RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi menggelar Orientasi Penerima Beasiswa Program Nahdlatul Ulama Scholarship (NUS) untuk angkatan kedua. Melalui program Beasiswa Peradaban hasil kerja sama dengan BAZNAS RI ini, PBNU mendidik mahasiswa dari berbagai wilayah rentan konflik dunia untuk dicetak menjadi calon pemimpin perdamaian global dengan karakter khas dari ulama-ulama NU.
Sebanyak enam mahasiswa internasional yang lolos seleksi ketat diperkenalkan dalam orientasi ini. Mereka berhasil menyisihkan 170 pendaftar dari berbagai negara dan akan menempuh studi jenjang S1 serta S2 di Universitas Abdul Chalim (UAC) Mojokerto, Jawa Timur.
Sekretaris Lakpesdam PBNU, Ufi Ulfiah, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya NU dalam memperkuat diplomasi pendidikan, membangun jejaring akademik global, serta mencetak generasi pemimpin dunia yang moderat.
“Cita-cita terbesar dari program beasiswa peradaban ini adalah kita ingin mencetak para calon-calon pemimpin agama di berbagai negara yang kemudian belajar tentang keulamaan, kepemimpinan agama di Indonesia,” ujar Ufi Ulfiah di Gedung PBNU, Jakarta, pada Selasa (15/07/2026).
Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah BAZNAS RI, Farid Septian, yang mendampingi proses orientasi, menyebut kerja sama ini menjadi bukti pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebagai instrumen strategis pembangunan manusia (human development) yang berdampak hingga ke level global.
“Bagi BAZNAS, ini membuktikan bahwa zakat infak sedekah merupakan instrument pembangunan yang penting,” kata Farid Septian.
Direktur NUS, Muhamad Syauqillah, S.H.I., M.Si., Ph.D., menyampaikan harapan besar agar para penerima beasiswa ini nantinya dapat menjadi motor perdamaian saat kembali ke negara asal mereka.
“Jadi dengan beasiswa ini kami berharap Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang wasathiyah keaswajaan yang tumbuh dan berkembang di Nahdlatul Ulama bisa dijadikan inspiring value untuk di negaranya masing-masing ketika mereka kembali ke negaranya,” tutur Syauqillah.
Selama 3 hingga 4 tahun ke depan, para mahasiswa asing ini tidak hanya akan mempelajari materi kuliah primer di UAC Mojokerto. Menurut Pengurus LAKPESDAM PBNU sekaligus pendamping program, Dr. Muhammad Najih Arromadloni, tingginya animo ini menunjukkan lonjakan kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

Para mahasiswa dibekali materi pembekalan khusus yang diisi oleh sejumlah pakar dan akademisi, antara lain:
Materi Ke-NU-an dan Keaswajaan oleh Wasekjend PBNU, Dr. Ginanjar Sya’ban, Materi Keindonesiaan oleh akademisi Dr. Khoirul Anam, dan Materi Kelembagaan oleh Direktur NUS, Muhamad Syauqillah, S.H.I., M.Si., Ph.D.
Kurikulum khusus ini dirancang agar para penerima manfaat memiliki pemahaman utuh mengenai moderasi beragama, geopolitik, serta resolusi konflik khas ulama nusantara yang ramah dan damai.
Berikut adalah daftar enam mahasiswa internasional penerima manfaat Beasiswa Kerjasama PBNU dan BAZNAS RI yang akan menempuh studi di UAC Mojokerto:
Ahmad Fraidon Qaderi – Afghanistan
Zakaria Nait Mohand – Aljazair
Abdulhameed Mubarak Adinoyi – Nigeria
Issa Asili Omary – Tanzania
Ibad Ali Jan – Pakistan
Nafisa Sikder – Bangladesh
(Anisa)