Majalah Risalah NU Edisi 80 – Pesona Dunia Tarekat

Rp22,500.00

Risalah NU edisi 80 mengangkat tema tentang pesona dunia tarekat yakni mengelaborasi tentang hasil Muktamar XII Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri pada 14-18 Januari 2018 di Pekalongan, Jawa Tengah, dan kembali memberikan mandat amanah kepada Habib Lutfi bin Yahya untuk kembali memegang jabatan sebagai Ketua Umum JATMAN.

Description

Kontak Pemesanan
Sdr. Aan di : 0856 4833 3577 (Telp/WA).

Pembayaran
Majalah NU
Bank BRI
No Rekening: 0335-01-001234-300

Risalah NU edisi 80 mengangkat tema tentang pesona dunia tarekat yakni mengelaborasi tentang hasil Muktamar XII Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri pada 14-18 Januari 2018 di Pekalongan, Jawa Tengah, dan kembali memberikan mandat amanah kepada Habib Lutfi bin Yahya untuk kembali memegang jabatan sebagai Ketua Umum JATMAN. Bagaimana ulasannya?…

Selain itu, kami juga membahas peran media NU dalam melahirkan tokoh dan NKRI. Pada ulang tahun NU yang ke-92 juga menandakan ulang tahun media NU yang ke-90. Sebab, sejak tahun 1928, NU telah menerbitkan majalah bulanan bernama Swara NU yang ditulis dalam huruf Arab Pegon (Arab-Melayu) dan berbahasa Jawa Krama Inggil. Selanjutnya tahun 1931 berubah nama menjadi Berita NU yang beraksara latin dan berbahasa Indonesia. Sejak itu pasar media NU meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan NU yang masuk ke mana-mana di wilayah Nusantara.

Penerbitan majalah NU tak bisa lepas dari KH A Wahab Chasbullah, seorang pemimpin yang visioner. Dari tangannya biaya penerbitan dan prakarsa konten mengalir. Dan kemudian dipertemukan dengan tokoh muda Mahfudz Shiddiq dan Abdullah Ubaid yang mengelola media NU generasi kedua.
Majalah NU telah melahirkan sejumlah tokoh. Hampir semua menteri agama yang diajukan NU pernah mengelola media NU selain KH Masjkur dan KH A Wahib Wahab. Mantan pengelola media NU ada tiga orang yang kemudian menjabat Ketua Umum PBNU: Mahfudz Siddiq, Muhammad Dahlan dan KH A Wahid Hasyim. Ada tiga orang yang kemudian menjadi Rais Am; KH A Wahab Chasbullah, KH Bisri Syanusri dan KH Ahmad Siddiq.

Artinya media NU menjadi kawah candradimuka kader-kader NU. Dari sini muncul kader-kader yang dikenal masyarakat. Sehingga pantaslah jika kali ini kita mengenang keikhlasan mereka mengelola media NU yang secara tidak langsung memiliki andil besar dalam membesarkan NU. Kami tinggal meneruskan apa yang telah mereka rintis.

Sangat mengagumkan ketika KH A Wahab Chasbullah mengeluarkan dompetnya untuk membiayai majalah Swara Nahdlatoel Oelama. Mbah Wahab, demikian ia dipanggil, memang seorang visioner yang melampaui pemikiran para kiai di zamannya. Mengapa NU memerlukan media, karena media menjadi prasyarat sebuah organisasi untuk menjadi besar dan dihargai.

Artinya, media NU menjadi kawah candradimuka kader-kader NU. Dari sini muncul kader-kader yang dikenal. Sehingga pantaslah jika tahun 2018 ini kita mengenang keikhlasan mereka mengelola media NU. Prof. KH Chotibul Umam, H. Danial Tandjung, KH Chalid Mawardi, Baidhowi Adnan, Zen Badjeber adalah saksi mata yang masih ada ketika secara tidak langsung media ikut memiliki andil besar dalam membesarkan NU.
Selain itu pula, tim redaksi menyajikan rubrik yang tidak kalah menariknya seperti pengajian tasaawur, taqorub, nusiana, annisa, dan lain sebagainya.

Additional information

Weight 1 kg

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Majalah Risalah NU Edisi 80 – Pesona Dunia Tarekat”

Your email address will not be published. Required fields are marked *