MATA HATI

0

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Manusia selain memiliki mata fisis yang sangat bermanfaat dalam kehidupannya, juga memiliki mata hati yang dapat menjangkau beberapa hal yang tidak bisa dijangkau oleh pengelihatan mata biasa. Orang yang tidak bisa melihat dengan mata lahiriahnya merupakan suatu kekurangan dari kesempurnaan fisiknya.

Namun demikian, kekurangan itu tidaklah sangat berbahaya. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya orang yang tidak bisa melihat, bisa melahirkan karya ilmiah yang besar yang kita jumpai dalam berbagai kehidupan, baik dalam ilmu agama, maupun dalam sains dan teknologi. Banyak ulama besar dan ilmuwan yang masyhur yang terdiri dari kaum tuna netra.

Dengan demikian, cacat mata lahir itu tidak begitu berat jika dibandingkan dengan rusaknya mata hati yang ada dalam dada manusia. Orang-orang yang telah buta mata hatinya, akan mengalami bahaya yang sangat besar, karena mereka tidak akan bisa memahami hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Mata fisis bisa melihat segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil. Namun apabila terhalang sesuatu, tidak akan bisa menembusnya.

Sebaliknya, mata hati sangat tajam, dia akan bisa melihat segala sesuatu yang lahir maupun yang batin. Pandangan mata hati bisa menembus alam semesta yang tidak terbatas. Umat manusia selain diarahkan agar menjaga kesehatan mata lahiriahnya, juga diperintahkan agar mempertajam mata batinnya. Dengan demikian, ia bisa memahami segala sesuatu, bisa menghayati keagungan Allah dalam segala kehidupannya.

Dengan mata batin, seseorang dapat menjangkau pengetahuan yang sangat luas dan penglihatan yang sangat jauh tidak terhalang oleh sesuatu yang ada. Dengan demikian, orang tersebut akan mengenali dirinya dengan baik, mengenali alam semesta di sekelilingnya, dan mengenal maha pencipta dari alam semesta tersebut, yaitu Allah s.w.t..

Sesungguhnya kebanyakan manusia tidak buta mata lahiriahnya, tapi mata hatinya banyak yang buta, sehingga tidak mampu memahami segala sesutu secara mendalam.

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (QS. Al-Hajj, 22:46).

Memperhatikan dan menghayati tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada dalam alam semesta dengan segala peristiwanya, tidaklah cukup dengan menggunakan pengelihatan lahir saja. Hal itu harus ditunjang dengan pengelihatan mata batin yang jernih dan bersih dari berbagai macam dosa. Rasulullah s.a.w. berpesan:

أن تَعبُدَ اللهَ كَأنَّك تَراه، فإن لم تَكُنْ تَراه فإنَّه يَراك

Hendaklah kamu menyembah (beribadah) kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Bukhari, 59).

Buta mata lahiriah belum tentu membawa bencana, tetapi buta mata hati, pasti akan mendatangkan bencana yang sangat dahsyat. Karena, apabila seseorang telah menderita penyakit buta mata hati, maka ia akan tersesat pada kehidupan yang tercela. Ia akan menempuh perjalanan yang menyesatkan, tidak menempuh jalan yang membahagiakan. Disebutkan dalam al-Qur’an:

وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا

Barang siapa yang buta (mata hatinya) di dunia ini, di akhirat pun dia pasti buta dan lebih tersesat jalannya. (QS. Al-Isra, 17:72).

Setiap orang muslim diarahkan agar terus mempertajam mata hati atau mata batinnya sehingga akan menuju kepada kemuliaan dan keluhuran dalam segala kehidupannya. Kesucian mata batin dilakukan dengan (1) menghindari sikap angkuh dan sombong, (2) menghindari sifat tamak atau rakus, (3) menghindari sikap hasad atau dengki, (4) menghindari sikap ujub atau merasa dirinya paling baik, (5) menghindari sikap riya’ atau selalu ingin memamerkan kebaikan-kebaikannya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.