PBNU Gelar Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 di Depok, Bangun Tradisi Ijtihad Kolektif

0

RISALAH NU ONLINE, DEPOK– Menjelang perhelatan akbar Muktamar ke-35, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan agenda Bahtsul Masail Pra-Muktamar di Pondok Pesantren Cendikia Amanah, Kota Depok, pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Forum kajian keislaman ini secara resmi dibuka oleh Rais Aam PBNU, KH. Miftahul Akhyar, dan akan berlangsung selama dua hari.

Acara tersebut turut dihadiri jajaran Syuriah PBNU, di antaranya Prof. Muhammad Nuh, KH. Muhibbul Aman, dan KH. Moqshit Ghazali. Dari jajaran Tanfidziyah, hadir pula KH. Zulfa Musthofa beserta segenap pengurus PWNU dan PCNU dari penjuru Indonesia.

Dalam tausiyah pembukanya, KH. Miftahul Akhyar menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan wujud kebanggaan organisasi NU. “Di dalamnya terdapat proses penelitian, pentahqiqan, serta mekanisme dalam menjawab ragam persoalan keumatan, baik di ranah maudluiyah, waqiiyah, maupun qanuniyah,” tuturnya. Ia juga mengenang penuturan mendiang KH. Maimun Zubair bahwa di masa lampau, daya tarik Bahtsul Masail menjadi alasan utama banyaknya masyarakat tertarik untuk bergabung dengan NU.

Lebih lanjut, Rais Aam PBNU menyoroti perihal perbedaan pendapat (ikhtilaf) di tubuh NU yang dibahas dalam forum Bahtsul Masail sebagai dinamika perbaikan yang berkesinambungan. Menurutnya, hal tersebut adalah sebuah kenikmatan yang agung (ni’mat udzma). Forum ini secara khusus membahas hal-hal yang bersifat dinamis (mutaghayyirat), bukan sesuatu yang mutlak atau tetap (tsawabit).

“Ikhtilaf sudah ada sejak zaman para sahabat. Keputusan organisasi di awal berdirinya NU diselesaikan lewat jalur Bahtsul Masail. Ikhtilaf adalah sunnatullah, karena jika manusia seragam, tentu tugas manusia itu sudah selesai,” jelasnya, seraya mengutip firman Allah SWT dalam Surah Hud ayat 118: “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang satu. Namun, mereka senantiasa berselisih (dalam urusan agama).”

Sementara itu, Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35, Prof. Muhammad Nuh, menyatakan bahwa agenda pra-muktamar ini merupakan ikhtiar strategis. Tujuannya adalah membangun fondasi serta tradisi ijtihad kolektif yang melintasi berbagai generasi dan disiplin keilmuan.

“Bahtsul Masail merupakan respons kontekstual atas dinamika persoalan masyarakat yang berpijak pada otoritas keilmuan yang sahih. Para pecinta Bahtsul Masail yang hadir di sini adalah penggerak budaya akademik yang mencerdaskan kehidupan umat, menghargai keragaman, dan memperkaya pandangan,” ujar Prof. Nuh.

Sebagai penutup, beliau menegaskan urgensi Bahtsul Masail Pra-Muktamar ke-35 ini sebagai ruang untuk melakukan pendalaman, pengayaan, dan elaborasi materi. Di samping itu, kegiatan ini dinilai sangat krusial untuk memperluas partisipasi publik sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat luas (public awareness). (Khoiron)

Leave A Reply

Your email address will not be published.