Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Mustasyar PBNU
Pandangan publik belakangan ini tertuju pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan dihelat pada akhir Agustus 2026 nanti di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Perhelatan ini tidak hanya menjadi pagelaran rutin, namun menjadi titik awal yang akan menjadi nakhoda arah perjalanan NU memasuki abad keduanya. Di persimpangan jalan ini, NU dihadapkan pada disrupsi global yang berlari kencang, mulai dari pergeseran lanskap paham keagamaan, lompatan sains dan teknologi, dinamika geopolitik internasional, hingga revolusi teknologi informasi (IT) yang semakin tak terbendung.
Menyadari realitas zaman yang terus bergerak, muktamar kali ini dituntut untuk melahirkan terobosan-terobosan strategis bagi organisasi Islam terbesar di dunia ini. Keputusan yang lahir dari Tambakberas kelak harus mampu menjadi kompas yang memandu nahdliyyin agar sanggup menjangkau masa depan tanpa rasa “gagap”. Tantangannya jelas, warga NU harus tangkas beradaptasi dengan kemajuan sains dan teknologi, sembari tetap piawai membaca arah perkembangan paham keagamaan, politik, dan pertumbuhan ekonomi global.
Sebagai pondasi utamanya, NU telah lama dikenal dunia sebagai jangkar pemahaman agama yang memegang teguh prinsip ummatan wasathan atau yang kita pahami dengan umat pertengahan. Karakteristik utama umat pertengahan ini terwujud dalam empat pilar pergerakan yang selalu dijaga, yakni tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus pada keadilan).
Posisi sebagaimana disinggung di atas akan menjadi sangat relevan jika kita melihat peta paham keagamaan global yang saat ini terbelah menjadi tiga kubu besar, yaitu pertama, kelompok tekstual yang menelan ajaran agama hanya dari kulit luarnya saja. Cara pandang yang sempit ini kerap kali menjerumuskan mereka pada jurang ekstremisme dan radikalisme. Kedua, di kutub yang berlawanan, terdapat kelompok liberal yang menafsirkan agama terlalu longgar, hingga sering kali tercerabut dari pakem dan ketentuan agama yang telah baku.
Di antara dua kutub ekstrem itu, hadir kelompok ketiga, yaitu ummatan wasathan. Kelompok ini menolak terjebak dalam pembacaan agama yang kaku secara literal, namun juga pantang terseret arus liberalisasi yang kebablasan. Lewat penawaran jalan tengah yang rasional dan humanis, tidak heran jika model pemahaman ini paling mudah diterima oleh mayoritas umat Islam di berbagai belahan dunia. Pemahaman jalan tengah inilah yang terus dihidupi oleh NU melalui Ahlussunnah wal Jamaah. Pendekatan yang diterima dengan tangan terbuka dan hati yang tulus oleh mayoritas Muslim, baik di tingkat nasional, maupun di panggung internasional.
Sepanjang abad pertamanya, kontribusi NU dalam mengembangkan ilmu-ilmu agama telah menorehkan tinta emas. Fakta sejarah membuktikan bahwa banyak ulama dan ahli agama kharismatik, baik di Nusantara maupun di kancah global, lahir dari rahim NU. Namun, kejayaan di abad pertama tidak boleh membuat terlena. Untuk menyongsong abad kedua yang didominasi oleh supremasi sains, teknologi, dan ledakan IT, NU dituntut untuk melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikannya. Harus diakui, selama ini sistem pesantren telah sangat sukses mencetak kader-kader mumpuni di bidang agama yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Sayangnya, kecakapan agama saja kini tidak lagi cukup. Di abad keduanya, NU harus berani berekspansi dengan merancang model pendidikan yang berorientasi pada penguasaan sains dan teknologi, serta kecakapan mengantisipasi revolusi IT. Menghadapi tuntutan ini, NU sudah saatnya menginisiasi transformasi pada institusi pesantren yang namanya telah mendunia itu, agar tidak eksklusif mengajarkan ilmu agama saja, tetapi juga mengintegrasikannya dengan pendidikan sains dan teknologi mutakhir.
Oleh karena itu, desain pesantren masa depan harus menyertakan sekolah-sekolah umum berkualitas yang berdiri berdampingan dengan madrasah keagamaan. Visinya jelas, lulusan pesantren kelak tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mampu menembus perguruan tinggi umum favorit. Dengan demikian, generasi muda NU tidak hanya akan meramaikan kampus-kampus agama, tetapi juga akan membanjiri universitas-universitas unggulan di tingkat nasional dan internasional. Urgensi ini semakin terasa jika melihat fenomena di lapangan. Berdasarkan pengalaman penulis sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi umum dan agama, ada satu realitas ironis yang harus segera dibenahi NU. Saat ini, mayoritas mahasiswa di kampus-kampus umum favorit sebenarnya adalah anak-anak berlatar belakang NU.
Sayangnya, pembinaan mereka di kampus sering kali tidak tergarap secara kelembagaan oleh NU. Akibat kealpaan ini, banyak dari mereka yang akhirnya terombang-ambing dan terjerumus ke dalam kelompok-kelompok yang bertolak belakang dengan nilai ummatan wasathan, entah itu terserap ke kelompok literal-radikal maupun kelompok liberal. Padahal, antusiasme generasi muda NU untuk menguasai ilmu umum sangatlah tinggi. Banyak putra-putri warga NU, bahkan anak-anak para kyai sekalipun yang memiliki tekad kuat untuk mendalami sains dan teknologi dari berbagai disiplin ilmu. Pesantren harus jeli menangkap aspirasi ini dengan menyediakan bekal akademis yang cukup agar mereka siap bersaing masuk ke perguruan tinggi umum unggulan, hingga melanjutkan studi sains ke mancanegara.
Pada akhirnya, sebagai organisasi terbesar dengan jumlah massa mayoritas, NU tidak boleh puas hanya dengan predikat sebagai raksasa ilmu keagamaan. NU harus bertransformasi menjadi raksasa sains dan teknologi agar mampu bersaing secara gagah di arena global, memenangkan pertarungan ekonomi, politik, dan peradaban. Sebagai langkah pamungkas dan mendesak, NU harus segera merumuskan sistem bimbingan keagamaan yang berkelanjutan bagi mahasiswa-mahasiswinya yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi umum. Pendampingan ini adalah kunci agar di tengah derasnya arus ilmu pengetahuan dan berbagai macam ideologi yang mereka pelajari, akidah Ahlussunnah wal Jamaah tetap mengakar kuat di dalam dada mereka. Wallahu A’lam bis Shawab.