sebelumnya

0

Menjelang Muktamar NU ke-35 pada 1 – 5 Agustus 2026 mendatang, berbagai kegiatan NU dan dinamika pernak pernik Muktamar muncul di tengah masyarakat Indonesia, mulai dari rapat pleno PBNU, rencana Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konfrensi Besar (Munas dan Konbes) NU, koordinasi PWNU-PCNU, konsolidasi tim sukses calon Ketua Umum PBNU, hingga harapan besar warga NU agar NU tetap menjadi penuntun umat di masadepan.

Muktamar bukan sekadar agenda lima tahunan. Muktamar adalah ruang musyawarah besar yang mempertemukan ulama, kiai, intelektual, santri, dan warga nahdliyin dari berbagai penjuru negeri. Di forum inilah arah gerak organisasi ditentukan, kepemimpinan dipilih, sekaligus cita-cita besar jam’iyyah diteguhkan kembali.

Muktamar bukan sekadar soal kontestasi kepemimpinan, melainkan momentum memperkuat ukhuwah dan merawat tradisi musyawarah yang telah diwariskan para muassis NU.

Warisan perjuangan para pendiri NU menjadi pijakan penting menjelang muktamar kali ini. Semangat yang ditanamkan KH Hasyim Asy’ari dan para ulama terdahulu adalah semangat menjaga agama sekaligus menjaga bangsa. Karena itu, muktamar selalu dipandang sebagai forum untuk memperkuat komitmen kebangsaan, mempererat persatuan, serta menjaga nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Perjalanan panjang NU tidak hanya dibangun oleh besarnya jumlah pengikut atau luasnya jaringan pesantren. Kekuatan utama organisasi ini justru lahir dari para pemimpinnya yang mampu menjaga tradisi, merawat persatuan, sekaligus menjawab tantangan zaman.

Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era digital saat ini. NU selalu melahirkan tokoh-tokoh besar yang meninggalkan teladan kepemimpinan bagi umat dan bangsa.

Hari ini dan masadepan, warga NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga teduh, bijaksana, visioner dan mampu menjalankan roda organisasi NU.

Empat Kepemimpinan NU

Dari rahim NU, lahir Empat pemimpin dan menjadi Ketua Umum PBNU yang kerap dikenang, karena keteladanan dan pengaruh besarnya yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siraj dan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Masing-masing tokoh hadir pada zamannya dengan karakter kepemimpinan yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yakni menjaga kemaslahatan umat dan bangsa.

Bagi calon Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026 -2031, diharapkan dapat menyamai model kepemimpinan atau paling tidak bisa meniru karakter dari keempat tokoh tersebut.

Pertama, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur mungkin menjadi salah satu tokoh NU paling dikenal di dunia Internasional. Kepemimpinannya melampaui batas organisasi dan agama. Ia berbicara tentang pluralisme, demokrasi, hak minoritas, dan kemanusiaan universal.

Gus Dur, Prototipe kepemimpinan yang menjadi kebanggaan Warga NU, Pesantren dan kelompok- kelompok minoritas, budayawan dan masyarakat dunia. Semua menerimanya dengan baik, karena prilakunya diatas manusia biasa dan ahlak budi pekertinya yang selalu ngemong manusia dari tingkat tinggi sampai wong cilik.

Bahkan para habib merasa terhormat, lantaran Gus Dur selalu menziarahi makam tokoh para habaib yang otomatis seluruh warga yang merasa keturunan dan muhibbinnya merasa dihormati secara elegan. Gus Dur juga tak segan-segan memberi hadiah kepada para tamunya saat sowan, baik hadiah berupa uang maupun barang antik semisal batu akik dan lainnya.

Atas kebaikan dan model karakter Gus Dur itulah, para kiai-kiai baik level kampung sampai kota, secara otomatis menjadi agen atau juru bicaranya hingga dilevel paling mendasar di masyarakat. Karenanya, penting untuk para calon Ketua Umum PBNU kedepan, menjaga dan menjalankan amanat para muasis NU dan menyapa komunitas NU paling bawah.

Kedua, KH. Hasyim Muzadi, Prototipe kepemimpinan dan manajemen organisasi yang merangkul “bukan memukul”. Semua elemen organisasi Islam yang toleran dan rahmatan lil ‘alamin bahkan lintas keagamaan secara manajerial organisasi dalam negeri.

Dalam peta Internasional, Kiai Hasyim telah sukses mengelola sampai mendaftarkan organisasi ICIS (International Confrerence of Islamic Scholars) ke PBB yang menyebut siapapun Ketua Umum PBNU adalah Sekjen ICIS. ICIS di desain sebagai jalur diplomasi non govermant.

BACA JUGA

Jika ini mampu diperankan dengan baik, maka konflik AS – IRAN akan selesai, dan PBNU akan dikenal sebagai organisasi juru damai non pemerintah yang efektif dan bermanfaat besar bagi peradaban umat manusia.

Di era kepemimpinan Kiai Hasyim, antara NU dan Muhammadiyah selalu kompak, dan seirama baik dalam negeri maupun acara di luar negeri.

Kiai Hasyim sering satu panggung dengan Pak Din Syamsuddin kala itu, bahkan nyaris setiap kesempatan dengan joke-joke khasnya yang membikin lawan menghormati dan kawan terkesima. Karenanya, model kepemimpinan dan manajerial organisasi yang dikembangkan oleh Kiai Hasyim Muzadi di contoh dan dikembangkan oleh Ketua Umum PBNU masadepan.

Ketiga, KH. Said Aqil Siroj, Prototipe kepemimpinan yang selalu mengkritik pemerintah selama tidak menguntungkan warga NU, Pesantren, dan lainnya. Namun, selama pemerintah pada jalurnya maka Kiai Said akan tampil terdepan dan mendukung sampai habis.

Kiai Said merupakan sosok pemimpin yang visioner dan membangun dalam hal peradaban dan memperjuangkan SDM NU dalam bingkai civitas akademik. Maka tak heran, Kampus NU di masanya sukses berdiri dan menjamur di seluruh tanah air.

Visi membangun SDM warga NU telah dijalankan secara konsisten, dengan membuat program pengiriman kader NU ke Luar negeri, khusus di Timur Tengah.

Bahkan, Alfaqir sendiri ikut membersamainya dan mengawal program tersebut dengan baik. Atas jasa Kiai Said, banyak kader NU yang sukses dan berhasil menuntut ilmu di luar negeri, hingga ada kader yang berhasil mencapai gelar doktor di kampus Iran dalam bidang Teologi dan Filsafat ‘Irfani dan Burhani.

Karenanya penting sekali, jejak peninggalan program dan pengembangan Kiai Said berupa Kampus UNU dan Rumah Sakit NU, harus diteruskan oleh siapapun Ketua Umum PBNU kedepan.

Keempat. KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Prototipe kepemimpinan administrasi ke-NU-an. Manajemen satu pintu melalui persuratan Digdaya NU, menjadi menarik untuk terus dikembangkan dan dilanjutkan.

Sehingga NU lebih tertata rapi, tidak seperti lapak pasar, yang dimana masing-masing lembaga dan banom di bawah PBNU bisa melakukan kerjasama langsung dengan pihak-pihak eksternal.
Melalui program satu pintu menjadikan manajemen keuangan terkontrol dengan baik. Meski tampaknya tidak fleksibel dan kaku, karena banyak lembaga tidak lincah lagi membuat proposal kegiatannya sendiri-sendiri.

Kepemimpinan penataan manajemen satu pintu dibawah kendali langsung PBNU adalah konsep besar yang harus bisa diimplementasikan kedepan yang lebih rasional, dinamis dan elegan.

Usulan Fardhu Kifayah

Walhasil, Alfaqir mengusulkan: Ketua Umum PBNU kedepan adalah mitra strategis pemerintah dalam penetapan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak demi kemaslahatan berbangsa dan bernegara yang lebih efektif, akuntabel dan berdampak manfaat nyata yang terukur.

Dengan demikian, setiap program pemerintah menjadi fardhu kifayah NU hadir dalam memberikan kontribusi baik melaui jejaring eksekutif (termasuk Kepala Daerah) Legislatif, Yudikatif, dan Lembaga/Badan/Komisi Negara, termasuk pemilihan Duta Besar RI/ Dilpomat untuk negara sahabat.

Peran PBNU cukup memberikan dorongan kepada pemerintah termasuk teknisnya mengikhbarkan calon-calon terbaik NU untuk ditetapkan pemerintah pada pos-pos pengambilan kebijakan pemerintah dimanapun berada. Tidak hanya untuk Pos Komisaris BUMN semata, namun untuk semua sektor pengambilan kebijakan negara dan pemerintahan kapan dan dimanapun juga.

PBNU mengikhbarkan kepada pemerintah, dan pemerintah dapat mengambil dari nama-nama yang telah diikhbarkan PBNU untuk ditetapkan resmi oleh pemerintah. Dengan menyandarkan rahmat dan ridha Allah, semoga NU bermanfaat terus menerus dalam kehidupan ummat, bangsa dan negara. Alfaatihah.

(Salam Ta’dhim: Alfaqir, Mohammad Dawam)

Leave A Reply

Your email address will not be published.