Khutbah Jum’at: Meneguhkan Kesadaran Eskatologis Dalam Membentuk Orientasi Kehidupan Muslim Yang Bermakna
Oleh : Ustadz Mochamad Ibnu Rusyd Alfarabi B.A
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَيَحْشَرَهُمْ فِى الْمَحْشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعلى أله وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ أَطَاعُوهُ فِيْمَا أَمَرْ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِي قَائِلَهَا مِنَ اَهْوَالِ يَوْمِ الْمَحْشَرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَانَا مُحَمَّدًا صَلَى للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمُ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْجِنِّ وَالْبَشَرِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ, فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَاتَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوا بِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ اِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا خُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَاَنْفَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Marilah senantiasa kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t. atas nikmat dan anugerah yang dilimpahkan kepada kita. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepda Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan ummatnya. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin Dan juga marilah kita tingkatkan taqwa kepada Allah s.w.t. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam menjalankan kehidupan yang fana ini, seringkali manusia lalai terhadap hakikat kehidupan abadi di akhirat kelak. Salah satu faktor yang membuat mayoritas manusia lalai ialah karena ambisi mengejar dunia dan kelalaian dalam mennyikapinya. Maka salah satu pesan Rasulullah S.a.w. kepada kita agar senantia selalu bisa mengingat kematian agar kita tidak lalai dalam menjalani kehidupan di dunia, Rasulullah S.a.w. bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.
Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.
Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karyanya, Nashaihul Ibad Juz 1, halaman 26, mengutip pernyataan Syekh Yahya bin Muadz Ar-Razi terkait ciri-ciri orang-orang yang beruntung.
وَعَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذِ الرَّازِيِّ: طُوبَى لِمَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ، وَبَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ، وَأَرْضَى رَبَّهُ قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ
“Dari Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, sungguh beruntung orang yang meninggalkan harta sebelum harta meninggalkannya, membangun kuburan sebelum ia mamasukinya, dan membuat ridha Tuhan sebelum ia menemuinya”.
Salah satu ciri orang yang beruntung ketika menjalani kehidupan yang fana ini ialah mereka yang bisa membangun kuburan sebelum ia memasukinya, pesan ini secara Lafaz seseorang bisa untuk membangun kuburan yang akan menjadi tempat akhir mereka di atas dunia ini. Atapun secara makna seseorang perlulah senantiasa menyiapkan bekal amal shaleh sebelum dia menghadapi kematian. Sebagaimana Allah S.w.t. berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa “
Banyak diantara kita yang seringkali sibuk menyiapkan segala bekal untuk untuk memenuhi segala kebutuhan hidup yang kita jalani di dunia tapi melupakan bahkan mengabaikan untuk menyiapkan segala kebutuhan hidup yang akan kita Jalani di akhirat kelak. Ketika sedang lapar kita butuh memenuhi kebutuhan perut karena jika tidak kita akan kelaparan bahkan jatuh sakit, namun ketika kita sebetulnya butuh untuk bisa masuk kedalam syurga dengan beramal shaleh karena jika tidak kita akan masuk ke dalam nereka , justru diri kita tidak menyiapkan bekal tersebut bahkan cenderung banyak dari kita yang mengabaikan.
Terdapat 3 Bekal yang Rasulullah s.a.w. sabdakan kepada kita bahwa bekal pahalanya senantiasa tidak akan terputus meskipun kita telah meninggal dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara), yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya.
Ketika perkara ini merupakan sebuah investasi yang sangat bernilai harganya, dimana ketika kita sudah meninggal dunia maka kita sudah tidak bisa beramal ibadah , ibadah shalat , puasa, semuanya telah usai Dan tentu nilai ibadah dan pahala juga telah usai. Namun, bagi yang berinvestasi amalan sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi orang lain serta anak shaleh yang senantiasa mendoakan kita diatas tanah akan senantiasa mengalir pahalanya kepada kita.
Jama’ah shalat Jum’at Rahimakumullah
Bagi seorang muslim kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, jurstu kematian merupakan awal dari kehidupan sesungguhnya. Bukan berarti kita meninggalkan segala perkara di dunia, tidak bekerja tidak berusaha justru bagaimana segala amalan kita bernilai pahala di sisi allah s.w.t.. Tidur kita bernilai ibadah, makan kita bernilai ibadah, kerja kita bernilai ibadah kepada Allah s.w.t.. Sebagaimana firman allah s.w.t. dalam Al-Quran Surat Al- Qasas ayat 77, Firman Allah S.w.t. :
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Sejatinya seorang muslim senantiasa akan mencari karunia allah untuk mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat nanti. Seorang muslim menjadikan dunia ini hanya sebagai tempat persinggahan sementara, untuk menuju kehidupan abadi. Justru, seorang muslim akan senantiasa menjadikan kehidupan dunia ini sebagai kendaraan untuk meraih syurganya allah s.w.t.. Dalam menaiki kendaraan ini tentu banyak ujian dan tantangan yang akan datang kepada setiap muslim. Namun setiap muslim yang mengetahui hakikat kehidupan dunia, mereka mengetahui bahwa segala ujian yang datang adalah cara allah s.w.t. untuk menguji kita agar kita dapat lebih dekat dengan allah s.w.t.. Sebagaimana Sabda nabi Muhammad S.a.w.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ» (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) . وَ«الْوَصَبُ»: الْمَرَضُ
Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa rasa lelah, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan (dari orang lain), hingga perasaan sesak di dada, bahkan sampai duri yang menusuk kulitnya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya karena ujian tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
Jama’ah shalat Jumat rahimakumullah
Tidak ada dari kita yang terlepas dari ujian. Ada yang di uji dengan harta, ada yang diuji dengan keturunan dan ada yang diuji dengan ujian yang berat ataupun ringan, namun ketika seseorang mengetahui hakikat dunia ini fana maka setiap muslim akan memaknai segala ujian tersebut merupakan jalan bagi muslim meraih ridha allah s.w.t.. Sungguh sangat beruntung bagi setiap orang yang mengetahui makna kehidupan dunia ini, sungguh sangat indah melihat muslim yang merasakan nikmat ini. Sebagaimana sabda Rasulullah S.a.w.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.
Hal ini merupakan suatu yang istimewa yang dimiliki setiap Mumin, Keberadaan manusia di dunia tidak akan senantiasa diwarnai oleh kenyamanan atau kelimpahan kesenangan. Ada kalanya individu dihadapkan pada berbagai cobaan dan ujian; terkadang merasakan kebahagiaan, namun di lain waktu mengalami kesulitan. Ujian tersebut dapat berwujud beragam, mulai dari tantangan spiritual, kondisi fisik, persoalan keluarga, hingga terkait materi atau harta benda. Beragamnya musibah yang menimpa manusia sedemikian banyaknya hingga sulit untuk dihitung. Meskipun demikian, bagi seorang mukmin, setiap kondisi dinilai sebagai suatu kebaikan.
Apabila ia ditimpa musibah, ia akan bersabar, dan kesabaran tersebut menjadi suatu kebaikan baginya. Demikian pula ketika ia menerima kenikmatan, ia akan bersyukur, dan hal ini pun menjadi kebaikan baginya. Ketika seorang muslim bisa merasakan nikmatnya anugrah dari allah s.w.t. , allah bimbing jiwanya dapat bersabar dan dapat bersyukur maka sejatinya ia telah mendapatkan rezeki dan anugrah yang luar biasa berharganya. Semoga Allah S.w.t. senantiasa menganugrahkan kepada kita ketenangan, kesejahteraan dan kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat, Aamiin Yaa Rabbal A’alamiin
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَ اعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ