Oleh: Rifa Alfian ( Santi Ponpes Al-Badriyah 2 Al-Hikmah, Kediri)
Namaku Rifa Alfian. Tapi di pesantren, semua orang memanggilku Ian. Aku seorang santri yang hidup dalam ritme sederhana, dalam kehidupan yang mungkin tampak biasa-biasa saja di mata orang lain, tapi penuh makna bagiku yang menjalaninya.
Setiap hari aku bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Udara dini hari selalu menusuk kulit, membuat setiap percikan air wudhu dari sumur tua terasa seperti pisau es yang menusuk tulang. Namun entah mengapa, dinginnya justeru membangunkanku, seolah mengingatkan bahwa perjuangan menuntut ilmu tidak pernah dimulai dengan kenyamanan.
Mushola pesantrenku lumayan kecil, berdinding papan, beratap seng yang meneteskan air ketika hujan turun. Namun disitulah hati kami merasakan ada kenyamanan dan ketenangan. Setiap langkah kaki para santri menuju mushola seakan membawa harapan. Setiap suara adzan yang menggema seolah menggugah semangat untuk kembali menata niat.
Di tempat itulah aku merasa hidupku menemukan makna. Dikelilingi kitab-kitab tua yang berdebu, suara kiai yang teduh dan penuh hikmah, serta teman-teman seperjuangan yang sama-sama menapaki jalan panjang dalam menuntut ilmu dan adab.
Pesantren kami bukanlah pondok yang besar dan megah. Bangunannya sederhana, asramanya sempit, dan dapurnya sering kali hanya berisi panci besar penuh nasi dan sayur bening. Tapi justeru di balik kesederhanaan itu tumbuh ketenangan dan kenyamanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
***
Rutinitas yang Menjadi Nafas
Hidup sebagai santri berarti hidup dalam keteraturan yang terus berulang-ulang. Subuh sebelum fajar, kami berbaris di depan sumur. Kadang harus antre panjang dan berebut ember. Kadang kami bercanda sekadar mengusir kantuk. Setelah wudhu, kami shalat berjamaah, lalu duduk bersila menunggu kajian pagi.
Di hadapanku terbuka kitab kuning. Tinta di dalamnya sudah mulai pudar, pinggir-pinggir halamannya penuh catatan penjelasan kiai. Ada kepuasan luar biasa ketika aku berhasil memahami satu kalimat Arab yang panjang dan rumit. Bagiku, huruf-huruf itu bukan sekadar tulisan. Mereka adalah warisan ulama berabad-abad lalu dan jejak ilmu yang menyambung sampai ke Rasulullah .صلى الله عليه وسلم
Setelah kajian pagi selesai, kami bergegas ke sekolah formal hingga siang. Setelah kembali ke pondok, kami mulai menghafal, menyetorkan hafalan, dan malamnya ditutup dengan pengajian. Kadang tubuh ini lelah, mata berat, bahkan ingin menyerah. Tapi di balik lelah itu selalu ada ketenangan batin yang sulit digambarkan. Seolah pondok mengajarkanku bahwa keteraturan bukan belenggu, melainkan jalan menuju keberkahan dan keberhasilan.
***
Dunia di Balik Pagar Pondok
Namun, di luar pagar pesantren, dunia berlari sangat cepat. Aku menyadarinya setiap kali pulang ke rumah saat liburan. Anak-anak seusiaku sudah terbiasa dengan ponsel canggih. Mereka bicara tentang aplikasi, media sosial, bahkan berita internasional yang baru terjadi beberapa menit lalu.
Aku merasa seperti berasal dari masa lalu. Bagiku, berita adalah apa yang disampaikan kiai setelah pengajian atau tertulis di dalam kitab. Aku bahkan tidak memiliki ponsel kala itu. Kadang sepupuku menertawakanku.
“Masih pakai kitab lusuh? Sekarang semua ada di internet, Ian!” ujarnya sambil tertawa.
Aku hanya tersenyum. Dalam hati, aku berbisik, “Kitab ini bukan sekadar teks. Ia adalah doa, ilmu, dan keberkahan yang tak akan pernah bisa digantikan oleh layar kaca.”
Namun jauh di dalam hati kecilku, terselip satu pertanyaan yang menakutkan: Apakah aku akan tertinggal oleh zaman?
***
Tamu dengan Ponsel Ajaib
Suatu hari, seorang alumni datang berkunjung ke pondok. Ia duduk di serambi musholla sambil mengeluarkan ponselnya. Dengan luwes ia menunjukkan kepada kami sebuah aplikasi Al-Qur’an digital. Ada kitab tafsir, terjemahan Al-Qur’an, bahkan audio lantunan qari dari berbagai negara.
Aku menatap layar itu dengan campuran kagum dan khawatir. Di satu sisi, ia memudahkan. Namun, di sisi lain, aku merasa ada jarak. Al-Qur’an dalam mushaf bisa kucium, bisa kuraba bentuknya, bisa kuteteskan air mata di atasnya. Bagaimana mungkin benda bercahaya itu bisa menggantikannya?
Alumni itu seolah membaca isi hatiku.
“Zaman berubah, Ian,” katanya sambil tersenyum. “Kamu tidak harus meninggalkan kitab. Tapi kamu juga jangan menutup diri.
Kalimatnya sederhana, tapi terngiang lama di kepalaku.
Aku teringat firman Allah Swt yang artinya:
“Dialah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya.”
(QS. At-Taubah: 33)
Aku merenung. Jika Islam ditakdirkan tetap berjaya dalam setiap zaman, berarti perubahan bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
***
Pandemi yang Mengguncang
Lalu datanglah pandemi. Pondok-pondok terpaksa ditutup sementara, kajian tatap muka dihentikan. Semua berpindah ke dunia maya. Ayah membelikanku sebuah ponsel sederhana.
“Kamu harus tetap belajar, Ian. Jangan biarkan ilmu berhenti hanya karena keadaan,” katanya.
Hari-hariku berubah drastis. Aku belajar membuka aplikasi Zoom, mengirim hafalan lewat rekaman suara, berdiskusi lewat grup WhatsApp. Awalnya aku kikuk. Suaraku sering hilang saat video call, kameraku buram, dan aku sering salah menekan tombol.
Namun sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa. Aku sadar, keberkahan ilmu tidak hilang hanya karena medianya berubah. Selama niatnya tetap benar dan adab kepada guru tetap dijaga, ilmu akan tetap bercahaya. Ponsel hanyalah jembatan, bukan pengganti.
Aku teringat sabda Nabi Saw yang artinya:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadits itu terasa hidup di masa pandemi. Kami, para pencari ilmu akan tetap terus menuntut ilmu meski harus melalui gawai. Karena yang terpenting bukan bagaimana kita belajar tapi bagaimana hati kita dalam menerima ilmu itu.
***
Pergulatan Batin
Meski begitu, pergulatan batin tak pernah berhenti. Beberapa temanku mulai lebih suka kitab digital. “Lebih cepat, lebih praktis,” kata mereka.
Aku gelisah. Bukankah kitab kuning itu ruh pesantren? Bagaimana jika suatu hari ia terlupakan? Kegelisahanku terjawab dalam pengajian malam ketika Kiai Sholeh berbicara lembut:
“Ian, kitab tetaplah kitab. Apakah ia tercetak di kertas atau tampil di layar, ilmunya sama. Keberkahan datang dari hatimu yang ikhlas menuntut ilmu. Jangan takut pada zaman. Santri harus menjaga tradisi, tapi juga mampu menghadapi perubahan.”
Kata-kata itu menyentuh hatiku. Sejak hari itu aku belajar membuka hati. Aku tetap menulis dan memaknai kitabku dengan tinta dan tangan, tapi aku juga belajar mencari referensi- referensi lewat aplikasi yang ada di gawai. Aku tetap mendengar setiap penjelasan guruku dengan seksama, tapi aku juga mendengarkan chanel keilmuan melalui akses media sosial
Aku teringat firman Allah Swt yang artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah “iqra’” tidak membatasi pada media. Bacalah, di kertas, di layar, di mana pun selama engkau menyebut nama Tuhanmu.
***
Kesempatan dan Rasa Minder
Suatu hari, pesantren kami mendapat undangan mengirimkan perwakilan dalam seminar Santri Milenial di sebuah kota. Aku yang dipilih. Itu adalah pertama kalinya aku benar-benar melihat dunia luar dalam bentuk yang begitu megah.
Santri-santri dari pesantren modern tampil percaya diri. Mereka mengenakan jas rapi, berbicara dalam bahasa Inggris fasih, dan presentasi dengan slide penuh warna. Aku menunduk, minder dengan sarungku yang lusuh dan kitab kuning yang kusam di tanganku.
Ketika giliranku tiba, aku menarik napas panjang dan memutuskan untuk berbicara apa adanya. Aku menceritakan kehidupan pondokku, tentang kitab kuning, tentang pentingnya sanad ilmu, dan tentang bagaimana kesederhanaan yang membentuk ketangguhan hatiku.
Aku kutip sabda Nabi Saw :
“Para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud)
Aku sampaikan bahwa para santri adalah bagian dari mata rantai pewarisan ilmu itu. Dan tugas kami bukan hanya menjaga ilmu masa lalu, tetapi juga menyampaikannya dengan cara yang dapat dipahami manusia pada masa kini.
Tak kusangka, audiens mendengarkan dengan khidmat dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepadaku.
Aku pulang dengan hati yang bergetar. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak ketinggalan. Mungkin karena aku memegang sesuatu yang tak dimiliki oleh kebanyakan orang di luar sana.
***
Menemukan Jalan Dakwah Baru
Pengalaman itu mengubah cara pandangku. Aku mulai berani mencoba hal-hal baru. Dengan bimbingan ustadz, aku membuat kanal YouTube sederhana. Isinya tidak seberapa: rekaman kajian singkat, setoran hafalan, atau penjelasan pelajaran dari papan tulis reyot di kelas.
Awalnya aku ragu. Siapa yang mau menonton? Tapi ternyata ada. Bahkan suatu hari ada komentar dari luar Jawa:
“Terima kasih, Mas Ian. Kajianmu menenangkan hati saya.”
Aku membaca komentar itu dengan mata berkaca-kaca. Selama ini aku mengira pondok hanyalah dunia kecil yang terbatas oleh pagar bambu. Ternyata, lewat teknologi, suara seorang santri di desa bisa terdengar hingga ke pelosok negeri.
Aku sadar, dakwah tidak selalu berarti berdiri di mimbar tinggi. Dakwah bisa hadir dalam video sederhana, dalam tulisan di media sosial, bahkan dalam potongan suara yang dikirim lewat pesan singkat.
***
Percakapan di Bawah Bintang
Suatu malam, ketika liburan pondok, aku duduk bersama ayah di teras depan rumah. Langit penuh bintang, angin malam berhembus pelan.
“Ian,” tanya ayah lirih, “kamu tidak menyesal jadi santri? Teman-temanmu banyak yang sudah bekerja, memakai jas, naik mobil. Sementara kamu masih sibuk dengan kitab kuning.”
Aku terdiam sejenak, lalu menatap wajah ayah dengan penuh keyakinan.
“Tidak, Yah. Justru aku bangga. Karena aku tahu, ilmu pesantren tidak akan hilang. Dengan teknologi, aku bisa menjaganya sekaligus menyebarkannya. Menjadi santri bukan berarti tertinggal. Justru kami sedang menyiapkan masa depan.” Ayah menepuk bahuku sambil tersenyum.
“Kalau begitu, teruslah di jalanmu, Ian. Jangan ragu.”
Ketika itu rasanya semangatku lebih membara dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena aku sudah paham bahwa jalan yang sedang kulalui tidaklah mudah.
***
Kesadaran yang Menguat
Kini aku berdiri di persimpangan zaman. Satu kakiku menjejak kuat di tanah tradisi pesantren, satu kaki lainnya melangkah ke jalan modernitas. Aku tidak ingin memilih salah satu. Aku ingin merangkul keduanya.
Aku mengerti bahwa waktu akan selalu berganti. Aplikasi terus berkembang, teknologi semakin canggih, kegiatan belajar mengajar mulai disistem daring. Namun, terdapat banyak hal yang harus kita jaga, seperti tata krama seorang santri kepada kiai, ketekunan dalam belajar, cinta terhadap ilmu, dan keikhlasan hati dalam menuntut ilmu.
Semua itu merupakan tradisi pesantren yang perlu kita pelihara dan kita pertahankan meskipun era telah beralih ke digitalisasi.
Firman Allah Swt
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan zaman bukanlah musuh, akan tetapi sebuah ujian, apakah kita mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri di era yang serba digital ini?
Dan aku yakin: iya.
Aku, Rifa Alfian, santri yang akrab dipanggil Ian, bukan hanya penjaga masa lalu. Aku adalah penyiap masa depan. Karena menjadi santri sejati bukanlah tentang memilih antara kitab kuning atau layar ponsel, antara musholla atau ruang virtual, tetapi tentang menyatukan tradisi dan perubahan dalam langkah yang penuh dengan keikhlasan.
***