Risalah NU Edisi 67

Rp15,000.00

Description

 NEGARA BUTUH ULAMA: KH. ASYAD SYAMSUL ARIFIN PAHLAWAN NASIONAL

 Risalah NU edisi 67 kembali membahas para tokoh NU yangmenjadi pahlawan nasioanal. Edisi sebelumnya risalah mengangkat KH Wahab Hasbullah yang menjadi pahlawn nasional. Mengapa, karena ini penting selain membarukan sejarah nasional, perlunya para generasi NU untuk lebih mengetahui para tokoh dan pendiri NU telah berjuang dan patut untuk menjadi pahlawan nasional. Lalu, mengapa negara membutuhkan sosok ulama?…

Presiden Joko Widodo seperti plong. Ketika ia meninggalkan sejuta lebih umat yang melakukan istighatsah, maulid nabi serta salat Jumat di Monumen Nasional (Monas), Jumat, 2 Desember lalu, tampak senyumnya mulai melebar, tanpa beban. Tawanya mulai lepas sambil membawa payung berjalan kaki menuju istana. Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, dan sejumlah menteri berdampingan berjalan membawa payung sendiri-sendiri menyeruak semut kerumuman orang. Banyak orang terbelalak kehadiran presiden dan  wakil presiden secara bersamaan yang tidak diumumkan sebelumnya.

Mengenakan baju putih dan peci, Joko Widodo dan Jusuf Kalla ikut larut bersama Jemaah istighatsah. Terkesan, presiden sudah melepas beban berat yang menindihnya sejak kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Kasus itu telah memunculkan gerakan Bela Islam atau Bela Al-Quran atau Bela Fatwa MUI yang tercatat hingga tiga kali dan tak hanya di ibukota saja. Di berbagai daerah gelombang aksi itu juga bemunculan dan bernada keras menekan pemerintah untuk segera menuntaskan kasus penistaan agama itu.

Kecerdikan tim Jokowi yang mengakhir masa kampanye dengan umrah mengajak KH Hasyim Muzadi menjadi nilai tinggi yang cepat mengangkat nama Jokowi yang juga bertekad akan menjadikan hari tertentu sebagai Hari Santri Nasional. Peristiwa 2 Desember ini sebagai langkah klimak Jokowi mengakhiri penentangan atas dirinya dan mengunci rapat citra buruk yang dilekatkan orang lain (baca musuhmusuhnya) dan membentangkan citra kuat keagamaan padanya dengan membangun kedekatan dengan ulama.

Senyum Jokowi kini adalah senyum tanpa paksaan dan beban. Mata dan keningnya yang akhir-akhir menunjuk tekanan yang luar biasa mulai memudar. Kehadirannya salat Jumat bersama membuyarkan anggapan buruk umat tentang dia. Jokowi melakukan komunikasi yang tepat dengan umat dan rakyatnya yang membuat orang terperangah. Dalam langkah itu jelas mengisyaratkan betapa Joko Widodo sangat membutuhkan ulama yang hingga saat ini masih menjadi panutan umat. Ulama-ulama itu ada di NU, MUI, Muhammadiyah, dan lainnya yang selalu menawarkan kedamaian dan kesejukan hidup. Itulah yang kini diharapkan dan dirindukan umat dan bangsa. Membangun Negara dengan hati.

Selain laporan utama, tim redaksi telah menyiapkan rubrik yang menarik lainnya, seperti laporan khusus tentang kongres mulimat NU di Pondok Gede yang kembali memilih Khofifah Indar Parawansa keempat kalinya. Sedangkan pada rubrik alam Islami, kami menyuguhkan tentang suku Rohingya yang terancam pemusnahan dari etnis di Myanmar.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Risalah NU Edisi 67”

Your email address will not be published. Required fields are marked *