Malam belum sepenuhnya turun di kota suci Makkah. Di halaman Kakbah, manusia semakin memadat. Suara langkah jamaah terdengar menginjak kerikil-keikil kecil. Angin gurun bergerak perlahan, membawa hawa malam yang lembut.
Di dekat Baitullah itu, seorang lelaki duduk sendirian. Dia Ibrahim bin Yazid at-Taimi. Ulama asal Kufah. Bibirnya tidak banyak bergerak, tetapi hatinya sedang penuh dengan dzikir. Lā ilāha illallāh.
Ia mengangkat pandangan ke arah Kakbah. Bangunan berselimut beludru hitam itu seakan menjadi saksi bahwa di tempat ini, manusia datang dan pergi, sementara Allah tetap menjadi tujuan. Ia melanjutkan tasbih, tahlil, takbir dan tahmidnya. Subḥānallāh… wal-ḥamdulillāh.
Tiba-tiba, di sebelah kanannya, muncul wewangain yang tak wajar yang belum pernah ia cium sebelumnya. Ternyata, seorang lelaki yang ia lirik begitu tampan, mempesona. Ia belum pernah melihat laki-laki setampan ini. Pakaiannya putih bersih, seakan baru saja dicuci air zamzam.
“Assalāmu ‘alaikum.”
“Wa’alaikumussalām,” jawab Ibrahim.
Lelaki itu tersenyum. Ibrahim memperhatikannya beberapa saat. Ada sesuatu yang tidak biasa pada tamu itu.
“Wahai hamba Allah,” katanya, “siapakah engkau? Dan dari mana engkau datang?”
Lelaki itu menjawab dengan suara tenang: “Aku adalah Khidir.”
Ibrahim terdiam. “Khidlir? Balya bin Malkan?”
“Iya.”
“Adakah yang menarik dalam perjumpaan ini?”
Khidir kemudian berkata: “Aku datang bukan untuk sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Aku datang untuk mengucapkan salam kepadamu dan karena aku mencintaimu karena Allah.”
Ibrahim bergetar. Cinta karena Allah adalah sebuah ungkapan cinta yang sangat tinggi. Bukan karena nasab. Bukan karena harta. Bukan karena kedudukan dan apa pun.
Khidir kemudian berkata: “Aku ingin memberimu sesuatu.”
“Apa ini?” sambil mencoba melihat lama wajah Nabi Khidlir yang penuh cahaya.
“Aku memberimu al-Musabba‘āt al-‘Ashr. Wirid sepuluh yang dibaca masing-masing tujuh kali. Amalkan pada pagi dan petang.”
Nabi Khidlir mengajarkan Attaimi untuk membaca surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Kafirun, ayat Kursi, Tasbih tahmid tahlil takbir, selawat, istighfar untuk orangtua dan kaum muslimin dan diakhiri doa. Masing-masing dibaca tujuh kali. Karena itulah disebut Musabba’at Al-Ashr. Doa ini dibaca habis subuh dan menjalang magbrib.
Ibrahim senang. “Wahai Khidir,” katanya, “aku ingin mengetahui sesuatu.”
“Tanyakanlah.”
“Siapakah yang mengajarkan kepadamu amalan ini?”
Khidir menjawab: “Muhammad SAW yang memberikannya kepadaku.”
Ibrahim terdiam. Nama itu membuat suasana seakan berhenti. Sayyiduna Muhammad Rasulullah adalah nama mulia. Nama yang selalu membuat hati orang-orang beriman menjadi lembut.
Ibrahim lalu bertanya: “Jika seseorang mengamalkannya, apa yang akan ia dapatkan?”
Khidir menjawab: “Jika engkau ingin mengetahui pahalanya, tanyakanlah kepada Nabi Muhammad.”
“Kepada Rasulullah?”
“Ya.”
Ibrahim menundukkan kepalanya. Bagaimana mungkin, dalam hatinya.
Malam semakin dalam. Tak lama kemudian, Khidlir pergi sebagaimana ia datang—perlahan, tanpa suara, hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Hanya aroma harum surgawi yang tertinggal.
Ibrahim tetap duduk di tempatnya. Di dadanya tumbuh sebuah pertanyaan besar. Benarkah Rasulullah telah memberikan wirid itu kepada Khidir?
Malam itu, Ibrahim tertidur di serambi Kakbah dengan wajah menghadap kiblat. Ia bermimpi melihat beberapa malaikat datang menyongsong dan menjemputnya menuju surga. Ia melihat keindahan surga yang tak bisa diceritakan, tak mampu digambarkan, dan tak mampu dirasakan dan didengar.
Ia bertanya kepada malaikat itu; “Surga seindah ini diperuntukkan bagi siapakah gerangan?”
Malaikat itu menjawab: “Surga ini disiapkan bagi mereka yang membaca wirid (seperti yang kamu baca dari Khidlir) itu.” Ia sempat menikmati makanan yang ada serta minum air telaga surga.
Tiba-tiba ia melihat Nabi Muhamad SAW, lalu mendatanginya. Rasulullah diiiringi 70 nabi yang masing-masing nabi diiringi malaikat yang panjang iringannya sejauh mata memandang, tanpa batas. Rasulullah bersalam kepadanya dan lalu memegang tangan Ibrahim.
“Wahai Rasululah, Khidlir mendatangi hamba dan memberi hamba bacaan ini yang katanya dari baginda Rasulullah.”
“Benar. Khidlir benar. Apa pun yang diceritakannya adalah kebenaran. Dia orang terpandai di atas jagat. Dia pemimpin para Abdal (wali Abdal). Dia termasuk pasukan Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia.”
“Wahai Rasulullah, bagaimana jika ada orang mengamalan (wirid) ini namun kemudian tak bermimpi masuk surga dan tak jumpa dengan baginda, apakah memiliki keutamaan yang sama?”
Rasulullah kemudian bersabda (dalam mimpi itu). “Demi Zat yang telah mengutusku dengan kebenaran, sesungguh orang yang mengamalkan amalan ini meskipun tak bermimpi melihat surga dan tak melihat aku, dia mendapatkan hal yang sama, diampuni semua dosa besarnya. Allah mengangkat amarah dan pitam-Nya. Malaikat di bagian kiri (yang mencatat keburukan) diperintahkan untuk tidak mencatat keburukan yang dilakukan (pengamal ini) hingga setahun. Demi Zat yang telah mengutusku sebagai nabi, tak seorang pun yang mengamalkannya kecuali dia dijadikan Allah manusia yang beruntung. Bagi yang meninggalkannya (tak mengamalkannya) maka ia termasuk orang yang celaka.”
Menurut Al-A’masy, sejak itu selama empat bulan Ibrahim tak pernah makan dan minum apa pun, namun ia tetap sehat dan bugar.
Hajjaj
Maka tibalah sebuah prahara. Ibrahim Attaimi menyelamatkan Ibrahim An-Nakhai sesama Tabi’in dari Kufah, dari kejaran penguasa Umayyah Hajjaj bin Yusuf. Attaimi dipenjara dan disiksa hingga ia lupa ingatan. Bahkan ia tak mengenali lagi ibunya saat menjenguk. Ibrahim bin Yazid Attaimi wafat tahun 93 H atau 711 M dalam penjara penguasa lalim itu.
Ketika Hajjaj diberi tahu bahwa ia melakukan salah tangkap, ia tak peduli. “Ini semua tipu daya setan,” katanya. Hajjaj kemudian memerintahkan pasukannya agar membuang jasad Attaimi dalam pembuangan sampah (kunasah). Tapi, wangi jenazahnya memerbak Baghdad dan Kufah dan bahkan semesta, hingga nanti.
Dinukil bebas dari Qut Al-Qulub fi Mu’amalatil Mahbub karya Abu Thalib al-Makki (ditulis di Baghdad sekitar tahun 360 H), Jilid 1 halaman 17-19, Maktabah Darut Turats, Kairo, Mesir, 1422H/2001M. Dilengkapi data dari beberapa sumber termasuk Siyar A’lam An-Nubala oleh Adzahabi. (Musthafa Helmy)