Riuh dalam Rumah Itu…

0

Oleh : Maryam Ishmah Mumtazah (Mahasiswi IIQ, Jakarta)

Pojok depan ruangan kelas di jam kosong perkuliahan terasa sangat pengap dan panas. Salma mengacak-ngacak puncak kepalanya. “Nggak, Ren. Aku nggak bisa. Masih ada opsi lain selain aku,” ngototnya. Kepalanya tak henti menggeleng-geleng. Sementara posisi tangannya tak juga bisa diam.
“Hei, hei, ayolah. Kamu setahun ini udah dipercaya jadi ketua angkatan. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Nggak mungkin kan, kita terus-terusan berjalan tanpa arah? Kasihan adik tingkat kita nanti,” rayu Rena. Ia terus memberikan argumen untuk meyakinkan sahabatnya itu.
“Aku.. dari kecil tinggal di pesantren, Ren. Aku nggak tahu banyak tentang dunia luar. Apalagi di sini, kita juga tinggal di asrama. Sama aja kayak pesantren,” keluh Salma. Ia mendaratkan pantatnya ke lantai. Sudah lelah berjalan mondar-mandir sedari tadi.
“Kita di sini lulusan pesantren semua, Salma! Apalagi aku, enam tahun belajar di pesantren salaf Al-Qur’an khusus Perempuan,” kilah Rena. Ia tak berhenti melemparkan bujukan.
“Tapi…”
“Aku temenin kamu. Kamu bisa angkat aku jadi sekretarismu,” potong Rena cepat. “Please, kita butuh seseorang yang mengalah.”
“Gak ada penolakan,” tukas Rena kemudian dan berbalik arah. Kembali menuju ruang kelas yang sengaja mereka tinggal untuk diskusi kecil tersebut.
Salma mendesah panjang. Pikirannya berkecamuk. Dalam separuh jiwanya, rasa takut dan tak siap masih bergerumuh. Namun, ia sudah tak berminat lagi untuk bernegosiasi. Memilih pasrah dengan keputusan yang mereka ambil. Mungkin, Rena benar. Harus ada yang mengalah untuk mulai melangkah.
***
Institut Darun Najah Mafaza. Institut dengan konsentrasi Al-Qur’an swasta terbaik yang ada di kota Fath. Salma Naila Iman, Renata Firliya, dan empat puluh tiga orang lainnya
termasuk beruntung mendapat beasiswa penuh dari pemerintah untuk berkuliah di sana. Lengkap dengan kebutuhan hidup dan tempat tinggal di pesantren. Menjadi yang pertama mendapatkan beasiswa legendaris di perguruan tinggi tersebut adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi mereka. Apalagi, kampus mereka adalah satu-satunya kampus khusus perempuan yang mendapatkan cucuran program beasiswa untuk para santri pilihan setelah berjalan lebih dari dua puluh tahun ini.
“Organisasi Santri Berprestasi atau OSB adalah organisasi wajib yang mewadahi para santri dari penerima beasiswa ini. Ada OSB Nasional dan OSB tiap perguruan tinggi. Dan masing-masing akan dipimpin oleh satu Ketua Umum. Kalian harusnya bersyukur sudah diberikan organisasi yang memiliki relasi nasional.”
Ya, OSB. Itu yang sempat menjadi huru hara dalam kampus Salma. Sebagai anggota baru dalam beasiswa tersebut, sama sekali belum terbangun OSB dalam kampus mereka. Belum ada pergerakan selama setahun belakangan. Salma sendiri menganggap diangkatnya dia sebagai ketua angkatan adalah sebuah kecelakaan. Saat itu, hanya karena dia menjadi peserta terbaik dalam kegiatan pengkaderan OSB.
“Teman-teman, mohon perhatiaannya,” pecah Rena dalam hiruk pikuk kelas mereka. “Kalian pasti sudah pada tahu, kalau kita punya tanggung jawab OSB. Kita memang sama sama baru kenal apa itu OSB. Bahkan tidak tahu sama sekali. Tapi, bukan berarti kita akan terus diam dan tertinggal dengan perguruan tinggi lainnya. Jadi, hari ini, kita akan mulai tentukan siapa yang akan menjadi ketua umum kita. Dari aku, aku pilih Salma. Ada yang setuju atau mau mengajukan diri?”
Hanya keheningan yang Rena dapatkan. Bahkan, beberapa ada yang tak peduli. Fokus dengan handphone masing-masing atau mempersiapkan untuk presentasi makalah berikutnya. Salma menggigit bibir. Ini baru permulaan. Tapi, antusias mereka tidak terlihat. Bagaimana jika betulan dia yang akan memimpin mereka?
“Kayaknya kamu juga deh, Ren, kandidatnya. Kamu suka barengin Salma ikut kegiatan OSB kampus lain, kan, biasanya. Kayaknya kamu lebih tahu dari kami,” usul Ira.
“Okey, aku setuju. Salma sama Rena. Ada lagi?” Wafda pun bersuara. Tetap hening yang tersisa di ujung kalimat Wafda.
“Kayaknya udah, ya. Salma, Rena. Siapa pilih Salma?” tukas Wafda. Meski agak lama, acungan tangan akhirnya juga banyak terangkat.
“Siapa pilih Rena?” lanjut Wafda.
Salma tak banyak berkomentar lagi. Dari sana, sudah terlihat bahwa kemenangan berpihak padanya. Kecelakaan untuk kedua kalinya.
“Okey, Kalau gitu. Salma Naila Iman sebagai ketua umum OSB kita, dan Renata Firliya jadi sekretaris umum kita. Gimana? Setuju?” putus Wafda.
“Dan Wafda Bahiyah jadi bendahara umum kita. Setuju?!!” seru Ira.
“Hah? Gimana? Aku?” bingung Wafda. Ia celingak-celinguk seraya telunjuknya mengrah pada dirinya sendiri. Namun, belum sempat ia mengelak, seruan setuju sudah menggema dari seantero sudut kelas.
“Setuju!!!”
***
Merintis suatu hal baru memanglah tak mudah. Merekrut dua puluh lima orang anggota pengurus OSB itu juga harus melewati jalanan panjang nan terjal. Butuh bujukan dan rayuan juga penggabungan hasil observasi kemampuan dalam setahun kebersamaan.
“Sal, emang kita sanggup? Udahlah ngafalin Al-Qur’an, kuliahnya tafsir Al-Qur’an, setiap malam kita juga ada pengajian di pesantren. Mau nambah lagi organisasi yang lingkupnya se-Nasional ini? Kamu aja, deh, Sal. Aku nggak mau keteteran.”
Alasan penolakan yang sering Salma terima dari mulut setiap orang yang hendak diajaknya bergabung dalam kepengurusan. Mendapatkan dua puluh lima orang adalah pencapaian tersendiri bagi Salma, Rena, dan Wafda.
“Buat apa ada OSB? Nambah-nambahin kegiatan kita aja. Lagian mau kayak gimanapun kita bakal kalah sama mereka yang universitas negeri. Kita, mah, udah institut, swasta, perempuan semua lagi isinya. Udah gitu, belajar apa? Tafsir Al-Qur’an. Nyalaf banget kita,” komentar pedas semacam itu sudah tak asing lagi di telinga Salma setiap mereka menjalankan program kerja kepengurusan OSB.
Kalau saja tidak ada ancaman bahwa OSB adalah organisasi wajib yang bisa mempengaruhi proses pencairan beasiswa mereka, tentu akan lebih sulit lagi mengompakkan teman-temannya itu untuk mengikuti program kerja yang sudah dirancang.
“Kamu cuma bisa marahin kita, Sal. Kemarin kamu juga gak ada di sana, kan. Kamu nggak tahu kondisinya gimana. DEMA emang lebih penting buat kamu daripada OSB!” drama dengan kata-kata menohok seperti ini pun tak jarang tak terhindarkan. Keaktifan Salma dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa kerap menjadi masalah ketika kegiatan keduanya terjadi bentrokan.
“Bukannya OSB nggak penting. Aku ikut DEMA juga buat OSB. Biar bisa mempelajari bagaimana jalannya organisasi di lingkungan Institut Darun Najah Mafaza ini.” Tak satu dua kali Salma memberikan penjelasan tentang hal tersebut.
“Jangan samain kita sama DEMA, Sal. Kita masih baru. Nggak usah kaku-kaku napa,” timbul komentar baru lagi.
Dan, begitulah. Perintisan OSB dan berbagai konflik yang terjadi di dalamnya. Khawatir, bimbang, kalut tak terarah yang terus mengalir dalam setiap detak perjalanannya.
***
Tarikan tipis bibir terbentuk. Ketakutan, kekhawatiran juga kebingungan di hari-hari itu masih bisa dirasakan Salma. Ia menggeser layar laptop. Menampilkan tangkapan gambar dari kejadian lain. Potret tiga panggung megah yang berbeda. Juga tiga anggota OSB kampus mereka. Duta Hijab Indonesia, Duta Mahasiswa Antikorupsi, Duta Santri Nasional. Bahkan, salah satu di antara mereka menjadi yang pertama menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dalam satu angkatan di kampus mereka. Pencapaian yang datang bahkan di usia tiga bulan berdirinya OSB mereka.
“Kalau nggak dipaksa, mereka mana mau coba, ya, Sal,” celetuk sebuah suara. Salma menoleh. Rena.
“Ah, iya,” angguk Salma. Kembali menyentuhkan jarinya ke tanda panah di atas keyboard.
Biru jernih Danau Toba menjadi pemandangan selanjutnya. Salma, Rena, Wafda menjadi objek manusia yang berada di sana. Membawa bangga bendera OSB kampus mereka. Setelah melalui seleksi ketat dengan OSB di perguruan tinggi lainnya, tiga orang dari OSB mereka justru mendapatkan kesempatan fully funded untuk melaksanakan volunteer di Danau Toba. Tak menyangkanya lagi, menjadi peserta terbaik yang akan membawa hadiah besar untuk OSB mereka. Pencapaian di bulan kelima.
“Gak nyangka, sih, bisa sampai sana,” gumam keras Salma.
“Yah… Kangen nggak sih?” tanggap Rena pula.
Berikutnya, baju kerawang khas Aceh nan cantik menjadi aura mengesankan sekaligus membanggakan di foto yang ada. Ditambah dua personil mereka ada yang menggunakan dobok khas korea. Itu saat pertama kalinya mereka menampilkan tari saman berpadu kesenian pencak silat taekwondo dalam pagelaran besar. Ulang tahun organisasi mereka yang ke setengah abad.
“MasyaAllah! Ternyata, tak hanya bisa membaca Al-Qur’an dengan tujuh ragam Qira’at, mahasiswi Institut Darun Najah Mafaza juga bisa membawakan tari saman dan bela diri ya!”
Ya, sebelumnya mereka memang menampilkan sesuatu yang tentu menjadi ciri khas mereka. Al-Qur’an dan qiro’atus sab’ah. Pujian hari itu beserta tepuk tangan serta sumringah dari orang-orang penting pemerintahan masih tersimpan rapi dalam hati Salma begitupun semua anggota lainnya. Pencapaian delapan bulan mereka.
Perguliran gambar selanjutnya yang paling membuat Salma dan Rena semakin bersemangat.
“Grand launching Darun Najah Hijab!” seru mereka bebarengan.
Proses perancangan dan produksi yang cukup lama. Pun diwarnai tatapan ragu dari berbagai pihak. Siapa sangka justru menuai banjir sambutan penuh meriah. Pembukan Pre Order pertamanya saja tembus lebih dari seribu pesanan. Bahkan, kosumen dari kawan di Malaysia ikut memesan brand hijab mereka.
“Kita.. Udah sejauh ini ya?” celetuk Salma.
“Setahunnya seru banget, ya, Sal? Kalau mau dilanjut lihat fotonya, gak bakal kelar kelar, sih,” tanggap Rena.
“Iya, lagi,” tawa Salma. “Udah deh. Yuk tidur.”
“Besok Demisioner. Hahahaha!” Rena tertawa, tapi suaranya terdengar sedikit berat, seperti tahu bahwa esok, rumah kecil mereka tak lagi sama.
***
“Dengan ini sidang musyawarah besar kepengurusan Organisasi Santri Berprestasi Institut Darun Najah Mafaza 2024/2025 dinyatakan ditutup.”
Tok. Tok. Tok. Begitu palu terakhir berbunyi, Salma spontan berdiri, memberikan tepuk tangan yang paling keras.
“Alhamdulillah…. We did it, guys!!!” teriak Salma disambut sorakan beserta pelukan membaur bersama. Menyalurkan kehangatan penuh lega, haru, juga bangga.
Siapa bilang perempuan dari pesantren hanya bisa mengaji? Kami tumbuh, bertukar mimpi, menulis jejak yang tak bisa dihapus lagi. Di rumah kecil yang penuh riuh itu, mereka belajar, bahwa pesantren dan perempuan mampu melangkah sejauh apapun yang mereka yakini. Seberapa kesungguhan ikhtiyar yang mereka jalani. Dan sekuat apa istiqomah dalam kepasrahan terhadap ilahi.
***

Leave A Reply

Your email address will not be published.