Al-fatihah dan Urgensitas Meminta Hidayah

0

Oleh: Ustadz Agus Mawar, S.Ag., M.Ag., KUMI

 

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ . أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ. فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah s.w.t.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, atas segala nikmat, taufik, dan inayah-Nya, wabil khusus nikmat iman dan Islam, sehingga pada hari yang mulia ini kita masih diperkenankan berkumpul di tempat yang suci ini untuk menunaikan salah satu kewajiban kita, yakni shalat Jumat berjamaah. Shalawat beriring salam, mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw, yang telah membawa risalah kebenaran, membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi, dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan sebenar-benar takwa. Menjalankan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah

Dalam kehidupan umat Islam, wabil khusus bagi mereka yang beriman, ada satu surah dalam Al-Qur’an yang menempati kedudukan yang sangat istimewa dan penting. Surah itu adalah surah pembuka, Ummul Kitab, surah Al-Fatihah. Mengapa surah ini begitu penting? Mari kita buktikan dengan melihat salah satu ibadah wajib kita, yaitu shalat. Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya yang sahih:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada (tidak sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini begitu tegas dan jelas. Dalam ibadah shalat bahkan dalam shalat jenazah sekalipun ruku, sujud, maupun i’tidal memang tidak ada (dalam shalat jenazah), namun Al-Fatihah tetap wajib dibaca. Rukun-rukun lain atau bacaan-bacaan yang mengikutinya mungkin berbeda-beda, akan tetapi, sebuah shalat dihukumi tidak sah manakala tidak membaca surah Al-Fatihah. Jamaah sekalian, lalu timbul sebuah pertanyaan renungan bagi kita, mengapa harus Al-Fatihah? Rahasia apa yang terkandung di dalamnya?

Jawabannya adalah karena di dalam surah Al-Fatihah terdapat satu makna doa yang sangat fundamental, sebuah permohonan yang harus, bahkan wajib, untuk senantiasa dipanjatkan oleh setiap jiwa yang mengaku beriman. Doa itu adalah permintaan akan Hidayah. Setiap kali kita shalat, minimal 17 kali dalam sehari semalam, lisan kita melafalkan ayat ke-6 dari surah Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami (berikanlah kami hidayah ke) jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).

 

Kita memohon, “Ya Allah, berikanlah kami hidayah agar kami dapat senantiasa berada dalam jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.” Lalu, apa wujud dari hidayah itu? Anregurutta Haji Daud Ismail, ulama kharismatik Sulawesi Selatan, dalam tafsirnya yang berbahasa Bugis Lontara, mengupas makna ayat ini dengan sangat indah. Beliau mengungkapkan bahwa ketika Allah Swt ingin menurunkan hidayah-Nya kepada seorang hamba, maka hal pertama yang Allah berikan adalah kecenderungan hati untuk berbuat kebaikan. Ada kepekaan di dalam hati terhadap hal-hal yang baik. Itulah permulaan jalan hidayah.

Sebagai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari; ketika kita sedang berkendara, lalu berhenti di perempatan lampu merah, dan tiba-tiba ada seorang pengemis yang menghampiri meminta sedekah. Secara naluriah, di situlah kadang hidayah itu muncul dalam bentuk bisikan halus di dalam hati, “Saya kasihan melihat pengemis ini, saya mau berikan uang.” Namun, mungkin di saat yang sama muncul kesadaran, “Tapi uang saya hanya sedikit.”

Di sinilah, jamaah sekalian, terjadi pergolakan batin. Mengapa? Karena setan tidak akan pernah senang melihat manusia berbuat baik. Maka, kadang hidayah yang sudah mulai tumbuh itu berusaha dirampas dan disusupi oleh bisikan-bisikan setan, “Ah, tidak usah diberikan! Nanti uangnya mau dipakai beli bensin. Ah, tidak usah, kamu kan belum gajian, nanti saja pas sudah gajian.”

Oleh karena itu, jika kita mendapati kecenderungan hati untuk berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, ketahuilah bahwa itu merupakan sinyal-sinyal hidayah yang Allah berikan. Sambutlah, dan jangan biarkan ia padam oleh bisikan setan.

Berkenaan dengan hal ini, Prof. Dr. Quraish Shihab pernah menegaskan, bahwa hidayah itu bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada di luar Islam lalu ingin masuk Islam. Bukan! Akan tetapi, hidayah itu justru sangat dibutuhkan oleh mereka yang sudah berada di dalam Islam, hidayah untuk membimbing, menguatkan, dan menjaga keimanannya agar tetap teguh di jalan Allah.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Setelah kita memohon hidayah jalan yang lurus, Al-Qur’an kemudian melanjutkan penjelasannya tentang jalan seperti apa dan hidayah milik siapa yang sebenarnya kita minta. Allah melanjutkan dalam ayat ke-7:

 

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” (QS. Al-Fatihah: 7).

Pertanyaannya, siapakah mereka yang telah diberikan nikmat itu? Hidayah seperti apa yang mereka dapatkan? Allah Swt menjabarkan golongan mereka di ayat yang lain, yakni dalam surah An-Nisa ayat 69:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَـٰٓئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Ternyata, hidayah yang kita minta setiap hari adalah hidayah yang pernah Allah berikan kepada para Nabi-Nya, para shiddiqin (orang-orang yang sangat benar imannya), para syuhada, dan orang-orang saleh. Hidayah seperti apa itu? Yaitu hidayah dan petunjuk dari Allah, terutama ketika mereka mendapati dan menghadapi sesuatu yang sangat sulit dalam kehidupan.

Mari kita flashback sejenak pada kisah-kisah sahih para Nabi. Bagaimana hidayah dan petunjuk Allah datang menyelamatkan mereka di saat krisis yang memuncak. Lihatlah Nabi Musa Alaihissalam. Bayangkan posisinya, beliau dan kaumnya dikejar-kejar oleh bala tentara Firaun yang sangat kejam. Di depan mereka terhampar lautan luas, di belakang mereka pasukan bersenjata siap membantai. Maju, tenggelam ke dalam lautan; mundur, mati dibunuh oleh bala tentara. Sebuah kondisi tanpa harapan menurut akal manusia. Namun di saat genting itulah, Allah menyampaikan hidayah dan petunjuk-Nya: “Pukulkanlah tongkatmu ke laut itu!” (QS. Asy-Syu’ara: 63). Maka seketika terbelahlah lautan, menjadi jalan keselamatan bagi Musa dan kaumnya. Itulah bentuk hidayah pertolongan Allah.

Lihat pula kisah Nabi Yunus Alaihissalam. Dalam keputusasaannya karena kaumnya enggan beriman, beliau pergi lalu ditelan oleh ikan besar, dalam bahasa Al-Qur’an disebut Hut. Beliau berada dalam tiga kegelapan: kegelapan malam, kegelapan di dalam perut ikan, dan kegelapan di dasar lautan. Sebuah kesulitan dan kesempitan yang mungkin belum pernah dialami oleh manusia manapun saat ini. Namun, di dalam kegelapan itu, beliau bertobat, bertasbih mengakui kezaliman diri. Sampai akhirnya, Allah berikan hidayah dan pertolongan-Nya, ikan itu memuntahkan Nabi Allah ke daratan dalam keadaan selamat.

Jamaah sekalian,

Itulah hidayah yang kita minta! Hidayahnya para Nabi, hidayahnya para shiddiqin, para syuhada. Bagaimana ketika mereka mendapati kesusahan hidup, Allah selalu hadir memberikan bimbingan dan jalan keluar.

Relevansinya dengan kehidupan kita saat ini sangatlah nyata. Saat ini, ketika kita dihadapkan pada kesusahan, kesedihan, dan ujian yang datang bertubi-tubi silih berganti. Kita diuji dengan masalah ekonomi, harga-harga yang melambung; belum juga ekonomi sepenuhnya pulih, di beberapa daerah kita diuji dengan musibah asap akibat kebakaran hutan; belum selesai urusan asap, diuji lagi dengan kekeringan panjang; belum selesai kekeringan, diuji dengan musibah kebakaran.

Seakan-akan ujian tidak pernah habis. Dan memang benar, jamaah sekalian, kita akan terus diuji sampai penghujung kehidupan kita di dunia ini. Karena dunia ini adalah Darul Ibtila’, tempatnya ujian.

Maka, yang kita butuhkan sejatinya bukanlah kehidupan yang tanpa ujian, karena siapa yang berani hidup, dia harus berani untuk diuji. Tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari ujian Allah. Yang paling kita butuhkan dalam menghadapi rentetan ujian ini adalah bimbingan dari Allah, petunjuk dari Allah, hidayah dari Allah.

Ketika bimbingan Allah berlaku dalam kehidupan kita, ketika hidayah-Nya menyertai setiap langkah kita, maka semua rintangan seberat apapun akan terasa mudah. Semua beban akan terasa ringan, karena kita yakin Allah Sang Pemilik alam semesta menjadi pelindung kita.

Inilah rahasia dan hikmah mengapa kita diperintahkan untuk senantiasa memohon hidayah minimal 17 kali dalam sehari semalam. Bukan sekadar rutinitas bacaan, melainkan sebuah doa penuh harap agar Allah senantiasa menjadi pembimbing utama kita dalam mengarungi ujian kehidupan sehari-hari, hingga kita kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ, وَتَفَعَنِي وَإِيَّكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ, وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَما أَمَر, أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الكريم، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَلِوَالِدِينَ وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللَّهُمَّ آرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتَّبَاعَهُ وَآرِنا الباطل باطلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَا وَ الْمُسلِمِينَ اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانِنَا الْمُسلِمِين المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِينَ اللَّهُمَّ ثَبِّتُ إِيمَانَهُمْ وَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحْدٌ صُفُوفَهُمْ اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ اللَّهُمَّ دَمْرِ لَيَهُودا وَ إِسْرَائِلَ وَشَلَّتْ شَمْلَهُم وَ فَرْقُ جَمْعَهُمْ اللَّهُمَّ انْصُرْ عَلَى الْمُجَاهِدِينَ أَعْدَائِنَا وَأَعْدَاءَ الدِّينِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ السَّلامَةِ وَأَبْوَابَ الصَّحَّةِ وَأَبْوَابَ الْجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيا حَسَنَةِ وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةٍ وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عِبَادَ اللَّهِ, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ, وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.