
Oleh: Azra Fadillah Ramadhani, SMP UNGGULAN AL-YASINI, Batam
Di sebuah kelas yang hening, hanya suara kipas angin tua yang terdengar, berputar lamban di langit-langit, berdecit pelan menahan beban usia. Udara di ruangan ini lembap- berdebu. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela membuat partikel partikel debu tampak menari di udara. Aku menatap ke arah papan tulis yang penuh coretan pelajaran kemarin. Sebagian huruf-hurufnya telah samar, “kaligrafi” karya teman-teman super kreatif seperti bayangan ingatan yang memudar hilang.
Aku bersandar di kursi, berusaha melawan kantuk. Tapi akhirnya kepala ini tertunduk juga di atas meja. Tak lama, aku terbangun karena suara benda jatuh. Rupanya penghapus yang tergelincir dari sudut meja guru. Aku menatap sekeliling, teman-temanku masih tertidur, ada yang berselimut jaket, ada yang tertelungkup di meja, bahkan ada yang tidur di bawah meja guru.
Aku tersenyum kecil. Di tengah kebosanan jam kosong ini, aku sebenarnya, tak ingin ikut-ikutan tidur. Aku coba membuka buku tebal di laci mejaku, buku yang sudah lama menemaniku, penuh dengan tulisan dan coretan. Menulis selalu menjadi caraku bicara, saat lidahku tak mampu berkata. Setiap kali aku sedih, bingung, atau bahkan terlalu bahagia, aku menulis. Tulisan-tulisanku mungkin belum sempurna, tapi di sanalah aku menemukan diriku sendiri.
Baru dua paragraf kutulis, tiba-tiba suara pintu terbuka dengan keras. “Selamat pagi, anak-anak!” Suara kecil itu membuat semua orang tersentak. Guru Bahasa Indonesia kami, Ustadzah Ana, masuk dengan senyum yang hangat tapi berwibawa. Ia memegang map biru dan sebatang spidol. “Waktunya bangun, ya. Hari ini kita bahas tugas minggu lalu, tugas menulis cerpen.”
Nuansa pulau kapuk di kelas mendadak pudar, rasa kantuk di kelas menguap. Semua mata saling pandang dengan wajah panik. Aku sendiri nyaris lupa kalau minggu lalu kami memang diberi tugas menulis cerpen. “Baik,” kata Ustdzah Ana, “sebelum kita bahas, Ibu ingin mendengar dulu pengalaman kalian menulis cerpen. Siapa yang mau berbagi?”
Tak ada yang angkat tangan, suasana hening. Beliau menunjuk teman sebangkuku, Rafi. “Coba kamu, Rafi.” Rafi berdiri ragu, menggaruk kepala. “Ehm… ,Ustadzah, sejujurnya saya kesusahan mau menulis cerpen. Saya sering bingung harus mulai dari mana. Kadang sudah menulis banyak, tapi ketika dibaca ulang, rasa-rasanya jelek banget, lalu saya hapus. Akhirnya malah nggak selesai-selesai.”
Ustadzah Ana tersenyum bijak. “Itu sering terjadi. Ingat! “Kalau kalian ingin jadi penulis, jangan terlalu banyak mencoret. Jangan terlalu lama berpikir. Semakin sering kalian ragu, semakin kecil kemungkinan tulisan itu selesai.” Aku menunduk. Kalimat itu menembus pikiranku seperti cahaya menembus ruang gelap. “Jangan terlalu ragu!” aku menulisnya di kertas kecil dan menyelipkannya di buku catatanku. Entah kenapa, aku yakin kata-kata itu penting suatu hari nanti.
Tak lama kemudian, Ustadzah Ana memberi pengumuman yang membuat suasana kelas berubah drastis. “Anak-anak, sekolah akan mengadakan lomba menulis cerpen. Hadiahnya besar, dan pemenangnya akan dikirim ikut lomba tingkat kabupaten. Siapa yang mau ikut?”
Kelas yang tadi hening seketika berubah riuh. Semua berebut bicara, bersemangat mau mendaftar. Aku ikut tersenyum. Tapi bukan hadiah yang membuatku bersemangat melainkan rasa penasaran. Apakah mungkin aku benar-benar bisa menulis sesuatu yang berarti? Selepas kegiatan maulid, aku duduk di meja taman baca pondok dengan segelas besar es teh kekinian. Secarik kertas kosong tergeletak di depanku. Aku menatapnya lama. Pena di tanganku belum bergerak. Entah kenapa, setiap kali hendak menulis, kepalaku justru dipenuhi ragu-ragu. “Bagus nggak, ya? “Pakai cerita ini apa menarik? Aduh bakal jelek ini!! Kelebihan ceritaku apa?”
Setelah lama melamun, akhirnya aku menulis. Baris demi baris mengalir, walau terasa kaku. Setiap kali merasa tak puas, aku merobek dan memulai dari awal. Dalam semalam, separuh buku kuhabiskan hanya untuk dicorat-coret, diremas, dibuang tempat sampahku penuh lembaran kertas gagal. Tapi aku tidak menyerah. Sampai akhirnya, aku menyelesaikan satu cerpen sederhana tentang keberanian menghadapi ketakutan. Itu pun dibantu godaan keamanan pondok yang patrol malam.
Keesokan paginya, aku bawa cerpen itu ke sekolah. Aku ingin tunjukkan pada teman-teman, agar mereka memberi masukan. Gayung tak bersambut harapan mendapat masukan, malah menddapat ejekan, Pagi itu, Pia, siswi paling top di kelas datang dengan langkah percaya diri. Dengan senyum manis dan tatapan ramahnya, dia putar kursi meja seberang dan berkata;
“Rana, aku dengar kamu ikut lomba cerpen juga?”
“Iya,” jawabku pelan. “Coba aku baca, boleh?”
Aku sempat ragu, tapi akhirnya menyerahkan kertas itu. Pia langsung berdiri berjalan ke depan kelas dan membacanya keras-keras.
“…Seekor tikus melompat ke wajahnya, dan ia pun jatuh ke sungai!” katanya, lalu tertawa keras. “HAHAHA! Apa-apaan ini? Tikus?! Ini lucu banget! Rana-rana, kamu yakin ini cerpen? ini lelucon!” Tawa teman-temanku pecah. Ada yang menepuk meja, ada yang ikut mengejek. Dadaku panas. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku tercekat. Pia merobek kertas itu berkali-kali “Kalau nggak bisa nulis, nggak usah maksa, deh!” katanya sambil melemparkan potongan kertas itu ke mukaku.
Aku menatap serpihan kertas yang berserakan di lantai. Itu bukan sekadar kertas. Itu adalah malam-malam penuh perjuangan, mimpi kecil yang ingin kubuktikan. Kini, semua hancur di depan mataku. Aku menahan air mata sekuat mungkin. Tapi sesampainya di pojokan yang sunyi, semua emosi tumpah. Aku menangis lama, hingga mataku bengkak. Malam itu aku berkata dalam hati, “Memang aku tidak berbakat”
Namun takdir kadang punya cara unik untuk menepuk pundak kita. Saat aku sedang roan, jumat bersih ala santri, Ustadzah memanggilku, ada telepon penting dari ibu. Telepon dari Ibu “Nak, besok datang ke tempat lombamu. ya. Kamu jadi ikut lomba cerpen, kan? Ibu pengin lihat kamu tampil.” Seketika dadaku sesak. Aku menatap langit-langit kantor pondok dengan muka berkaca-kaca, harap-harap tidak menetes air mataku. Ibu, yang jarang-jarang punya waktu karena pekerjaannya di luar kota, sengaja mengambil cuti hanya untuk menemaniku. Aku tidak bisa mengecewakannya.
Setelah menutup telepon, aku termenung. Lalu mataku tertumbuk pada selembar kertas kecil di sudut meja catatan dari Bu Ratna. “Jangan terlalu banyak mencoret. Jangan terlalu lama ragu.” Kata-kata itu kembali berhasil di pikiranku. Aku mengambil pena, membuka lembar baru, dan mulai menulis. Kali ini aku tidak peduli ceritaku bagus atau tidak. Aku hanya tumpahkan hati di atas kertas, menulis seperti aku sedang berbicara dengan seseorang yang mengerti rasa sakitku.
Malam itu aku menulis tanpa henti. Tak kupedulikan godakan keamanan pondok putri. cerita tentang seorang anak yang jatuh berkali-kali tapi terus bangkit, karena percaya bahwa kegagalan bukan akhir.
Tanpa kusadari, panggilan subuh dikumandangkan sudah ketika titik terakhir kutulis di halaman itu. Aku tersenyum puas. Hari lomba tiba. Aula sekolah penuh dengan peserta dari berbagai sekolah. Suasananya riuh, tapi penuh semangat. Bau kertas, tinta, dan parfum peserta bercampur menjadi aroma khas perlombaan.
Aku duduk di barisan tengah, menggenggam naskah cerpenku erat. Tangan ini gemetar, tapi aku mencoba menenangkan diri. Dari kejauhan, aku melihat Ibu melambaikan tangan. Senyumnya membuatku tenang. Satu persatu peserta maju dan membacakan ceritanya. Ada yang bercerita tentang keluarga, ada yang canda tawa, ada yang perpisahan. Aku mendengarkan mereka dengan takjub, tapi juga dengan rasa debar di dada.
Lalu tiba giliranku. Aku berdiri, berjalan ke panggung dengan langkah pelan. Lampu sorot menyala, membuat wajahku terasa hangat. Aku menatap penonton sejenak, lalu membuka lembaran naskahku. Dengan suara bergetar, aku mulai membacakan cerpenku tentang seorang anak yang takut bermimpi, akhirnya berani karena percaya pada dirinya sendiri. Setiap kalimat kuucapkan dengan hati. Aku tak peduli apakah orang lain akan menyukainya atau tidak. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku.
Aku tersentak tak percaya ketika aku selesai membaca, suasana hening sejenak lalu tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Aku menunduk, menahan air mata. Aku tahu, kali ini bukan karena kasihan. Mereka benar-benar mendengarkanku. Saking terherannya air mata mengalir dari sudut-sudut mata. Ibu berdiri dari kursinya,
tersenyum sambil menepuk tangan tinggi-tinggi Air matanya jatuh, hidungnya merah, Aku tahu, itu air mata bangga.
Pengumuman juara dimulai.“Juara 3… Sekar dari SMPN 2!”, “Juara 2… Jihan dari Mutiara Bangsa!”, Lalu, pembawa acara menarik napas. “Dan juara 1 lomba menulis cerpen tahun ini diraih oleh… Rana dari SMPU Al-Yasini!” Ruangan meledak oleh tepuk tangan. Aku terpaku, tak percaya. Nama itu namaku sendiri baru saja disebut. Aku berjalan ke panggung. Kakiku gemetar, tapi hatiku ringan. Saat piala itu diserahkan ke tanganku, aku tak bisa menahan tangis. Air mata jatuh di atas piala, seperti menandai perjuangan panjang yang akhirnya berbuah manis.
Setelah acara usai, aku berlari ke arah Ibu dan memeluknya erat. “Bu… aku menang.” Ibu tersenyum dan berbisik di telingaku, “Ibu tahu kamu bisa. Karena karya yang lahir dari hati tidak akan pernah gagal.”
Saat kami hendak keluar dari aula, seseorang memanggil namaku. “Rana!” Aku menoleh. Pia berdiri di sana. Wajahnya tertunduk malu. “Rana, aku… mau minta maaf. Aku nggak seharusnya menertawakanmu waktu itu. Aku cuma iri. Kamu punya keberanian untuk menunjukkan tulisanmu, sementara aku nggak. Maaf, ya.” Aku menatapnya lama, lalu tersenyum. “Sudah, Pi. Aku juga sudah lupa. Mungkin tanpa kamu, aku nggak akan sekuat ini.” Kami saling tersenyum, dan untuk pertama kalinya, senyum itu tulus.
Sore itu, aku duduk bersama Ibu di taman sekolah. Angin bertiup lembut. Langit berwarna oranye keemasan. Di tangan kananku, piala kecil itu berkilau terkena sinar senja. “Nak,” kata Ibu pelan, “ingat, karya bukan hanya lukisan atau patung. Tulisan pun adalah karya. Cerita yang lahir dari imajinasi dan kejujuran bisa mengubah banyak hal.” Aku mengangguk. “Iya, Bu. Aku akan terus menulis. Aku ingin membuat orang lain percaya, bahkan dari kessunyiaan, seseorang bisa menjadi juara.”
Sejak hari itu, aku tidak lagi takut pada tawa orang lain. Setiap kali seseorang mengkritik tulisanku, aku tersenyum dan mengucap dalam hati, “Aku menulis bukan untuk kesempurnaan, tapi untuk terus hidup dalam kata-kata.” Aku terus menulis, kadang di buku harian, kadang di secarik kertas kecil, atau di halaman polos belakang
buku pelajaran. Tulisan-tulisanku menjadi sahabat, menjadi saksi perjalanan seorang gadis yang dulu hampir menyerah.
Kini aku tahu, juara sejati bukanlah yang berdiri di atas panggung dengan piala di tangan, menggengam pigura, atau berkalung medali Juara sejati adalah mereka yang berani bangkit dalam sunyi, melawan rasa takut dan rasa ragu mereka sendiri. Seperti aku orang yang merangkul erat kesunyiaan dan berbisik dalam tulisan.