RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Sekretaris SC Muktamar ke-35 NU, Prof. Mohammad Nuh menyampaikan bahwa panitia telah mengantisipasi potensi perbedaan dan isu-isu sensitif dengan menyiapkan skema “Pra-Muktamar”. Beliau menyampaikan pentingnya mengelola potensi perbedaan, contohnya yang berkaitan dengan kepesertaan hingga calon ketua, agar tidak berkembang menjadi konflik.
Menurutnya langkah ini diambil sebagai upaya meredam potensi dinamika yang bersifat destruktif sekaligus menyinkronkan seluruh materi pembahasan agar pelaksanaan Muktamar berjalan secara kondusif.
“Satu, kita paham betul ada isu-isu sensitif yang menimbulkan perbedaan, dan kita sepakati muktamar itu adalah forum bertemunya perbedaan sekaligus forum bertemunya persamaan,” ujar Prof. Nuh usai Rapat SC di Gedung PBNU lantai 4, Jakarta, pada Rabu (22/07/26).
Beliau menambahkan bahwa perbedaan di wilayah akademik atau pemahaman seperti pada komisi bahsul masail cenderung aman dan tidak destruktif. Namun, hal-hal yang menyangkut kepemimpinan memerlukan penanganan ekstra dan antisipasi sejak dini.
“Tetapi kalau hal-hal yang terkait dengan kepemimpinan, mulai dari kepesertaan, terus calon ketua, dan seterusnya, itu yang bisa menimbulkan perbedaan tadi itu yang bisa mengarah ke destruktif. Sehingga kami dari awal steering committee itu berusaha mengantisipasinya,” tegas Prof. Nuh.
Oleh karena itu, skema Pra-Muktamar disiapkan sebagai wadah untuk menyelesaikan berbagai perbedaan mendasar sebelum forum utama dimulai.
Selain untuk meredam potensi benturan terkait kepemimpinan, Pra-Muktamar juga difungsikan sebagai sarana sosialisasi hasil Munas-Kombes kepada Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) yang sebelumnya tidak hadir secara langsung. Prof. Nuh menyampaikan tiga tujuan utama dari digelarnya rangkaian Pra-Muktamar tersebut untuk mengolah seluruh gagasan organisasi.
“Jadi tugas tujuannya adalah satu, memperdalam, didalemin lagi, tapi sekaligus diperkaya, terus dielaborasi. Adanya kaitannya dengan komisi yang lain, kita cari irisan-irisannya itu,” katanya
“Pasti antara yang di sini ada irisannya dengan yang sebelah sini, sehingga kita harapkan bisa mampu menjahit sebelum pemikiran-pemikiran yang berkembang itu,” tambahnya.
Mengenai pelaksanaan Pra-Muktamar, Prof. Nuh menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada minggu depan. Penyelenggaraannya pun akan menerapkan skema hybrid, yakni mengombinasikan pertemuan tatap muka langsung di lokasi acara dengan siaran daring untuk menjangkau para pengurus di daerah.
“Nanti mulai minggu depan juga sudah ada, masing-masing komisi sudah punya perencanaan,” ujarnya.
(Anisa)