Soal Kuis Ad-Duha Berhadiah Miras, PBNU: Kekhilafan yang Tidak Boleh Terulang

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan tanggapan terkait insiden dalam acara musik The Sounds Project, di mana hafalan Surat Ad-Duha dijadikan challenge kuis berhadiah minuman keras (miras) di salah satu booth sponsor. PBNU menilai kejadian tersebut sebagai bentuk kekhilafan yang tidak pantas dan menegaskan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Ketua PBNU, KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), menyampaikan bahwa perlakuan terhadap ayat suci Al-Qur’an dan penggunaan miras sebagai hadiah merupakan hal yang keliru menurut ajaran Islam.

“Ya tidak boleh terulang. Ya miras kan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi dalam Islam, apalagi itu dijadikan sebagai hadiah ya. Itu tidak pantas ya,” ujar Gus Ulil di Jakarta.

Gus Ulil juga menyoroti ketidakpantasan menjadikan hafalan surah dalam Al-Qur’an sebagai sarana untuk mendapatkan minuman beralkohol.

“Apalagi hadiah untuk, apa namanya, menghafalkan surat Al-Duha begitu. Itu tidak pantas. Tapi sekali lagi, kami yakin atau saya secara pribadi yakin itu tidak disengaja. Tapi itu memang salah. Salah dan tidak boleh dimulai lah hal seperti itu,” tegasnya.

Meski menyayangkan peristiwa tersebut, Gus Ulil meyakini bahwa penyelenggara maupun MC tidak memiliki niat buruk untuk menodai agama. Ia menilai aksi tersebut murni merupakan bentuk spontanitas di tengah suasana acara.

“Dan saya percaya mereka tidak punya niat jahat, niat buruk, atau niat melakukan kekhilafan seperti ini. Jadi ya, kita ingatkan hal seperti itu tidak baik, tidak benar. Karena dia memperlakukan Al-Quran dengan cara yang tidak pantas ya,” tutur Gus Ulil.

Sementara itu, pihak penyelenggara The Sounds Project merilis pernyataan resmi mengenai insiden yang terjadi pada 9 Agustus 2026 tersebut. Mereka mengklarifikasi bahwa aksi tersebut berlangsung di booth milik salah satu sponsor, yakni Newport, dan berada sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, maupun kendali pihak penyelenggara.

“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” tulis manajemen The Sounds Project dalam rilis resminya.

Pihak The Sounds Project menegaskan tidak menoleransi bentuk penistaan agama maupun tindakan yang menyinggung SARA. Sebagai langkah konkret, mereka telah menegur pihak sponsor terkait, mengawal proses identifikasi pihak-pihak yang terlibat langsung untuk diminta pertanggungjawaban, serta melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang.

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.