Potret Seorang Ulama NU

0

Sosok KH. Achmad Masduqie Machfudh, pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono, Malang sekaligus Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur periode 2002-2007 serta Wakil Rais Syuriyah PBNU saat Ketum PBNU dijabat KH Said Agil Siraj, meninggalkan rekam jejak keteladanan yang luar biasa tentang kehati-hatian (ikhtiyath).

Meski berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), beliau memegang teguh komitmen untuk pantang menafkahi keluarganya dengan uang dari negara. Prinsip ini beliau teruskan dari sang mertua, Kyai Chamzawi Umar, yang meyakini bahwa kas negara berasal dari sumber yang bercampur baur antara yang halal dan yang masih “abu-abu”.

Demi menafkahi keluarga dengan harta yang diyakini seratus persen kehalalannya, kiai kharismatik ini rela melakoni berbagai pekerjaan sambilan. Beliau tak gengsi menjadi pedagang radio kuno bekas, tukang reparasi jam, penjahit celana kolor kodènan, hingga menarik angkot, sementara sang istri turut menopang ekonomi sebagai IRT. Ada sebuah kisah jenaka sekaligus penuh hikmah di era 1970-an. Suatu hari, Kyai Masduqie menyetir bemo sendiri menuju sebuah desa yang mengundangnya ceramah. Di tengah jalan, bemonya distop oleh seorang ibu. Ketika ditanya sang “sopir” hendak ke mana, ibu itu menjawab akan pergi ke sebuah pengajian. Bisa dibayangkan betapa kaget dan canggungnya ibu tersebut saat tiba di lokasi dan menyadari bahwa sopir yang mengantarnya adalah kyai penceramah yang hendak ia dengarkan tausiyahnya!

Uniknya, di balik sikap wara’ (menjaga diri dari syubhat) yang sangat ketat, gaya berpikir Kyai Masduqie sangat progresif dan melek teknologi. Pada awal tahun 1995-an, ketika banyak kalangan pesantren masih awam dengan komputer, beliau sudah terbiasa menenteng notebook computer ke berbagai majelis. Beliau memotivasi para santri untuk memanfaatkan peranti tersebut, khususnya dalam forum Bahtsul Masail, karena sangat praktis untuk memuat ribuan literatur kitab kuning digital.

Lantas, jika gajinya tidak dimakan, untuk apa beliau tetap menjadi abdi negara? Bagi Kyai Masduqie, menjadi aparatur negara adalah bentuk khidmah murni untuk merawat bangsa yang didirikan berkat perjuangan para ulama. Sebagian gaji PNS bulanannya beliau kumpulkan, kemudian dibagikan setahun sekali menjelang Idul Fitri kepada kaum fakir miskin, marbot masjid, imam langgar, hingga para pengurus NU di akar rumput. Sebagian lainnya digunakan untuk membeli bahan bakar minyak kendaraan, yang setiap malam mengaji di berbagai masjid mushalla yang tidak terjangkau kendaraan umum  Prinsipnya “minan nar ilan nar” karena dari gaji yang syubhat (neraka) untuk dibakar jadi api di busi.

Sikap ketat ini beliau berlakukan untuk dirinya sendiri tanpa membebani orang lain. Beliau tak pernah melarang anak atau santrinya untuk berkarir sebagai ASN. Ketika putranya, Gus Achmad Shampton (kini menjabat Kepala Kemenag Kota Pasuruan), diterima sebagai PNS, Kyai Masduqie memberikan tiga pesan emas: niatkan bekerja untuk merawat NKRI karena rezeki sudah dijamin Allah, jangan pernah sombong dan berfoya-foya, serta jadikan bacaan shalawat sebagai wirid harian yang tak terputus. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.