Menyucikan Nama Allah dan Menjaga Kerendahan Hati

0

Oleh: KH. Abdul Qoyyum Mansur

(Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang)

QS. Al-A’la [87]: 1

 

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ ۝١

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi (1)

 

Perintah sabbih pada ayat ini bermakna membersihkan atau menyucikan. Yang disucikan bukan sekadar penyebutan nama Allah, melainkan seluruh pengagungan kepada-Nya, baik dalam ucapan, keyakinan, maupun sikap hidup. Seorang mukmin diperintahkan untuk senantiasa menempatkan Allah sebagai Dzat Yang Mahasuci dari segala kekurangan dan segala sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

Al-Quran memuat beberapa surat yang dibuka dengan lafaz tasbih dalam bentuk yang berbeda-beda. Keberagaman bentuk ini bukan sekadar variasi bahasa, tetapi mengandung pesan yang mendalam.

Surah Al-Isra diawali dengan kalimat Subhānalladzī asrā bi’abdihī… yang menggunakan bentuk subhāna, yakni ungkapan penyucian dan pengagungan kepada Allah.

Sementara itu, beberapa surat lain dibuka dengan bentuk fi’il māḍī, seperti firman Allah:

Sabbaha lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ… Bentuk ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk telah bertasbih kepada Allah.

Ada pula surat yang menggunakan fi’il muḍāri’, yaitu: Yusabbihu lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ… Maknanya, seluruh makhluk senantiasa dan terus-menerus bertasbih kepada Allah.

Adapun Surah Al-A’la dibuka dengan bentuk fi’il amr (kata perintah), yaitu sabbih. Setelah seluruh alam digambarkan telah dan terus bertasbih kepada Allah, manusia diperintahkan untuk ikut menyucikan dan mengagungkan-Nya. Dengan demikian, tasbih bukan sekadar bacaan lisan, melainkan ajakan untuk menghadirkan kesadaran akan kebesaran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dua Surat yang saling melengkapi

Untuk melengkapi keterangan di atas, kita bisa perhatikan hubungan yang indah antara Surah Al-Isra dan Surah Al-Kahfi yang letaknya berdampingan dalam mushaf.

Surah Al-Isra menggambarkan perjalanan seorang hamba menuju ke hadirat Allah melalui peristiwa Isra’, sebagaimana firman-Nya: Subhānalladzī asrā bi’abdihī lailan…

Sebaliknya, Surah Al-Kahfi dibuka dengan firman: Alhamdulillāhilladzī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāb…

Jika Surah Al-Isra berbicara tentang seorang hamba yang diperjalankan oleh Allah, maka Surah Al-Kahfi berbicara tentang kitab yang diturunkan kepada hamba tersebut.

Menariknya, pada kedua ayat itu Allah tidak menyebut Nabi Muhammad Saw dengan nama beliau, melainkan dengan sebutan ‘abdihīhamba-Nya.

Penyebutan Nabi Muhammad Saw sebagai ‘abdihī mengandung pelajaran akhlak yang sangat luhur. Rasulullah adalah manusia yang memiliki kedudukan paling tinggi di sisi Allah. Namun, ketika menceritakan mukjizat Isra’ Mi’raj maupun ketika menjelaskan turunnya al-Qur’an, Allah tidak menonjolkan nama beliau, tidak pula menggunakan penyebutan yang menegaskan kerasulan atau kenabian beliau. Yang dipilih justru sebutan yang paling sederhana sekaligus paling mulia, yaitu hamba Allah.

Di sinilah letak pendidikan ilahi. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan untuk merendahkan hati. Kemuliaan tidak perlu dipertontonkan, sebab kemuliaan sejati justru tampak dalam kerendahan hati.

Pelajaran ini sangat relevan dalam kehidupan modern. Di tengah budaya yang gemar memamerkan aktivitas pribadi, seseorang mudah tergoda untuk menunjukkan apa yang dimiliki dan apa yang telah dilakukannya. Padahal, Islam mengajarkan agar amal kebaikan tidak dijadikan sarana mencari pengakuan manusia.

Misalnya, seseorang yang meminta namanya tidak dicantumkan ketika bersedekah sehingga hanya ditulis “Hamba Allah”. Namun, setelah itu ia justru memberi tahu banyak orang bahwa “Hamba Allah” yang dimaksud adalah dirinya. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa keinginan untuk dipuji masih tetap ada, meskipun dibungkus dengan simbol kerendahan hati. Hakikat tawadlu bukan sekadar menyembunyikan nama, tetapi benar-benar membersihkan hati dari keinginan untuk dipuji dan diakui.

 

Makna tasbih dalam kehidupan

Perintah Sabbihisma Rabbikal A’la pada akhirnya mengajarkan bahwa tasbih bukan hanya lafaz yang diucapkan setelah salat atau ketika melihat sesuatu yang indah. Tasbih adalah sikap hidup yang mengakui kesempurnaan Allah, sekaligus menyadari keterbatasan manusia.

Allah Swt memiliki nama yang mulia yang jumlahnya sangant banyak dan tidak diketahui secara pasti selain Dia yang mengetahuinya. Nama-nama itu menjadi bukti akan keagungan dan kesempurnaan yang Allah Swt miliki. Diantara nama-nama itu ada 99 nama yang Allah Swt kabarkan kepada hambanya yang beriman. Allah Swt berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 180:

  وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Seluruh nama-nama Allah adalah baik dan mulia, nama-nama yang mengandung makna yang sangat agung, dan bukan sekedar nama yang tidak bermakna apapun. Dan setiap nama-nama yang dimiliki oleh-Nya adalah menunjukkan sifat-sifat yang Allah Swt miliki.

Bahwasnya semua nama-nama Allah itu harus dimuliaan dan diagungkan, dan berdoalah kepada Allah Swt dengan menyebutkan nama-nama Nya yang Mulia itu, dan bertawassul lah dengan nama-nama Allah Swt yang agung itu.

Demikian juga ketika menyaksikan kebesaran ciptaan Allah, ketika memperoleh nikmat, atau ketika melihat berbagai keajaiban kehidupan, seorang mukmin dianjurkan memperbanyak tasbih sebagai ungkapan pengagungan kepada Allah Yang Mahatinggi.

Oleh karenanya, tasbih tidak hanya menyucikan lisan, tetapi juga membersihkan hati dari kesombongan. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw tetap disebut sebagai ‘abdihī pada saat memperoleh kemuliaan yang luar biasa, demikian pula setiap orang beriman hendaknya menjadikan kerendahan hati sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Itulah salah satu pesan mendalam yang terkandung dalam pembukaan Surah Al-A’la: menyucikan Allah sekaligus membersihkan diri dari segala bentuk keangkuhan. Wallahu a’lam. (Zahid)

 

Disarikan dari Pengajian KH. Abdul Qoyyum Mansur dalam:  https://www.youtube.com/watch?v=ruXhhCTqRZ4

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.