Mengapa Pencerahan Batin Datang Tiba-Tiba?

0

Pada edisi yang lalu kita telah mengkaji dua kelompok yang sama-sama mempunyai tempat istimewa di sisi Allah s.w.t., yaitu pertama al-Muqarrabîn, kelompok yang beribadah kepada Allah s.w.t. karena cinta yang tulus kepada-Nya.

Kelompok ini tidak lagi memikirkan untung rugi atau pahala untuk dirinya sendiri. Karena itulah kelompok ini dalam istilah Ibnu Abbâd al-Nafazî dikenal sebagai ahli makrifat dan atau muhibbin. 

Kedua adalah al-Abrâr, yaitu hamba yang beribadah kepada Allah s.w.t. yang masih digerakkan oleh irâdah atau kehendak pribadi. Dalam kaitannya dengan ibadah, kelompok yang kedua ini masih terikat oleh “transaksi keuntungan” seperti pahala, derajat di surga, dan keselamatan dari belenggu api neraka. Baik al-Muqarrabîn atau al-Abrâr merupakan dua kelompok yang mempunyai kedudukan yang sah serta diridhai oleh Allah s.w.t.. Keduanya merupakan kelompok yang makhshûshûn di hadapan-Nya, meskipun mempunyai kapasitas dan jalan yang berbeda, namun bermuara di tempat yang sama, yaitu Allah s.w.t.. 

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada sebuah fenomena mengenai pengertian makrifat yang diungkap oleh beberapa oknum yang mengatasnamakan dirinya sebagai guru spiritual. Namun sayangnya, esensi dari materi yang disampaikan jauh dari definisi pakem yang telah dirumuskan oleh para ulama tasawuf yang muhaqqiqun.  Dalam hal ini, ada ungkapan menarik yang diucapkan oleh Syaikh Abu Yazid al-Busthami tatkala menerangkan konsep makrifat dalam domain tasawuf. Bagi Abu Yazid makrifat adalah tingkatan tasawuf yang kedudukannya sangat tinggi dan berat. 

Oleh karena itu, tidak semua orang shaleh memiliki hati yang luas untuk menanggung makrifat yang berat itu. 

قَالَ أَبُو يَزِيدَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اطَّلَعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى قُلُوبِ أَوْلِيَائِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يَكُنْ يَصْلُحُ لِحَمْلِ الْمَعْرِفَةِ صِرْفاً فَشَغَلَهُمْ بِالْعِبَادَةِ.

Abu Yazid r.a. berkata: Allah Ta’ala menilik hati para wali-Nya, lalu di antara mereka ada yang tidak sanggup memikul makrifat, sehingga Dia menyibukkan mereka dengan ibadah. (Syarah Hikam li Ibni Abbâd al-Nafazî, Juz: 01, hal: 62).

Dari pernyataan Syaikh Abu Yazid di atas, bisa kita pahami bahwa Allah s.w.t. Maha Mengetahui tentang kesiapan dan ketidak-siapan hati hamba-Nya. Ketika Allah s.w.t. mengetahui ketidak-siapan hamba-Nya untuk menerima anugerah berupa makrifat itu, maka Dia menyibukkan mereka dengan ibadah. Hal senada juga ditegaskan oleh Sahal bin Abdullah r.a. sebagaimana dicatat oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’. Menurutnya, sekalipun ahli ibadah dan ahli zuhud, belum tentu memiliki hati yang siap untuk menerima anugerah yang agung berupa makrifat itu.

وَذَكَرَ الْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي كِتَابِهِ (حِلْيَةِ الْأَوْلِيَاءِ) عَنْ سَهْلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَطَّلِعُ عَلَى أَهْلِ قَرْيَةٍ أَوْ بَلْدَةٍ فَيُرِيدُ أَنْ يَقْسِمَ لَهُمْ مِنْ نَفْسِهِ قِسْماً فَلَا يَجِدُ فِي قُلُوبِ الْعُبَّادِ وَلَا قُلُوبِ الزُّهَّادِ مَوْضِعاً لِتِلْكَ الْقِسْمَةِ مِنْ نَفْسِهِ فَيَمُنُّ عَلَيْهِمْ أَنْ يَشْغَلَهُمْ بِالتَّعَبُّدِ عَنْ نَفْسِهِ.

​Al-Hafidz Abu Nu’aim menyebutkan di dalam kitab Hilyatul Auliya’ dari Sahl bin Abdullah r.a., bahwa beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menilik penduduk suatu desa atau negeri, lalu Dia berkehendak untuk memberikan kepada mereka karunia makrifat dari-Nya. Namun, Dia tidak mendapati di dalam hati para ahli ibadah dan tidak pula di hati para ahli zuhud tempat yang sanggup menampung pemberian dari-Nya, sehingga Dia pun memberikan karunia kepada mereka dengan menyibukkan mereka dalam ibadah kepada-Nya”.

Tatkala ahli ibadah dan ahli zuhud belum tentu memiliki hati yang siap untuk menerima anugerah yang luar biasa itu, maka Allah s.w.t. mengalihkannya dalam bentuk pemberian lain berupa ketekunan dalam beribadah. Di sini kita bisa memahami bahwa dimensi ahli makrifat dan ahli ibadah pada hakikatnya merupakan sama-sama anugerah yang diberikan Allah s.w.t. kepada hamba-Nya. Seseorang yang sepanjang hidupnya disibukkan dengan ibadah kepada Allah s.w.t., pada dasarnya sedang ditempatkan oleh-Nya pada kedudukan yang sesuai dengan porsi dan kesiapan hatinya. 

Senada dengan itu, Syaikh Abu al-Abbas al-Dinawari menjelaskan bahwa dalam tasawuf ada dua prinsip penting untuk dipahami bagaimana Allah s.w.t. mendidik dan memberikan anugerah kepada hamba-Nya. Prinsip pertama adalah bagaimana jalan spiritualitas disesuaikan dengan kapasitas seorang hamba, dengan kata lain, jika ada hamba yang hatinya belum siap untuk menanggung beban makrifat, maka Allah s.w.t. memberikan opsi lain berupa jalur khidmah. Khidmah dalam pandangan al-Dinawari di sini adalah proses penghambaan seseorang lewat aktivitas ibadah lahiriah, seperti shalat dan berpuasa sunah, serta khidmah untuk umat. 

Prinsip yang kedua adalah bagaimana jalan spiritualitas itu diberikan melalui anugerah berupa wâridât atau pencerahan batin. wâridât pada prinsipnya pencerahan batin yang datangnya dari Allah s.w.t. dan biasanya datang secara tiba-tiba. Jika ditanya mengapa anugerah tersebut datang secara tiba-tiba? Karena jika karunia itu  datang dengan jalan yang bisa ditebak, setelah seorang hamba melakukan suatu amal, maka yang bersangkutan akan sombong. Ia akan merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan anugerah itu karena amal perbuatan yang telah dilakukannya. 

Anugerah Allah s.w.t. yang diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih merupakan karunia suci dan bernilai tinggi. Anugerah itu tidak bisa dijadikan sebagai barang tukar yang bisa ditransaksikan dengan amal ibadah manusia. Sebab, dengan amal ibadah manusia yang masih banyak kekurangan, mustahil rasanya jika harus dibandingkan dengan anugerah Allah s.w.t. yang suci dan bernilai tinggi itu. Karena itu, pelajaran yang bisa kita ambil di sini adalah bahwa Allah s.w.t. pada hakikatnya ingin menyadarkan para hamba-Nya bahwa semua anugerah, baik khidmat maupun makrifat merupakan rahmat dari-Nya. 

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ الدِّينَوَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ لِلَّهِ عِبَاداً لَمْ يَسْتَصْلِحْهُمْ لِمَعْرِفَتِهِ فَشَغَلَهُمْ بِخِدْمَتِهِ وَلَهُ عِبَاداً لَمْ يَسْتَصْلِحْهُمْ لِخِدْمَتِهِ فَأَهَّلَهُمْ لِمَعْرِفَتِهِ، وَالْإِشَارَةُ بِالْآيَةِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ بَيِّنَةٌ فِي هَذَا الْمَعْنَى. وَقَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: (قَلَّمَا تَكُونُ الْوَارِدَاتُ الْإِلَهِيَّةُ إِلَّا بَغْتَةً لِئَلَّا يَدَّعِيَهَا الْعِبَادُ بِوُجُودِ الِاسْتِعْدَادِ). الْوَارِدَاتُ الْإِلَهِيَّةُ هَدَايَا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَتُحَفٌ وَكَرَامَاتٌ يُكْرِمُ بِهَا عِبَادَهُ فَلَا تَكُونُ فِي الْغَالِبِ إِلَّا بَغْتَةً، أَيْ، فَجْأَةً لِئَلَّا يَدَّعُوهَا وَيَرَوْا أَنْفُسَهُمْ أَهْلًا لَهَا بِوُجُودِ اسْتِعْدَادِهِمْ وَتَهَيُّئِهِمْ، وَتُحَفُ اللَّهِ تَعَالَى وَهَدَايَاهُ مُقَدَّسَةٌ عَنْ أَنْ تُعَلَّلَ بِأَمْرٍ وَمُنَزَّهَةٌ عَنْ أَنْ تُقَابَلَ بِأَعْمَالِ بِرٍّ بَلْ هِيَ مَحْضُ كَرَمٍ وَفَضْلٍ مِنَ الْكَرِيمِ الْمُتَفَضِّلِ

Abu Al-Abbas al-Dinawari berkata: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang tidak Dia persiapkan untuk makrifat kepada-Nya, sehingga Dia menyibukkan mereka dengan berkhidmat kepada-Nya. Dia juga memiliki hamba-hamba yang tidak Dia persiapkan untuk berkhidmat kepada-Nya, sehingga Dia melayakkan mereka untuk makrifat kepada-Nya.” Isyarat dari ayat mulia yang disebutkan oleh mualif sangat jelas terkait makna ini. Beliau juga berkata: “Sangat jarang waridat itu datang melainkan secara tiba-tiba, agar hamba tidak mengklaim mendapatkannya karena merasa telah memiliki kesiapan). Waridat Ilahiah adalah anugerah dari Allah Ta’ala, serta karamah yang dengannya Dia memuliakan hamba-hamba-Nya. Maka pada umumnya, karunia tersebut tidaklah datang melainkan secara tiba-tiba atau mengejutkan. Hal ini agar para hamba tidak mengklaimnya dan menganggap diri mereka pantas menerimanya karena merasa telah bersiap dan mempersiapkan diri. Padahal, anugerah Allah Ta’ala itu Maha Suci dari diikat oleh suatu sebab (alasan), dan Maha Bersih dari dijadikan imbalan atas amal-amal kebaikan. Sebaliknya, hal itu adalah murni kedermawanan dan keutamaan dari Dzat Yang Maha Dermawan lagi Maha Pemberi Karunia. (Syarah Hikam li Ibni Abbâd al-Nafazî, Juz: 01, hal: 63).

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa makrifat adalah tingkatan tasawuf yang sangat tinggi, sehingga tidak semua orang siap menerimanya. Jika merujuk pada pandangan Abu Yazid al-Busthami dan Sahl bin Abdullah di atas, apabila hati seseorang belum sanggup mengemban anugerah makrifat, maka Allah akan menyibukkannya dengan ibadah lahiriah. Hal ini menunjukkan bahwa baik ahli makrifat maupun ahli ibadah sama-sama menerima anugerah yang disesuaikan dengan kapasitas hati dan kemampuan masing-masing. Selain itu, dalam pandangan Abu al-Abbas al-Dinawari, anugerah berupa wâridât dari Allah sering kali datang secara tiba-tiba. Hal ini bertujuan agar seorang hamba tidak menjadi sombong atau merasa berhak menerimanya hanya karena amal ibadahnya. Anugerah tersebut tidak bisa ditukar dengan amal ibadah manusia yang banyak kekurangannya. Pada hakikatnya, baik khidmah maupun makrifat, murni merupakan rahmat dan keutamaan dari Allah semata, bukan karena upaya hamba itu sendiri. Wallahu A’lam bis Shawab!

 

(Transkip Pengajian Syarah Hikam oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar pertemuan ke – 114 live dari Channel Youtube multimedia kiaimiftach). 

Leave A Reply

Your email address will not be published.