Doa di sepertiga malam terfitnah 

0

 

Oleh: Cahya Victoria Wati, MAN SIDOARJO

 

Aisyah Hana, seorang perempuan cantik yang tumbuh dengan kasih sayang, ia tumbuh dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi ilmu agama. Sehingga sering kali ia akan di pukul oleh sang ayah jika melalaikan sholatnya, namun saat Hana berusia sepuluh tahun, ia harus ikhlas menerima kehilangan sang ayah akibat kecelakaan yang dialaminya.

Hana kini tumbuh dewasa menjadi gadis berparas cantik, ia tinggal di lingkungan pesantren beberapa bulan yang lalu, Hana baru saja kehilangan sang ibu. Namun waktu harus tetap berjalan, bagaimana pun Hana harus bisa merelakan sang ibu yang telah menyusul sang ayah.

Lingkungan pesantren tidak jauh berbeda, tidak ada yang berubah. Yang ada hanya kini ia tidak memiliki siapapun, ibu atau ayahnya. Semua keluarganya telah meninggal, namun meski begitu Hana selalu mendoakan almarhumah ibu dan almarhum ayahnya di sepertiga malam terakhir, dan dalam tiap-tiap sholat lima waktunya.

Meski dalam lingkungan pesantren Hana merasa tetap memiliki seseorang seperti ibunya. Namanya Ustadzah Farihah Alaydrus, seseorang yang di panggil Umi oleh Hana.
Di tengah aktivitas Hana saat menjemur pakaian, seorang wanita paruh baya datang menghampiri Hana dan berkata
“Assalamualaikum” ucap salam Ustadzah Farihah
“Waalaikumusalam, umi” jawab Hana, spontan ia langsung mencium tangan Ustadzah.
“Ada perlu apa, umi ke sini?” tanya Hana sopan, tuturnya yang lembut dan menenangkan saat berbicara membuat sang ustadzah Farihah berdecak kagum mengucapkan

“Masyallah, Hana. Besok kamu ke perpustakaan ambil buku lalu ke rumah umi, buat taruh bukunya” ucap Umi,
“Baik umi, bukunya di mana umi?” kembali Hana bertanya
“Nanti tanya ke petugas perpustakaan yaa, oh iyaa nanti kamu di antar sama pak Ibrahim ke rumah umi.”
“Baik, umii” ucap Hana, melihat sepeninggalnya sang ustadzah. Hana kembali melanjutkan aktivitas menjemur bajunya.
 
 Malam hari adalah waktu yang tenang untuk beristirahat mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah seharian, bekerja namun berbeda dengan Hana dan Rania yang masih harus muroja’ah juz dua delapan dengan Rania yang menyimak bacaan Hana. Namun ia tiba-tiba menyakan sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang kepada Hana

“Hanaa, besok kamu ke rumah umi Farihah?” bisik Rania
“Iyaa” jawab Hana singkat dan masih tetap fokus menghafalkan juz dua puluh tiganya.
“Hana, kamu tahu nggak kan pak Ibrahim tadi masuk rumah sakit tadi. Katanya sih beliau habis jatuh dari tangga waktu benerin genting pesantren laki-laki.”
“Rania, beneran kamu??” ucap Hana kaget, pasalnya ia tidak tahu akan kabar semengejutkan ini.
“Terus besok, aku gimana Ran?” tanya Hana
“Sama aku aja, Han jalan kaki. Toh rumah ustadzah nggak terlalu jauh kan”
“Okee, makasih banyak Rania”
“Okee sama-samaa Hanaaa”

“Hana, maaf yaa aku nggak bisa nemenin kamu. Ibuku sakit jadi aku harus pulang.” ucap Rania, merasa bersalah kepada Hana.
“Eh, nggak papa Rania. Ibumu sakit apa? Pulang aja Ran, nggak usah merasa bersalah Rania.”
“Makasihh banyak Hanaa” ucap Rania kemudian pergi meninggalkan pekarangan pesantren dengan mobil yang di tumpanginya.

Setelah mengambil buku dari perpustakaan, Hana benar-benar kesusahan dalam membawa semua tumpukan buku tersebut. Petugas perpustakaan juga ikut memasukkan beberapa tumpukan buku ke dalam bagasi mobil dan beberapa area tengah mobil.
Kemudian saat akan masuk ke dalam mobil, Hana tidak tahu jika yang menyetir adalah anak laki-laki dari ustadzah umi.

Sepanjang perjalanan Hana, benar-benar diam membisu ia merasa tidak nyaman berada dalam satu mobil dengan laki-laki asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Sesampainya di depan pekarangan rumah ustadzah umi, Hana dan laki-laki tersebut meletakkan di dalam ruang kerja ustadzah farihah.

Setelah semua selesai, Hana kembali ke mobil menunggu hingga tanpa sadar ia mulai terlelap, entah apa yang telah terjadi, saat membuka mata Hana terbelalak kaget menyadari ia telah berada di dalam kamarnya. Ia bangun dari tempatnya tidur, memandang bingung sekitarnya.

Hana memberanikan diri untuk bertanya ke sahabatnya Rania tentang apa yang sedang terjadi. Mengapa teman kamarnya menjauhi Hana? Ada apa ini??
“Rania ini kenapa teman sekamar aku menjau—“ belum sempat Hana menyelesaikan kata-katanya, Rania lebih berbicara ke Hana “Hana, aku kecewa sama kamu.”

mendengar kata-kata yang Rania lontarkan membuat kening Hana berkerut, ia bingung harus bagaimana… mengapa Rania kecewa padanya, apa salahnya?
“Raniaa, tunggu sebentar jelasin ke aku kenapa kamu kecewa?”
“Aku kira kamu sahabat aku, kalau gini mending gausah jadi sahabatku lagi.”
“Ran, raniaa kamu kenapa” ucap Hana masih merasa bingung tentang apa yang sedang terjadi, dari arah belakang punggungnya, Hana mendengar santri perempuan sedang berbisik-bisik.
Saat akan melangkahkan kaki, nama Hana lebih dulu di panggil oleh santri perempuan, yang memberitahunya jika nama Hana di panggil, dalam ruang rapat para ustadzah.
“Hana, di panggil sama umi Farihah. Di ruang kepala pesantren”
“Baik, terima kasih” ujar Hana sebelum akhirnya ia berlari menuju ruang kepala pesantren.

Sesampainya di ruang kepala pesantren, Hana melihat Umi Farihah dengan raut wajah kecewa memandang Hana. Umi Farihah pun terlihat ragu, meski wajahnya menunjukkan rasa kecewa kepada Hana. Di sudut ruangan, Fahri berlutut, wajahnya lebam. Sang ayah, kepala pesantren, menghajarnya dengan gagang sapu. Fahri Zaydan yang memang anak dari kepala pesantren dan Umi Farihah.
“Jelaskan!! Apa yang telah kau perbuat kemarin?” bentaknya
“Tidak ada, Abi… Demi Allah, tidak ada!” bela Fahri berusaha membela diri, namun tak ayal sang Abi memberinya pukulan bertubi-tubi.

Hana tidak terkejut, karena baginya pukulan yang sama sudah sering ia dapatkan dari sang ayah. Hingga pukulan yang terakhir Fahri dapatkan nyaris membuat gagang sapu yang di pakai Abi patah namun Fahri berhasil melindungi Hana dari patahan gagang sapu yang hampir mencelakai Hana.

Hingga akhirnya Fahri merendahkan diri, berlutut hendak mencium kaki sang Abi ia memohon agar tidak menyakiti Hana
“Abi, boleh menyakiti Fahri. Namun jangan Hana” katanya lirih
“Kenapa?” satu kata yang keluar dari mulut sang Umi, mampu memberi hati Fahri harapan akan menyatakan rasa cinta yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
“Karena aku mencintainya” ucap Fahri tegas menyatakan perasaanya Umi Farihah dan Abi hanya bisa diam membisu mendengar pernyataan cinta yang keluar dari mulut anak laki-laki semata wayangnya.

Hingga beberapa bulan pun telah berlalu, selama itu berita atau berbagai gosip tentang dirinya dan Fahri sudah tersebar luas. Hana hanya bisa diam membisu, Hana sama sekali tidak mempunyai teman. Karena Rania benar-benar menjauhi dirinya, yang sudah kotor dan tak suci.

Dan selama itu semua Hana benar-benar lelah, ia selalu berdoa di sepertiga malam dalam heningnya semesta, Hana bersujud lebih lama. Air matanya perlahan jatuh membasahi sajadah, tubuhnya bergetar ketika kembali mendengar tentang buruknya fitnah yang Hana terima.

Dalam sujudnya yang lama, Hana berdoa kepada allah
“Ya Allah… Engkau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku lemah, aku tidak bisa membela diriku. Aku serahkan semua pada-Mu. Tunjukkanlah kebenaran-Mu dengan cara-Mu…” rintih Hana dalam sujudnya, berkali-kali ia langitkan doa tersebut di sepertiga malam ia terfitnah.

Hingga menjelang subuh ia membuka Al-quran juz dua puluh empat tepatnya surat an-nur ayat sebelas hingga dua puluh enam, Hana muroja’ah tanpa bantuan Rani lagi. Kembali air mata Hana kembali turun membasahi al quran yang sedang di bacanya. Ia berharap, jika fitnah yang diterimanya segera berlalu. Ayat-ayat surat an-nur berhasil membuat hatinya sedikit merasa tenang. 

Suatu sore yang muram, Rania mendatangi Hana. Mata sahabatnya itu sembab, penuh penyesalan.

“Hana… maafkan aku…” suaranya bergetar.

Hana diam.

“Semua… semua itu aku yang memulai. Aku yang menyebarkan kabar itu pertama kali. Aku iri sama kamu… aku jahat. Aku menyesal.” air mata Rania jatuh deras. Ia bersujud di hadapan Hana, meminta ampun. Butuh waktu lama bagi Hana untuk berbicara.

“Rania… kamu sahabatku. Aku sakit… sangat sakit. Tapi aku juga tahu bahwa Allah Maha Pengampun. Kalau Allah saja mau mengampuni, siapa aku hingga tidak?”

Hana memeluk Rania yang menangis sesenggukan. Luka itu tidak hilang, tapi perlahan mulai sembuh. Beberapa minggu kemudian, Hana mengambil keputusan besar. Ia menemui Ustadzah Farihah dan kepala pesantren dengan hati yang mantap.

BACA JUGA

“Umi, Abi… izinkan Hana pergi. Hana ingin kembali ke kampung halaman, mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Setelah itu, Hana ingin melanjutkan ilmu ke kota lain.”

Ustadzah menahan air mata. “Kau yakin, Nak?”

Hana mengangguk. “Di sini terlalu banyak luka. Tapi aku percaya, Allah menyiapkan jalan yang lebih baik.” 

Dan pagi yang dingin itu, Hana melangkah keluar dari pesantren dengan satu koper kecil. Di belakangnya, Rania berdiri sambil menangis.

“Terima kasih… sudah memaafkanku,” lirihnya.

Hana tersenyum tipis. “Kita semua punya kesalahan, Rania. Yang penting, jangan mengulanginya.”

Tahun-tahun berlalu. Hana kini menjadi pengajar Al-Qur’an di sebuah desa terpencil. Suaranya lembut, mengajari anak-anak mengeja ayat demi ayat. Luka masa lalu masih sesekali terasa, tapi kini ia hidup dalam kedamaian. Setiap sepertiga malam, ia masih bersujud, memohon ampun, memohon kekuatan, dan memohon agar Allah menegakkan kebenaran seperti yang Ia lakukan kepada Sayyidah Aisyah dahulu.

Dalam sujud yang panjang itu, Hana berbisik lirih:

“Ya Allah… terima kasih karena Engkau tidak meninggalkanku meski semua orang pergi. Terima kasih karena Engkau tetap menjadi tempat pulangku.”

Sajadahnya kembali basah oleh air mata. Bukan air mata kepedihan, melainkan air mata keteguhan dan harapan.

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.